IRIndonesia

Interfaith Relationship Indonesia

Cinta saat berbeda menyebut nama Tuhan June 4, 2013

Filed under: Esai — IRIndonesia @ 3:50 pm
Tags: ,

Kamu tentu tahu aku mencintaimu.
Hingga aku harus melawan semua norma yang ada
Hingga aku harus menutup telingaku.
Pada setiap cercaan dan makian

Kamu pasti mengerti.
Banyaknya masalah yang harus aku salami.
Hanya untuk bersatu denganmu.
Untuk bisa merengkuh setiap jengkal pelukmu.

Kamu pasti memaklumi jika aku mencintaimu.
Walau tasbih ku berbeda dengan kalung salib mu.
Walau kitabku berbeda dengan kitab bacaanmu.
Salahkah perbedaan itu sayang?

Dosakah kita jika hanya ingin memperjuangkan cinta?
Patutkah cinta kita dibela saat semua orang berkata hina?
Ceritakan pada mereka, sayang. Bahwa kita bahagia.
Katakan pada mereka, sayang. Bibir kita tak berdusta.

Bibirku dan bibirmu tak seperti bibir mereka.
Yang senang merajam sumpah serapah.
Yang senang menuduh jenuh.
Ceritakan pada mereka tentang kebahagiaan kita.
Biarkan mereka diam membungkam!
Biarkan mereka bungkam!

Sajak yang ku buat.
Setelah ayahku menyiksa tubuh mungilku.
Karna tahu tentang cinta yang aku sembunyikan selama ini.
Cinta yang berbeda saat menyebutkan nama Tuhan.

Kami hanya membiarkan cinta kita berkembang.
Berkembang tanpa batas.
Norma yang menghalangi.
Norma pula yang memisahkan.

Disudut kamar gelap dengan berteman sepi.
Angin malam yang berhembus lewat jendela.
Seakan menjadi teman.
Saat air mataku jatuh tak dapat lagi dibendung.

Semakin malam semakin teringat.
Setiap siluet tubuh nya.
Yang sekarang tak dapat ku temui.
Hanya dapat memeluk bayang semu dirinya.
Aku ingin bertemu kamu.
Ingin berdoa bersama-sama.
Meski kita berbeda.
Berbeda dalam menyebut nama Tuhan.

Malam ini, 4 Agustus 2011.
Aku hanya bisa melamun, terdiam.
Sosok dirimu semakin menjadi nyata di otakku.
Memuatku terbuai dalam lamunanku mala mini.

Terlintas dilamunan saat aku dan dia berdoa bersama.
Dimana perbedaan tak dijadikan masalah.
Tuhan kami sama.
Hanya berbeda saat menyebutnya.

Saat itu, 5 Juni 2011.
Saat pertama kami berdoa bersama.
Berdoa kepada Tuhan yang sama.
Karna kami telah bersatu.

“Aku percaya kepada allah. Bapa yang maha kuasa. Khalik langit dan bumi. Kepada Yesus kritus. Anaknya yang tunggal Tuhan kita”

Ucap kekasihku.
Disudut sepi sebuah gereja yang kudus.
Semua orang yang ada disitu.
Berdo’a dengan khusu nya.

“Bismillahirrohmanirrohim, alhamdulillahirabbilalamin”

Lembut nya suaraku itu mengalun.
Menambah suasana khidmat saat itu.
Ketenangan didapat.
Seakan berbicara sendiri bersama Tuhan.

“Yang dikandung dari Roh Kudus, lahir dari anak Dara Maria. Yang menderita sengsara di bawah pemerintahan Pontius Pilatius, Disalibkan, Mati, Dan dikuburkan, turun ke dalam kerajaan maut”

Lanjut kekasihku dengan mata tertutup.
Dia seakan sangat menikmati.
Persekutuannya dengan Tuhan.
Mendengar pengakuan iman rasuli dari bibirnya.

