IRIndonesia

Interfaith Relationship Indonesia

Argumen: Nikah Beda Agama September 13, 2012

Filed under: Esai — IRIndonesia @ 8:35 pm
Tags: , ,

Oleh: Saidiman Ahmad

Ketegangan antar-pemeluk agama di Indonesia tak kunjung mereda. International Crisis Group (ICG) mengidentifikasi setidaknya enam penyebab ketegangan agama di Indonesia, khususnya Islam-Kristen. Melalui laporannya tanggal 24 November 2010, ICG menyebut bahwa salah satu penyebab ketegangan itu adalah karena isu Kristenisasi. Isu inilah yang dijadikan alasan kelompok-kelompok Islam garis keras bergerak menghimpun massa dan melakukan teror. Cara ini ditempuh untuk menghambat Kristenisasi dan pada saat yang sama, sebenarnya, adalah juga untuk melakukan Islamisasi. Ada semacam perlombaan antar-agama untuk mencari pengikut sebanyak mungkin. Saya tidak paham, apa signifikansi pengikut yang banyak bagi suatu agama?

Tapi baiklah. Isu perlombaan mencari pengikut ini kemudian merambah ke hubungan sesama manusia. Tulisan ini hendak mengemukakan satu contoh hubungan antar manusia yang tercederai oleh persaingan memperbanyak pengikut ini. Contoh yang saya kemukakan adalah penikahan beda agama. Belakangan ini, pernikahan beda agama, oleh sebagian kalangan, dicurigai sebagai bagian dari misi penyebaran agama. Yang menjadi persoalan adalah bahwa kalau pun ini adalah bagian dari misi penyebaran agama, kenapa mesti dipersoalkan? Bukankah pernikahan adalah lembaga yang netral di mana masing-masing pihak bisa berebut pengaruh? Suami, istri, bahkan anak sama-sama bisa menjadi agen perekrut pengikut agama. Seorang suami bisa mempengaruhi istri dan anaknya untuk mengikuti keyakinan agamanya. Istri juga bisa melakukan hal yang sama: mempengaruhi suami dan anaknya. Pada saat yang sama anak juga bisa mempengaruhi keyakinan agama orang tuanya.

Ketakutan dari pernikahan beda agama sebetulnya muncul dari rasa tidak percaya diri yang sedemikian parah terhadap agama sendiri. Agama sendiri dianggap tidak cukup punya argumentasi untuk menghadapi kekokohan argumen agama lain. Akibatnya, muncul persepsi bahwa jika seorang Muslim menikah dengan non-Muslim, maka sudah pasti sang Muslim akan kalah, takluk, dan akhirnya tunduk pada keyakinan non-Muslim itu. (Saya mengambil contoh Muslim karena saya berasal dari dan dekat dengan tradisi Islam). Ini adalah cermin dari rasa percaya diri yang terlalu rendah.

Kalau kita melacak sejarah, sikap rendah diri yang dialami oleh sebagian umat Islam dalam hal pernikahan beda agama sesungguhnya baru-baru ini saja terjadi. Pada masa-masa awal formasi dan ekspansi Islam, menikah dengan lain agama bukan persoalan serius, bahkan cenderung dianggap wajar. Sebagai agama, Islam sebenarnya tersebar dengan cara yang lembut dan bertahap. Ia tidak disebarkan dengan pedang. Memang betul bahwa penyebaran Islam di wilayah kekuasaan Persia, Afrika Utara, Bizantium, India, Asia Tengah, dan sebagian Eropa Barat didahului oleh penaklukan politik. Tapi Islam menjadi agama yang dianut di wilayah-wilayah itu terjadi setelah 300 tahun penaklukan. Artinya Islam diterima melalui proses yang panjang.

Di Nusantara, misalnya, proses Islamisasi berjalan damai dan jauh dari perang berdarah. Salah satu medium Islamisasi adalah melalui pernikahan. Banyak gadis Nusantara memilih menikah dengan orang Islam karena agama ini menawarkan relasi suami-istri yang relatif lebih setara. Sebelumnya, pernikahan adalah penjara bagi perempuan. Di Jawa ada tradisi istri ikut masuk ke dalam api ketika suaminya meninggal dan kemudian dibakar. Di Sulawesi ada tradisi istri ikut masuk ke dalam liang kubur ketika suaminya dikubur.

