IRIndonesia

Interfaith Relationship Indonesia

Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral March 28, 2011

Filed under: Hotspot — IRIndonesia @ 5:47 pm
Tags: , ,

Hanya terpisah jalan protokol, Jalan Katedral, berdiri dua bangunan ibadah, Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral. Hanya terpisah sebuah jalan, kedua tempat ibadah ini dibangun tanpa pernah menjadi persoalan, melainkan sebagai lambang kerukunan antarumat beragama di Indonesia.

“Tidak hanya hari Natal, melainkan tiap hari Minggu, umat Katolik yang beribadah di Katedral menitipkan mobil mereka di sini,” kata Muhammad Yunus (45), petugas parkir Istiqlal. Dia mengisahkan sudah puluhan tahun umat yang beribadah di Katedral menitipkan mobil di lahan parkir Istiqlal.

Hampir setiap hari Minggu, tempat parkir Gereja Katedral tak mampu menampung kendaraan umatnya. “Paling tidak ada tiga kali misa di hari Minggu yang mobil parkir sampai meluber kemari. Kalau misa yang paling pagi, tak seberapa penuh,” kata Yunus, yang asli Betawi.

Sejak lahan parkir Istiqlal belum diaspal pun, kata Yunus, mobil umat Katedral parkir di Istiqlal. Bahkan, sebelum parkir Istiqlal belum ditata, mobil umat Katolik sering kali parkir di sisi jalan, di mana di kemudian hari dibangun Istiqlal. Kebiasaan itu berlanjut hingga hari ini, tanpa pernah terputus, tanpa pernah dipersoalkan.

Bukan hanya umat Katolik yang berlangganan parkir di Istiqlal, sebaliknya umat Islam. Ada kalanya, di hari-hari besar agama Islam pun, mobil-mobil mereka parkir di lahan parkir Katedral. “Terkadang, kalau shalat Jumat, masyarakat yang akan Jumatan juga menitipkan mobilnya di sini,” kata Paulus (21), petugas parkir Katedral.

Menurut dia, umat Muslim yang parkir di Katedral tak perlu izin terlebih dahulu. Bahkan, terkadang dia baru mengetahui bahwa mereka hanya sekadar menitipkan mobil dari peci dan sarung yang dibawa atau saat mereka menyeberangi jalan menuju masjid.

“Di Masjid Istiqlal banyak terdapat pedagang kaki lima yang menggelar dagangan sampai ke bahu jalan. Mungkin juga, hal ini yang selalu menyebabkan kemacetan saat shalat Jumat usai. Sementara itu, bila parkir di Katedral, mobil bisa langsung meninggalkan lokasi parkir dengan segera, tanpa ada hambatan apa pun,” kata Yohanes Budi H, seorang petugas parkir Katedral, mengungkapkan alasan lain digunakannya tempat parkir Katedral saat shalat Jumat.

Terpilihnya Masjid Istiqlal sebagai lahan parkir sementara, tak lain karena luasnya lahan parkir tersebut. “Wah, kalau pas Natalan, tuh! Bisa lima buku parkir abis. Setiap buku ada 100 tiket parkir. Nah, hitung sendiri berapa jumlah mobil Katedral yang parkir di sini,” kata Yunus. Padahal, pada hari-hari kerja biasa, antara Senin-Jumat, menurutnya, lahan parkir Istiqlal menampung secara silih berganti sekitar 60 mobil per hari, sedangkan motor lebih kurang 30-35 motor.

Pada malam Natal atau Paskah, penjagaan dilakukan gabungan antara petugas parkir Istiqlal, petugas kepolisian, dan petugas parkir Katedral. Kebersamaan ini juga terlihat dari didirikannya pos keamanan Natal atau Paskah di areal Istiqlal. Terkadang malah terlihat beberapa pemuda berpeci yang berdiri menjaga keamanan bersanding dengan beberapa pemuda yang berkalungkan salib.

