IRIndonesia

Interfaith Relationship Indonesia

Harmoni Agama di Tiga Dusun January 30, 2012

Filed under: Uncategorized — IRIndonesia @ 11:05 pm
Tags:

Riset ‘Relasi Buddhis-Muslim di Pedusunan Jawa’ menemukan kehidupan yang harmonis antara kedua kelompok keagamaan ini. Penelitian ini sendiri mengambil lokasi di tiga di tiga pedusunan: Gambiran, Banyuwangi, Jawa Timur; Barakan, Malang Jawa Timur; dan Tlogowungu, Temanggung, Jawa Tengah.

Di Gambiran misalnya, hubungan kelompok muslim dan Buddhis sejauh ini bisa dikatakan berjalan harmonis. Salah satu kuncinya adalah medium interaksi saat-saat hari raya. Ketika Hari Raya Idul Fitri, masyarakat yang menganut agama Buddha jamak bersilaturrahim ke tetangga mereka yang muslim sembari berbagi panganan. Termasuk juga di acara seremoni-seremoni lain seperti pelepasan dan penyambutan warga yang akan pergi atau pulang haji. Masyarakat Buddhis terbiasa untuk terlibat mulai dari mendirikan tenda hingga penyiapan kue.

Hal serupa juga ditemukan di Dusun Tlogowung, Temanggung. Dalam pendirian rumah ibadah seperti masjid atau vihara dua komunitas ini saling membantu. Selain menyumbang tenaga mereka biasa menyumbang material pembangunan seperti kayu. Dusun Tlogowung saat ini memiliki 4 vihara dan 6 Cetya ini.

Di Dusun Bakaran, Malang, ditemukan tradisi yang unik di lingkungan masyarakat Buddhis. Sebagian mereka melakukan tradisi khitanan seperti kalangan muslim. Padahal dalam tradisi Buddha tak ditemukan ajaran untuk khitan. Tradisi tersebut, menurut salah seorang tokoh buddhis di sana dilakukan karena tradisi yang sudah ada di dusun tersebut dan dilakukan nenek-moyang mereka. Warga Buddhis juga sudah biasa takziah dan mendoakan tetangga mereka yang muslim. Begitupun sebaliknya.

Melihat hasil temuan penelitian tersebut, Jo Priastana, dosen pada Sekolah Tinggi Agama Buddha Nalanda Jakarta, yang menjadi narasumber menyatakan optimismenya terhadap masa depan toleransi beragama di Indonesia. “Di tengah situasi seperti sekarang ini, tiga wilayah penelitian tersebut bisa dikatakan menjadi oase bagi perdamaian dan prikehidupan masyarakat yang saling menghargai,” katanya. Jo sendiri tak menampik kalau di tengah fakta positif, masih ada masalah-masalah seperti tergambar dalam hasil penelitian yang menurutnya lebih disebabkan masalah birokrasi negara. “Ini lebih banyak soal pelayanan yang tidak adil oleh negara”.

Abdul Moqsith Ghazali, pembicara lainnya juga memberi apresiasi terhadap penelitian yang disebutnya sebagai salah satu kerja rintisan penting. Peneliti senior the Wahid Institute ini mengakui, relasi Buddha-Islam memang masih sering absen dalam pembicaraan relasi agama di Indonesia. Dalam kesempatan itu ia mengusulkan agar Cenas melakukan langkah yang lebih luas lagi, yakni memotret perjumpaan Buddha-Islam di Tanah Air seperti yang dilakukan Jan S. Aritonang ketika memotret relasi Islam-Kristen. Pendeta Gereja Kristen Protestan Indonesia dan dosen Sejarah Gereja di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta ini adalah penulis Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia yang memotret sejarah perjumpaan Islam-Kristen sejak abad ke-15. “Dengan memotret sejarah perjumpaan Buddha-Islam secara komprehensif, masyarakat tentu akan semakian paham dan mengerti,” katanya.

Sumber dari sini

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s