“Arrahmanirrohim, malikiyau middiin”

Bibirku itu masih saja mengimit haru.
Membayangkan Tuhan sedang menatapku.
Wajahku yang begitu cantik bercahaya.
Seusai dibasuh oleh air wudhu.

“Pada hari ketiga, bangkit pula dari antara orang yang mati. Naik ke sorga, duduk di sebelah kanan Allah. Bapa yang maha kuasa. Dan disana Ia akan duduk menghakimi orang yang hidup dan mati”

Perlahan-lahan kekasihku itu semakin tenggelam.
Dalam suasana kudus dan menyegukkan.
Seakan tubuhnya sedang dipeluk seseorang.
Dengan begitu hangat.

“Iyya kana’buduwa iyya kannas ta’im. Ikhdinassiratall mustaqiim”

Aku mengarahkan hatiku pada Tuhan.
Tuhan semakin tersenyum lebar.
Melihat umat-Nya Semakin mencintai-Nya.
Dan menyadari keberadaan-Nya yang nyata.

“Aku percaya pada rok kudus. Aku percaya pada gereja dan am, Persekutuan orang kudus. Pengampunan dosa. Kebangkitan daging, dan hidup yang kekal”

Hatinya bergetar, bibirnya berkata-kata.
Kekasihku merasakan kehadiran Tuhan disisinya.
Kekasihku merasa Tuhan sangat dekat dengannya.
Bahkan merasa Tuhan sedang memeluknya.

“Siratalladzi na’an am ta’alaihim ghairil maghdu bi’alaihim waladzolim. Amin”

Aku mengadahkan kepalaku.
Hatiku bergetar dengan hebat.
Aku rasakan kembali kehadiran-Nya.
Bahkan sangat lekat.

Kekasihku menduduki bangkunya.
Sambil menatap liturgi tempat ibadah.
Hatinya berbicara.
Hatinya mendesah.

“Lindungi kekasihku, yang sedang berada di mesjid kali ini, Tuhan. Percayalah, dia juga mencintai-Mu. Dia hanya menyebut namaMu dengan sebutan yang berbeda.”

Akupun mengucap surat Al-Ikhlas.
Hatiku tergetar.
Doa yang lirih.
Terdengar dari hatiku.

“Ya Allah, kekasihku sedang berada di gereja, apa kau tahu? Diapun juga mencintai-Mu sama seperti aku. Meski tempat ibadah nya berbeda dengan tempat ibadahku.”

Kekasihku melanjutkan ibadahnya.
Memuji Tuhan dengan hati tulusnya.
Aku bersujud menyembah.
Memuja Tuhan dengan hati yg seluas samudra.
Dalam hati kami.
Kami mengemit resah.
Meminta restu kepada-Mu.
Tuhan kami meski berbeda sebutan.

“Apa Tuhan melihat kisah kita? “

Suara petir yang begitu keras.
Petir yang bergemuruh.
Membuyarkan lamunanku.
Tentang doa ku dan doa kekasihku.

Aku menangis.
Meratapi kisah cinta yang menyedihkan.
Aku mengenal kembali kesepian.
Karna ayahku mengurungku di kamar kumuh ini.

Kamar gelap yang sangat lekat dengan kesepian.
Sangat lekat dengan kesendirian.
Kesedihan dan air mata seakan menjadi sahabatku sekarang.
Kegelapan membuatku semakin prihatin dengan keadaanku.

Hujanpun turun dengan derasnya.
Apakah kamu merasakan rinduku?
Yang turun bersama turun bersamaan dengan hujan.
Dan mengetuk genting rumahmu dengan air hujan ini.

Aku hanya bisa terdiam.
Didepan jendela kamarku.
Berharap kamu datang.
Membawa kebahagiaanku kembali.

Aku terlalu menikmati malam.
Pagi datang dengan cepat.
Ayah menggedor pintu kamarku.
Rasa takut bergelayun didalam diriku.