Kalaupun perempuan-perempuan Nusantara itu tidak menikahi lelaki Muslim, mereka secara bertahap menjadi penduduk Nusantara yang mula-mula memeluk Islam. Alasan utamanya adalah isu kesetaraan yang ada dalam agama Islam. Tentu saja konversi ke agama Islam tidak mudah. Mereka harus menghadapi ancaman dan teror dari masyarakat yang masih menganut agama lama. Daya tarik Islam kepada perempuan Nusantara inilah yang menyebabkan Islam dengan cepat berkembang. Karena biasanya, anak-anak yang lahir dari seorang perempuan cenderung memilih agama ibunya. Ini lebih karena persoalan kedekatan ibu dan anak.

Dalam buku Sarinah, Ir. Soekarno meyakini bahwa pernikahan beda agama dan isu kesetaraan adalah modus penyebaran agama Islam dan sekaligus daya tarik terkuat agama ini pada masa-masa awal penyebarannya.

Pernikahan beda agama juga bukan isu penting pada masa Islam perdana. Para sahabat bahkan Nabi sendiri terbiasa dengan praktik pernikahan beda agama. Istri pertama Nabi Muhammad, Khadijah, kemungkinan besar adalah seorang pendeta Kristen Timur perempuan. Mereka tidak pernah memperbarui pernikahan bahkan ketika Nabi sudah menerima wahyu. Pernikahan beda agama paling termasyhur yang pernah dilakukan oleh Nabi adalah ketika ia menikahi seorang perempuan bergama Kristen Koptik bernama Mariah al-Qibtiyyah. Dari Mariahlah Nabi beroleh anak laki-laki bernama Ibrahim. Ibrahim meninggal pada usia balita yang kemudian membuat Nabi sangat bersedih.

Utsman bin Affan, khalifah ketiga, memiliki istri beragama Kristen Yakobus bernama Na’ilah. Sementara Mu’awiyah, pendiri dinasti Umayyah, beristri Maysun, juga beragama Kristen Yakobus. Dari Maysunlah Mu’awiyah beroleh anak bernama Yazid yang kelak meneruskan jabatannya sebagai penguasa kerajaan Islam. Sahabat Nabi yang lain, Thalhah bin Ubaidillah menikahi seorang perempuan Yahudi yang berasal dari Syam.

Selain praktik pernikahan beda agama pada masa Islam perdana, doktrin-doktrin Islam yang termaktub dalam Kitab Suci Quran juga tidak melarang pernikahan beda agama. Memang ada nash Quran pada surah Al-Baqarah ayat 221 tentang larangan bagi laki-laki untuk menikahi perempuan musyrik. Persoalannya, apakah yang dimaksud dengan musyrik? Apakah semua non-Muslim bisa masuk kategori musyrik? Pada level teologi, musyrik adalah penyekutuan Tuhan. Pada level sosial musyrik adalah suatu sikap mendua. Siapa saja bisa masuk kategori musyrik, apapun agamanya. Ayat ini melarang menikah dengan orang musyrik, bukan dengan orang lain agama.

Penjelasan ini didukung oleh ayat 5 surah Al-Maidah. Ayat itu berbunyi: “Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (Dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi.”

Baik pada level praktik keagamaan maupun pada level doktrin Kitab Suci pernikahan beda agama bukan hal yang perlu dipersoalkan. Kembali ke tesis awal tulisan, maraknya penolakan terhadap praktik pernikahan beda agama terjadi karena ketakutan penyebaran agama lain ke komunitas Muslim. Alasan ini muncul dari rasa percaya diri yang terlalu rendah. Sudah saatnya umat Islam keluar dari rasa rendah diri ini dan menghadapi dunia dengan dada yang lapang.

Sumber dari sini.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s