IRIndonesia

Interfaith Relationship Indonesia

Lika-liku Pernikahan Beda Agama February 15, 2012

Filed under: Esai — IRIndonesia @ 12:13 am
Tags:

Oleh: Harja Saputra

Banyak istilah untuk menyebut perkawinan beda agama, ada yang menggunakan istilah interfaith marriage, interreligion marriage, cross religion marriage, intercultural marriage, dan sebagainya. Meskipun judulnya adalah “Pernikahan Beda Agama”, namun di sini akan digunakan istilah interfaith marriage (antar-iman) mengacu ke istilah yang digunakan oleh Shaffer (2010). Karena kalau menggunakan idiom “agama” lebih mengacu pada tatanan pelembagaan keyakinan yang lebih luas, menyangkut juga politik, ekonomi, hukum, dan sebagainya. Sementara perkawinan lebih spesifik ke masalah pribadi, sehingga lebih cocok menggunakan istilah “iman”.

Perlu ditekankan terlebih dahulu, di sini tidak akan dibahas mengenai doktrin boleh atau tidaknya pernikahan beda agama dalam doktrin suatu agama tertentu, karena hal ini akan berbeda pandangan pada setiap orang tergantung paradigma yang dianut. Selain itu, jika sudah berbicara doktrin agama, umumnya setiap orang dalam berdiskusi membawa “benteng dan perisai kuat” bahkan tak jarang membawa “rudal” untuk menyerang pendapat orang lain secara arogan. Di sini, hanya akan dibahas mengenai fenomena pernikahan beda iman (agama) sebagai sebuah kenyataan yang banyak terjadi dan bagaimana mereka menjalaninya dari beberapa jurnal penelitian.

Dalam Perkawinan Antar-Iman (PAI) terdapat dua karaktetistik pasangan: balanced couple dan unbalanced couple:

Balanced couple adalah pasangan yang memiliki derajat akulturasi yang tinggi, yang menunjukkan upaya untuk lebih memahami perbedaan budaya dan keyakinan mereka dengan menempatkan lingkup yang lebih luas pada akulturasi sosial, nilai, kepentingan, dan tujuan. Mereka mengakui perbedaan yang dibingkai oleh budaya mereka tetapi berusaha mencari kesamaan dalam hal lainnya sehingga mencapai satu kesepakatan untuk menjalani pernikahan. Jadi, balanced couple akan lebih banyak kebebasan untuk bernegosiasi, mengintegrasikan atau tetap otonom dengan perbedaan budaya mereka dengan tetap akur.

Sementara itu, pada sisi lain, unbalanced couple adalah pasangan yang memiliki perbedaan pandangan keyakinan dan budaya dengan berusaha untuk memaksimalkan (overfocus) atau meminimalkan (underfocus) perbedaan-perbedaan ini tergantung pada keadaan pribadi dan sosial yang mempengaruhi pernikahan mereka, misalnya terlalu fokus pada faktor pengaruh dari orang tua atau faktor lain. Jika overfocus maka pengaruh dari orang tua tersebut akan menjadi pijakan teratas dalam memutuskan sehingga tidak jarang memutuskan hubungan karena faktor tersebut. Sedangkan jika underfocus maka berusaha untuk menghindari pengaruh dari orang tua secara terpaksa, sehingga jika kemudian menemukan ketidakcocokan maka akan mengingat kembali ke faktor tersebut dan menjadikannya sebagai alasan. Mereka tidak berangkat dari saling menyadari perbedaan di antara mereka, sehingga jika tekanan dari orang tua atau faktor lain menerpa pernikahan mereka, maka guncangannya akan lebih terasa.

Pasangan PAI jika ingin tetap bertahan maka dari awal harus menyadari adanya perbedaan di antara mereka dengan meminimalkan perbincangan mengenai perbedaan teologis dan fokus pada perilaku dan ide-ide mereka untuk hal-hal yang memiliki kesamaan.

Banyak pasangan PAI menganggap perbedaan iman (agama) sebagai satu faktor yang memiliki dampak positif pada mereka. Bahkan, banyak penelitian menunjukkan, pernikahan antar iman dapat meningkatkan kepribadian mereka untuk saling menerima satu sama lain. Pada pasangan yang berbeda iman, dengan karakteristik balanced couple di atas, mereka lebih banyak belajar hal-hal baru di antaranya memutuskan untuk menerima sesuatu yang di luar keyakinan dirinya dibandingkan di keluarganya yang memiliki kesamaan keyakinan. Mereka bersama-sama merumuskan makna dan nilai-nilai baru untuk mempertahankan pernikahan mereka.

Dari penelitian-penelitian tentang perkawinan antara iman di mana pasangannya termasuk ke jenis balanced couple umumnya kebahagiaan atas perkawinan mereka meningkat dan tidak mudah berakhir dengan perceraian, karena sudah menikmati upaya untuk saling menerima perbedaan. Penerimaan atas perbedaan dan tenggang rasa adalah kepuasan yang tidak dapat diukur oleh apapun, kepuasannya berbeda jika semuanya memiliki kesamaan.**[harja saputra]

Disarikan dari penelitian:
Tammy J. Shaffer, Interfaith Marriage and Counseling Implications, dapat diakses di http://counselingoutfitters.com/vistas/vistas08/Shaffer_Article_10.pdf

Ni Duan and Glenda Claborne, Marital Interaction in Intercultural Marriage: An Application of Expectancy Violation Theory, University of Arizona, 2010.

Sumber dari sini

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s