IRIndonesia

Interfaith Relationship Indonesia

Masjid Al Muttaqin, Masjid Tertua di Kota Manado March 28, 2011

Filed under: Hotspot — IRIndonesia @ 5:44 pm
Tags: ,

Dibangun 1775 oleh Orang Ternate, Direnovasi Umat Nasrani

Sejak turun temurun pendirian masjid Al Muttaqin Kawasan Pondol Boulevard Manado mendapat dukungan dan partisipasi dari umat Nasrani yang tinggal di sekitarnya. Kerukunan yang dibina bertahun-tahun membuahkan persaudaraan. Dibuktikan untuk pengecoran lantai dua mesjid dilakukan oleh umat Nasrani yang tinggal di sekitar mesjid.

Laporan Charencia Repie

MASJID ini cikal bakalnya didirikan tahun 1775. Awal mulanya pembangunannya dirintis pembawa agama Islam yang datang dari Ternate pada zaman Sultan Babullah. Mereka datang ke daerah yang dengan pesisir dan mempunyai terumbu karang. Mereka mayoritas berprofesi sebagai nelayan, sambil terus mengajarkan agama Islam.

Makin hari pengikut semakin banyak, sehingga kemudian didirikan sebuah musala dan selanjutnya menjadi masjid. Resiko dekat pantai adalah abrasi, maka bangunan masjid yang awal mulanya berada di ujung jalan dipindahkan ke lokasi sekarang di Pondol (dalam bahasa Borgo, Pondol adalah ujung). Biaya dari pembangunan rumah ibadah tersebut berasal dari pendapatan mereka sebagai nelayan. Mereka terpaksa mendirikan masjid di pinggir pantai, karena tidak diperkenankan oleh pemerintah Belanda membangun di pinggir jalan protokol saat itu.

Maka masjid didirikan dan dinamai Al-Muttaqin yang artinya orang takwa. Banyaknya pengikut membuat daya tampung di masjid tidak memadai, sebagian pembawa ajaran Islam dari Ternate melanjutkan perjalanan mereka ke tempat lain yang juga masih di pinggiran pantai. Kampung Ternate dan kampung Ketang Tua serta Kampung Ketang Baru tempat yang dituju setelah Pondol.

Tahun 1964 oleh imam yang bertugas di masjid tersebut yakni Haji Muhammad Al-Buchari, berupaya mengembangkan bangunan masjid itu agar bisa menampung para jamaah yang kian saat selalu bertambah.

Mulai tahun 1973 Masjid Al-Muttaqin direnovasi dan dibangun dengan dua lantai. Dananya berasal dari jamaah dan masyarakat sekitar. Bahkan, umat Nasrani yang berada di sekitarnya juga menyumbangkan dana untuk pembangunan.

Bukan itu saja, untuk perampungan lantai dua dilakukan juga oleh umat Nasrani. Bentuk dan ciri kerukunan yang sangat dinamis yang terus dipertahankan secara turun temurun di Pondol itu, membuat masyarakat yang tinggal di dalamnya selalu merasa aman dan nyaman.

Menurut Al-Buchari, untuk membangun masjid, setiap hari dikumpulkan uang lewat jamaah dan sumbangan dari masyarakat sekitar. Setiap minggu sekali dilakukan pembelian bahan material dan langsung bergerak untuk melakukan pengecoran dan renovasi bagunan. “Saya tidak mengalami kendala untuk membangun masjid ini. Pendekatan yang saya lakukan pada jamaah dan masyarakat sekitar membuat kami semua saling bergandengan tangan, sehingga masjid ini dapat diselesaikan sampai lantai dua,” jelasnya.

Kerukunan antarumat beragama yang tercipta, membuat masyarakat di Pondol menjadi saudara satu dengan yang lainnya. Perbedaan dan kemajemukkan yang ada di masyarakat dijadikan suatu senjata untuk mempertahankan persatuan dan kesatuan. “Tidak ada huru hara di Pondol, sebab kami di sini saling menyayangi sebagai saudara,” ungkap Al-Buchari.

Di bulan puasa ini, yang bertugas menjaga ketertiban saat umat muslim shalat di masjid ialah para pemuda dari Nasrani. “Mereka dengan senang hati menjaga keamanan, dari segi keadaan maupun sandal yang diletakkan di depan mesjid dijaga supaya tidak ada yang mencurinya,” kata kakek kelahiran tahun 1939 ini.

Untuk buka puasa, hampir setiap hari juga diberikan penganan atau makanan dan minuman ringan dari umat Nasrani kepada umat muslim yang sedang berpuasa. Luar biasa kerukunan dan kebersamaan di Pondol.

Ada juga yang menarik, untuk pemakaman umat muslim khususnya penggalian makam selalu dilakukan oleh umat Nasrani dan begitu juga sebaliknya. Budaya torang samua basudara sangat kental di Pondol. Hal inilah aset Sulut di dunia nasional maupun internasional.

Sumber dari sini.

 

2 Responses to “Masjid Al Muttaqin, Masjid Tertua di Kota Manado”

  1. I don’t belife but this tru.,.,.,oh my God .,.,.subhanallah

    • sungguh kebersamaan dan kerukunan yg sllu didambakan dmana saja didunia yg penuh pengertian satu dan yg lain gak melihat hitam putihnya kita manusia dan dari sisi manapun kita melihatnya ( SEMOGA SLLU TERPELIHARA SELAMANYA KERUKUNAN ANTAR MANUSIA DAN GA MEMANDANG APAPUN )


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s