IRIndonesia

Interfaith Relationship Indonesia

Nikah Beda Agama: Ya, di Belanda Saja February 15, 2012

Filed under: Esai — IRIndonesia @ 12:56 am
Tags:

“Mengapa saya harus mengislamkan dia, sementara dia tak pernah meng-katolik-an saya,” kata Diah Puspita Rahayu yang terpaksa menikah di Belanda, karena Indonesia tak mengizinkan pernikahan beda agama.

Tekanan sosial makin berat apabila diketahui yang melakukan pernikahan beda agama adalah perempuan muslim. Dalam aturan islam, seorang perempuan muslim tak boleh menikah dengan laki-laki beda agama, sebaliknya laki-laki muslim boleh menikah dengan perempuan non-muslim.

Kecaman dan pertanyaan bertubi-tubi ini tentu saja dialami Diah, saat memutuskan menikah dengan pria Belanda yang sering ditemuinya di Surabaya ketika masih menjadi seorang pramugari salah satu maskapai penerbangan nasional.

“Kami berpikir, sungguh tidak bijaksana kalau kami pindah ke agama lain, hanya karena ingin menikah. Kami ingin jujur soal hubungan kami, mengenai hubungan pernikahan. Jujur satu sama lain, jujur dengan Tuhan kami masing-masing,” kata Diah yang masih bertanya-tanya mengapa islam melarang seorang perempuan muslim menikah dengan laki-laki yang beragama lain.

Diceramahi di KUA
Ia paham tak mungkin menikah dengan pria pujaannya di Indonesia. Karena itu ia memutuskan menikah di Belanda. Masalah timbul ketika harus meminta surat pernyataan lajang untuk keperluan izin tinggal di Belanda ke Kantor Urusan Agama (KUA) di Surabaya.

“Di situ saya banyak mendapat ceramah dari kepala KUA bahwa menikah beda agama haram, zinah dan macam-macam. Itu sangat tidak fair, mengapa mereka tiba-tiba men-judge seseorang. Biar itu jadi urusan Tuhan,” kata Diah yang tetap menjalankan kewajiban agama islam walau sudah resmi menikah dengan pria katolik.

Tak Setuju
Sementara itu sosiolog Dian Paramita yang tinggal di Belanda langsung menyatakan tidak setuju ketika ditanya soal perempuan islam yang tak boleh menikah dengan laki-laki beda agama.

“Tidak setuju, alasannya karena pernikahan adalah hak asasi setiap manusia untuk berpasangan, terlepas dari golongan masing-masing partner, etnis, ras atau agama. Karena kita hidup dalam masyarakat yang majemuk,” tuturnya.

Namun hal ini tak akan pernah habis dibicarakan. Kalau berbicara dari sudut pandang agama, maka tidak akan bisa diselesaikan secara obyektif. Karena nilai agama, tuturnya, adalah mutlak bagi pengikutnya.

“Kalau orang-orang mau membuka diri tanpa harus melupakan identitas agamanya, akan sangat indah sekali kalau membuka diri dan berdialog. Menerima fakta bahwa kita hidup dalam masyarakat yang majemuk. Dalam perbedaan tapi menyatu. Selama ini kan ada tembok-tembok penyekat yang tinggi untuk bisa berinteraksi dengan kelompok agama yang lain,” tutur Dian.

Belajar dari Eropa
Jatuh cinta kata Dian, tidak didorong oleh agama. Jadi karena itu akan sangat baik kalau Indonesia belajar dari negara-negara Eropa lainnya yang sudah melepaskan diri dari institusi gereja. Eropa telah belajar dari masa lalu, bahwa pengaruh gereja terhadap negara tak selalu positif.

“Sebenarnya UU Tahun 1974 tidak melarang perkawinan antaragama. Di situ tercantum mengatur perkawinan berdasarkan agama masing-masing. Namun diinterpretasikan oleh birokrat bahwa setiap pasangan harus beragama sama.”

Namun sejak tahun 80-an, katanya, Indonesia dipengaruhi agama yang kuat, institusi agama dalam tatanan individu semakin kuat. Institusi agama ingin perlihatkan dominasinya.

Membuka Institusi Baru
Untuk itu, tambah Dian, lebih baik membuka institusi atau lembaga baru di luar KUA untuk menangani atau memberi kesempatan bagi pasangan berbeda agama untuk menikah secara resmi baik, di hadapan institusi agama maupun institusi negara.

“Kita harus melepaskan diri dari dogma ritual agama dan berpikir horizontal dan vertikal. Kita beribadah kepada Tuhan tapi Tuhan juga menginginkan kita berinteraksi horizontal dengan sesama manusia. Saya menganggap Tuhan tidak memberi batasan bagi saya untuk berinteraksi dengan semuanya, apa pun kelompoknya.”

Asal Bertanggung Jawab
Menurutnya, dari kelompok agama apa pun, selama pria itu bertanggung jawab dan menjalankan norma agamanya, itu baik lebih baik daripada pria seagama tetapi tidak menjalankan ibadah sesuai perintah Tuhan.

Sebetulnya ada empat cara populer yang ditempuh pasangan beda agama agar pernikahannya dapat dilangsungkan di Indonesia. Empat cara tersebut adalah meminta penetapan pengadilan, perkawinan dilakukan menurut masing-masing agama, penundukan sementara pada salah satu hukum agama dan menikah di luar negeri.

Dyah Puspita Rahayu sudah tenang hidup di Belanda tanpa harus memikirkan kecaman atau pertanyaan bertubi-tubi. Toh, ia tetap berharap dan bertanya-tanya, bisakah perempuan muslim menentukan pilihan sebebasnya, menikah dengan seseorang yang berbeda agama?

Sumber dari sini

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s