Bicara tentang toleransi agama tampaknya terlalu berat bagi Yunus. Paulus dan Yohanes juga menampik berbicara hal demikian. Hanya saja menurut Yunus, “Masak tetangga butuh sesuatu kita diamkan. Ya, bukan gitu dong caranya!”

Kebutuhan umat Katedral untuk menitipkan kendaraannya di Istiqlal terkadang membuat Yunus tetap masuk kerja pada hari Minggu. Namun, dia menjalankannya dengan ikhlas. Bahkan, pada hari Minggu, ia terkadang berangkat lebih awal dari rumahnya di bilangan Sunter untuk bisa bertugas memarkir mobil peserta misa pagi di Katedral.

Menurut Yunus, dalam hidup berdampingan harus saling menghormati, saling menghargai, dan jangan saling melukai. Dia pun menyayangkan peristiwa ledakan Natal di Gereja Katedral, 24 Desember 2000. Saat itu, Yunus turut pula bertugas. Meski tidak berjaga di sisi timur Istiqlal, yang tepat berseberangan dengan Katedral. Namun, dia mendengar ledakan dari posnya di sisi selatan Istiqlal.

“Itu konyol, coba bayangkan! Kalau tidak salah yang terkena bom Natal itu tukang bakpao,” kata Yunus sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Hidup bertetangga itu yang baiklah,” katanya sembari berdiri memberikan karcis parkir pada mobil yang melintas, masuk ke lahan parkir Istiqlal.

Gereja Katedral diresmikan pada Februari 1810. Sepanjang sejarahnya, Katedral mengalami dua musibah, yakni terbakar bersama 180 rumah penduduk lainnya, 27 Juli 1826, dan musibah runtuhnya gereja pada 31 Mei 1890 jam 09.00, dalam cuaca yang cerah. Gedung Katedral sekarang ini dirancang Pastor Antonius Dijkmans dan batu pertamanya diletakkan Provicaris Carolus Wenneker. Sementara itu, peresmiannya dilakukan pada 21 April 1901.

Di sisi lain, Masjid Istiqlal diresmikan penggunaannya oleh Presiden Soeharto pada 22 Februari 1978. Ide pembangunan masjid digulirkan oleh KH Wahid Hasyim dan H Anwar Tjokroaminoto. Pemancangan tiang pertama dilakukan pada 24 Agustus 1961, bertepatan dengan peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW. Arsitek Masjid Istiqlal adalah Friedrich Silaban, yang tutup usia ketika umur 72 tahun, pada 14 Mei 1984 di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Kala itu, pemilihan arsitek dilakukan berdasarkan sayembara yang diprakarsai Ir Soekarno, dengan dewan juri yang terdiri atas Prof Ir Rooseno, Ir H Djuanda, Prof Ir Suwardi, Hamka, H Abubakar Aceh, dan Oemar Husein Amin.

“Pak Silaban itu orang baik, saya ikut dengannya sejak masih di proyek pembangunan Istiqlal. Meski dia orang Kristen, kami bisa bergaul dengan baik. Saya bahkan menyertai Pak Silaban hingga ke liang kubur,” kata Yunus.

Sumber dari sini.

 

2 Responses to “Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral”

  1. subhanallah ,org jakarta beda sama org temanggung yg rusuh cuma gara2 perbedaan agama tempo lalu ,, salut sama istiqlal and katedral ,,,,

  2. Subhanallah, ini adalah salah satu kebanggaan, bahwa kita mempunyai toleransi yang tinggi dengan bisa hidup berdampingan dengan damai walaupun mempunyai kepercayaan yang berbeda.

    Silakan baca juga kerukunan kita di http://news.detik.com/read/2012/09/04/043933/2007015/10/gereja-mahanaim-masjid-al-muqarrabien-di-tj-priok-tolak-relokasi … tetapi haruskah kerukunan ini dipisahkan?


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s