IRIndonesia

Interfaith Relationship Indonesia

SHARE December 20, 2010

Page ini buat teman-teman yang mau membagi kisah nyata atau link menyangkut hubungan antar iman. Untuk kisah yang menarik akan dimuat setelah melewati proses penyuntingan terlebih dahulu. Jika kisah telah dimuat, kisah yang terdapat dalam page ini akan dihapus.

 

6 Responses to “SHARE”

  1. Indriani Says:

    Tuhan selalu punya rencana indah untuk kita lewati…
    Tuhan selalu punya rahasia dalam kehidupan ini…
    tapi…sebelum kita bertemu dengan rencana Tuhan yang indah itu…
    kita harus melewati proses yang begituu sangat jauh diluar bayangan kita…

    Pacaran beda agama….
    mungkin adalah proses yang harus dilewati sebelum kita bertemu rencana Tuhan yang indah itu…

    di awal pasti sangat indah…
    tapi…jika berada di titik jenuh dan harus berakhir, pasti sangat menyedihkan…

    15 bulan kami bersama….
    awalnya sangat begitu indah….
    sampai kami berada di titik akhir, dan kami bertemu dengan situasi yang mengharuskan kami berpisah…

    2 minggu diawal berpisahan, ak selalu menyalahkan adanya “perbedaan” yang tidak bisa kami samakan…
    selalu dan selalu menyalahkan….
    tapi berjalan nya waktu ak tersadar…
    ternyata Tuhan mempertemukan kami dan ada hal yang perlu kami pelajari…
    dan Tuhan memisahkan kami pun ada hal yang perlu kami pelajari…

    tersadar…Tuhan memisahkan aku dengan dia karena Tuhan mendengarkan setiap doa dalam sholatku…
    Tuhan memisahkan aku karena Tuhan tau bukan dia yang ak butuhkan…
    ada makhluk Tuhan lain yang memang ak butuhkan kehadirannya…

    sulit kenyataannya jika berpisah…
    tapi inilah yang harus aku jalani…
    seberat apapun, sesulit apapun perubahan dalam hidupku, ak yakin ak bisa melewati ini semua dengan baik….
    ak yakin, Allah pasti memberikan yang terbaik buatku…

    ak yakin, kekuatan doa sangatlah dahsyat…
    berdoalah…
    memintalah pada yang tepat..
    besabarlah, suatu saat Tuhan pasti menjawab doamu…

    banyak cara yang dilakukan, tapi yakin tujuan kita hanya pada sang pencipta…Tuhan yang menciptakan segala sesuatu di muka bumi ini…
    termasuk keceriaan dan airmata ini, Tuhan lah yang menciptakan…

    Pertemuan dengan nya yang beda keyakinan dengan ku, juga sangat aku yakini, klo ini adalah Tuhan yang menciptakan…
    perpisahan ini juga Tuhan yang menciptakan….
    ambil makna positif dalam setiap rencana Tuhan…
    mudah-mudahan kita akan jadi pribadi yang lebih baik…

    dan TOLONG HARGAI PERBEDAAN YANG ADA DIANTARA KAMI…

    SELAMAT NATAL BUAT YANG MERAYAKAN, MERRY CHRISTMAS & HAPPY NEW YEAR….

    (maab jika ada kata yang tak berkenan, saya hanya menuangkan apa yang ada dikepala saya, dalam sebuah ocehan ini….)

  2. Susan Says:

    Saya sedang menjalin hubungan dengan seorang pria yang berbeda agama…dari awal sebenarnya saya tidak ingin menjalani hubungan ini, tapi pacar saya begitu yakinnya kita bisa sama-sama meskipun saat itu kami masing2 berpikir tidak mungkin untuk meninggalkan iman kami.

    Satu tahun saya bergumul dengan perbedaan ini, sampai akhirnya saya bertanya kepada pasangan saya, akan dibawa kemana hubungan ini dan hal yang mengejutkan saya, dia bilang mau mengikut agama saya, saat itu perasaan saya sangat bahagia (dia meminta waktu paling lama 3 tahun untuk belajar agama saya, dan saya setuju). Selama 1 tahun ini dia menemani saya beribadah (saya tidak pernah menemaninya beribadah karena tidak mengerti ritual agamanya) dan yang juga mengejutkan saya, saat ulang tahun kami (ultah kami hanya berbeda 2 hari) dia mengajak saya berdoa sesuai dengan iman percaya saya. Saya benar2 terharu saat itu, dan mantap untuk berjuang bersama-sama.

    Sampai akhirnya saya menemukan sebuah forum tentang pacaran beda agama jika dipandang dari agama saya. Dari sini lah saya mulai ragu untuk melanjutkan hubungan ini. Mata saya terbuka bahwa waktu 3 tahun itu sangat sedikit untuk memperjuangkan hubungan kami di depan keluarga, melembutkan hati keluarga kalau kami hanya ingin bahagia dengan orang yang disayang. Blm lagi harus mengubah mainset seseorang ttg dokrin ke-Tuhan-an yang selama ini dia percayai dan blm tentu setelah mempelajari agama saya dia mengerti dan mau menerima iman barunya.

    saya mempunyai pertimbangan dan kekhawatiran sendiri, antara lain :
    1) Saya ragu pacar saya bnr2 mau mengikut agama saya (pikiran negatif saya ‘jgn2 dia hanya berusaha menyejukkan hati saya agar ttp bersamanya’ blm lagi mengingat keluarganya yang tergolong sangat fanatik)
    2) Saya takut kalaupun akhirnya dia mengikut agama saya itu hanya karena dia ingin mendapatkan saya menjadi istrinya (dan bukan tidak mungkin setelah menikah dia kembali ke agamanya)
    3) Saya takut membayangkan betapa murkanya keluarganya jika mengetahui anak pertamanya yang dibanggakan keluarga berpindah agama, saya takut mereka tidak menyukai saya dan tidak merestui hubungan kami (pastinya) blm lagi jika ada usaha2 dari keluarga untuk memisahkan kami. Rasa2 nya sangat menyedihkan jika kita tidak diterima oleh keluarga dari orang yang kita sayang.

