IRIndonesia

Interfaith Relationship Indonesia

Masjid Miftahul Huda, Pura Sweta Maha Suci dan Gereja Kristen Jawi Wetan March 28, 2011

Sebuah masjid di Lamongan memiliki keistimewaan dibanding masjid-masjid di daerah lain. Masjid berarsitektur Timur Tengah di Kota Soto ini justru berdiri berdampingan kokoh dengan tempat ibadah umat Hindu-Pura dan tempat ibadah umat Kristen-Gereja.

Masjid Miftahul Huda di Desa Balun, Kecamatan Turi-Lamongan berarsitektur kental timur tengah memiliki kubah besar di tengah, dengan dikelilingi 5 kubah kecil sebagi simbol penanda salat lima waktu.

Pengurus Takmir Masjid, Titis Suparno menuturkan, masjid yang awalnya dibangun dari wakaf seorang warga desa di tahun 1960-an ini dibangun oleh seorang penyebar agama Islam di Desa Balun tahun 1960-an. Peninggalannya berupa mimbar khutbah dari kayu jati dan sebuah bedug masih dapat di gunakan hingga saat ini.

Titis mengaku tak banyak mengetahui mengenai sejarah berdirinya masjid tersebut. Namun keistimewaannya, masjid ini berdiri kokoh berdampingan dengan tempat ibadah agama Hindu dan Kristen.

Bangunan masjid dan pura hanya dipisahkan jalan kampung selebar 4 meter. Bahkan, jika dilihat dari lokasi Pura Sweta Maha Suci ini, bangunan masjid seolah menyatu dengan bangunan pura. Tak hanya itu, tepat di depan masjid berjarak kurang lebih 50 meter, berdiri sebuah Gereja Kristen Jawi Wetan.

Menurut Titis, berdirinya 3 tempat ibadah itu menjadi contoh tauladan bagi kerukunan umat beragama di Indonesia. Tak heran, Desa Balun terkenal dengan sebutan Desa Pancasila. “Kami saling menghormati dengan menjaga perasaan beragama masing-masing orang,” kata Titis kepada detiksurabaya.com, Kamis (26/8/2010).

Rasa saling menghormati juga diwujudkan selama bulan suci ramadan oleh penganut agama yang lain. Umat Hindu yang biasa beribadah pukul 19.00 WIB misalnya, terpaksa merubah jadwalnya sebelum Maghrib. Karena pada pukul 19.00 WIB umat Islam sedang menjalankan salat tarawih.
Keragaman keyakinan warga Desa Balun sudah terjalin sejak lama, saat masing-masing tokoh agama menyebarkan agama di desa tersebut. Sedikitnya 1.500 kepala keluarga,