Ayah mendobrak pintu dengan keras.
Ayah menyiksaku.
Ayah tidak ingin aku ada komunikasi.
Dengan kekasih yang aku cintai.

Suara ayah yang menggelegar di setiap sudut kamar.
Membuatku menangis sejadi jadinya.
Ayah seperti penjajah belanda yang ingin menjajahku mati-matian.
Aku lemah tak berdaya.

Ayah meninggalkan aku.
Hanya ada handphone, Al-Qur’an dan alat sholat.
Matahari sudah tepat ada diatas rumahku.
Aku lekas tayamum.
Ayah mengunci kamarku.
Debu di sekitar kamar menjadi jembatan saat ini.
Agar aku bisa bercerita kepada Tuhan.
Tuhan yang maha pengasih lagi maha penyayang.

Aku sangat khusu saat berhadapan dengan nya.
Tak kuasa aku serahkan seluruh ragaku hanya untuk-Mu.
Aku menyelesaikan ibadahku untuk-Mu.
Aku mengadahkan tangan dan bercerita bersamamu.

“Ya Allah biarkan aku merasakan kebahagiaanku kembali bersama kekasihku. Kami sama-sama menyayangi-Mu. Mencintai-Mu. Tuhan kami sama. Tuhan kami engkau. Kami hanya mempunyai sebutan masing-masing untuk menyebut namanu. Biarkan kami bersama kembali ya Allah. Amin”

Handphone ku berbunyi membuatku tersentak.
Telepon dari seseorang yang aku tunggu.
Kekasihku!
Aku mengangkat nya.

Aku rindukan suara ini.
Suara yang membuatku merasakan ketenangan.
Dia memanjakan ku meski hanya lewat udara.
Senyum ini muncul kembali.

Tuhan mendengar do’a ku.
Tuhan hadirkan dia meski hanya lewat udara.
Tuhan sayang kepada kami.
Sayang kepadaku dan kekasih ku.

Aku terkejut!
Belum semua rindu yang aku sampaikan.
Komunikasi terputus.
Aku menunggu telepon nya bordering kembali.

Menunggu.
Aku hanya bisa menunggu.
Tanpa menghiraukan apapun.
Tanpa memikirkan apapun.

Hari ini, 7 Agustus 2011
Tiga hari sudah berlalu.
Tak ada kabar dari kekasihku.
Maka tak ada sedikitpun senyum dibibirku.

Aku melihat ayah pergi dari jendela kamarku.
Aku tenang karna aku tak akan merasakan linu di tulangku.
Karna ayah tak akan menyiksa tubuh mungilku ini.
Yang sudah banyak memar karna siksaan ayah.

Dedaunan jatuh seakan tak ada dahan yang membuatnya tertahan lagi.
Burung enggan berkicau seakan ikut berduka karna keadaan ku akhir-akhir ini.
Bahkan matahari pun enggan muncul akhir-akhir ini.
Hanya hujan yang ada seakan bumi dan cuaca tau apa yang aku rasakan.

Aku mendengar seperti ada bunyi seseorang yang mengetuk pintu.
Aku buka pintu kamarku yang tercipta dari kayu tua.
Yang mengeluarkan decitan saat aku membuka nya.
Aku bergegas keluar dari kamar gelap yang selalu menemaniku.

Aku menuruni anak tangga yang seakan rindukan pijitan kakiku di tubuhnya.
Aku bergegas menuju suara ketukan pintu itu.
Aku membukanya dan ternyata pak pos.
Menyampaikan surat dari kekasihku.

Aku berterimakasih dan bergegas pergi ke kamar gelapku lagi.
Aku takut ayah tahu aku menerima sepucuk surat dari kekasihku.
Aku mengunci kamarku dan aku menyiapkan diriku.
Untuk membacak sepucuk surat dari kekasih kesayanganku.