    Saya tidak berani mengambil risiko2 di atas, sepertinya saya lebih siap kehilangan dia dan memilih untuk menangis berhari-hari selama 3 bulan daripada harus menangis seumur hidup karena risiko2 di atas.

    Tapi saya juga tidak tahu bagaimana menyampaikan kegundahan saya ini kepada pasangan saya melihat keteguhan hatinya dan ketulusannya menyayangi saya. Saya takut dia tersinggung dan saya tahu sampai kapan pun dia tidak pernah mau melepaskan saya (berkali-kali saya memutuskan hubungan ini, tapi dia tidak pernah mau karena dia yakin hubungan kami bisa diperjuangkan).

    Sekarang saya hanya bisa berdoa agar Tuhan melembutkan hati kami, agar kami tidak egois dan lebih peka terhadap maksud Tuhan dalam hidup kami.

  3. Lia Says:

    Saya bukan orang yang mempunyai banyak pengalaman dalam menjalankan hubungan interpersonal. Namun, di tahun 2007 yang lalu membuat saya merasakan adanya cinta pertama saya di usia yang ke 18. Baru pertama kali untuk merasakan cinta, saya harus dihadapi dengan persoalan perbedaan iman. Hampir 7 bulan berteman, saya dan pria yang 10 tahun lebih dewasa daripada saya itu sama-sama merasakan kenyamanan. Namun, kami sama-sama ragu untuk menjalin suatu komitmen karena perbedaan tersebut. Akhirnya, kami memutuskan untuk berteman saja meski kami tau bahwa masing-masing punya perasaan yang sama, yaitu nyaman dan saling menyayangi. Ternyata, perasaan sayang itu semakin berkembang karena kami juga masih saling bertukar cerita dan pergi bersama.

    Setelah satu tahun saling kenal, kami pun akhirnya berpacaran dengan lewat ‘jalur belakang’. Kedua orang tua kami tidak tahu menahu tentang ini karena kami terlalu takut untuk terbuka. Kami pun menjalani apa adanya dengan rasa ikhlas. Bagi saya, manusia diciptakan memang berbeda-beda. Meskipun kita berpacaran dengan orang yang seiman, toh akan tetap mempunyai perbedaan dalam hal yang lain. lagipula, perbedaan tidaklah selalu dipaksa untuk menjadi sama. Oleh karena itu, untuk apa takut berhubungan dengan orang yang berbeda prinsip selama masih sama-sama nyaman?

    Namun sayangnya, tepat 1 tahun kurang 27 hari, kami mengakhiri hubungan kami karena dia akan menikah tiga bulan lagi. Karena usianya yang sudah cukup matang, maka orang tuanya mendesaknya untuk segera menikah dan jodoh sudah disiapkan. “Aku sulit memilih antara perasaan dan kewajiban…” begitulah katanya kepada saya saat ia berpamitan sebelum pergi melamar calon pendampingnya. Kami memang tidak pernah punya tujuan hingga ke jenjang pernikahan, namun tidak dapat dipungkiri bahwa hati saya tetap saja terpukul. Satu-satunya cara untuk mengobati sakit ini adalah IKHLAS, begitulah pesan terakhirnya kepada saya.

  4. andre Says:

    Agama ibarat kita menemukan aksesoris idaman di pasar taman hiburan, tentunya kita sangat menyukainya, begitu pula dengan pribadi lainnya, adapun; kita boleh dan bebas memilih aksesoris agar nampak indah dipandang orang lain, sedangkan kita adalah sama, manusia yang sama, kesamaan tak ingin disakiti.

  5. sainthonore Says:

    Saya g pernah ngerasa pede dgn hubungan beda agama ini. Saya g berani bercerita soal ini ke keluarga. Saya hanya bilang sedang berpacaran, tp g pernah bercerita secara mendetail tentang beda agama. Pandangan teman2 sekantor makin menambah berat situasi ini.

    Sebenarnya dari awal dia sudah mengungkapkan keseriusanna. Soal pernikahan, soal anak kami nantinya, soal dia yg bakal saya paksa memasak untuk kami sekeluarga (soalnya saya g bisa masak.. lmao). Tapi saya g yakin soal itu. Apalagi posisinya yg jauh dr kota tempat saya tinggal, juga perbedaan waktu yg menambah sulit dalam berkomunikasi. Jarang telpon, sms g pernah, chatting susah. Intinya, komunikasi kami tidak lancar. Ragu? Pastilah.. Yg bisa saya lakukan cuma menunggu dia menghubungi. Serasa wanita panggilan ..haha

    Bukanna Tuhan itu satu, dan semua agama itu baik adana??


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s