“Tiga hari yang lalu suaramu mengalir begitu lembut dari sambungan telepon seluler. Entah sudah berapa minggu kita tak bertemu. Entah sudah berapa hari aku dan kamu terpaksa tak saling menatap dan memandang. Karna takdir sedang memainkan perannya. Karna nasib sedang meneguhkan langkahnya. Aku dan kamu tak bisa apa-apa. Terutama saat semua orang menganggap kita salah. Terutama saat aku dan kamu dianggap melanggar norma agama, saat kita layaknya tahanan cinta yang menyerah pada hukum agama. Terang takan pernah bisa menyatu dengan gelap.

Kau ingin tahu satu hal tentangku? Aku sangat merindukanmu. Aku rindu saat kamu menungguku di depan gereja seusai misa pagi. Aku rindu saat kita makan mie ayam kesukaan kita. Aku rindu saat menunggu mu selesai sholat di mesjid. Aku rindu melihat wajah cantik mu yang terlihat bercahaya seusai membasahinya dengan air wudhlu. Aku suka senyum mu yang bersimpul dibalik bibir mungilmu. Sungguh aku sangat rindu pertemuan kita, aku sangat rindu menghabiskan waktu bersamamu. Dan entah mengapa kebahagiaan itu semakin pudar saat hadir orang-orang yang tak mengerti dan tak paham dengan keadaan kita. Maukah kau katakana pada mereka yang membenci kita? Bahwa sebenarnya kita bukan pendosa. Maukah kau meyakinkan mereka? Bahwa aku dan kamu tak sehina yang mereka pikirkan. Haruskah kita mengakhiri semua yang nyatanya kebahagiaan selalu hadir didalam hubungan kita? Haruskah kita menyerah pada persepsi yang mengatakan bahwa kita salah? Haruskah kita berpisah karnah kita berbeda agama? Apa salahku dan apa salahmu?

Aku mengenalmu sebagai sosok yang tegar dan kamupun mengenalku sebagai sosok yang gigih. Selama kita bersama tidak pernah terlihat air mata jatuh setitikpun. Tapi, ternyata pada akhirnya kita menyerah, menyerah pada takdir yang awalnya mempertemukan kita dan akhirnya memisahkan kita. Apakah hatimu patah? Apakah sayap-sayapmu yang dulu sempat memelukku juga patah? Apakah ada air mata yang luruh dari matamu yang indah? Aku tak tahu mengapa norma agama harus membedakan kita. Sehingga aku dan kamu memiliki sekat dan jarak, membuat kita terlihat tak lagi sama, membuat kita terpaksa berpisah. Sebenarnya apa salahku dan apa salahmu? Karna kita tak pamer kemesraan semerti pasangan-pasangan tolol lainnya. Kita juga tak membuat video mesum sebab terjadinya zinah. Kita tak melanggar norma asusila, tapi kenapa dimata semua orang kita terlihat seperti sampah?
Sayang, sungguh aku tak ingin tersiksa seperti ini. Sungguh aku tak ingin perpisahan kita menjadi sebab tangisku dan tangismu. Aku ingin semua seperti dulu. Aku ingin tawa renyah mu dan senyum manismu menghiasi mozaik hari-hariku. Kebahagiaan kita terenggut oleh sesuatu yang kita sebut norma. Sesuatu yang seharusnya mengatur tapi malah menyakiti kita. Sebenarnya mereka yang menyalah kan kita adalah mereka yang tak benar-benar mengenal kita. Tugas cinta adalah menyatukan, salahkah jika cinta menyatukan kita yang berbeda? Bukankah kita hanya saling jatuh cinta? Bukankah kita hanya makhluk kecintaan Tuhan yang belajar untuk menyentuh cinta? Apa yang salah, sayang? Katakan apa yang salah!!

Aku menulis surat ini sesaat sebelum pengakuan dosa. Pastor sudah berada didalam ruangan. Aku masih diluar masih menormalkan frekuensi detak jatungku yang kian menit tak berirama. Dengan menulis ini mungkin aku bisa sedikit tenang. Aku mungkin akan bercerita banyak pada pastor, air mataku mungkin akan kembali menetes, dan berkali-kali mungkin aku akan mengulang cerita yang sama, cerita tentangmu. Didalam ruang pengakuan dosa, mungkin aku akan mengakui banyak dosa yang sudah aku lakukan. Dan mungkin dosa yang ku akui pertama kali adalah mencintaimu. Mencintai dosa termanisku.”

Aku hanya bisa diam.
hidup ini sungguh aneh dan tidak adil.
suatu kali hidup melambungkan mu setinggi langit.
kali yang lainnya menghempaskan begitu keras ke dasar bumi.

aku menyadari dia adalah satu-satunya.
yang paling aku butuhkan di hidup ini.
kenyataan berteriak lain di telingaku.
kalau dia juga satu satunya orang yang tidak boleh aku dapatkan.

kata-kata ku mungkin tidak masuk akal.
bahkan konyol tapi percayalah.
aku rela melepaskan apa saja melakukan apa saja.
asal bisa bersamanya.

tetapi apakah manusia bisa mengubah kenyataan?
kalian tahu? satu-satunya yang bisa ku lakukan sekarang.
hanya keluar dari hidupnya.
aku tidak melupakan dirinya.

tetapi aku harus melupakan perasaanku padanya.
walaupun itu berarti aku harus menghabiskan sisa hidupku.
mencoba melakukannya, pasti butuh waktu lama.
sebelum aku bisa menatapnya.

menatapnya tanpa merasaskan apa yang kurasakan setiap kali aku melihatnya.
mungkin suatu hari nanti.
aku tidak tau kapan rasa sakit ini akan hilang.
dan baru kamu akan bertemu kembali.

sekarang saat ini saja.
untuk beberapa detik saja.
aku ingin melupakan semua orang.
mengabaikan dunia.

melupakan asal usul serta latar belakangku.
tanpa beban, tuntutan, ataupun harapan.
aku ingin mengaku.
aku mencintainya.

Kamar gelap terpojok di bagian atap rumahku.
Tempat dimana aku hanya bisa terdiam tanpa sepatah kata pun.
Aku tak peduli saat orang-orang menganggapku gila dan tak waras.
Karna hanya dengan diam aku bisa tenang menerima kenyataan.

Tuhan. Kau yang menciptakan dia dengan segala kuasa-Mu.
Kau yang takdirkan aku bertemu, bersama,berdoa dan menjalani semuanya.
Jika pada akhirnya takdirmu pula yang memisahkan.
Biarkan aku sendiri berteman dengan sepi.

Biarkan aku lupa dengan sendirinya.
Sampai aku kuat keluar dari kamar dimana aku menenangkan diri.
Meski kita terpisahkan karna norma agama.
Tuhan tau dan akan selalu tau bahwa kita saling mencinta.

Aku belajar menghilangkan perasaanku kepadanya.
Bukan melupakannya hanya menghilangkan.
Aku ingin tetap menjalani hidup.
Ini saatnya aku bangkit dari hidup yang baru saja melemahkan aku.

Saat senja berganti malam.
Dan bulan berganti matahari.
Langit menjadi cerah.
Tuhan menatapku dengan senyuman.

Ayam yang berkokok seakan bernyanyi dengan irama nya.
Embun membasahi dedaunan seakan menyegarkan kehidupanku lagi.
Aku tersenyum dengan lebar.
Aku sambut hari baru dengan keceriaan.

Hari baru tanpa ada kekasihku yang berbeda saat menyebut nama-Mu.
Hari baru tanpa sepi dan kelam nya malam.
Hidup akan terus berjalan dan Tuhan pasti berikan aku yang terbaik.
Selamat tinggal masalalu, selamat datang kebahagiaan.

Sumber dari sini.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s