IRIndonesia

Interfaith Relationship Indonesia

Pasangan Beda Keyakinan March 7, 2011

Filed under: Uncategorized — IRIndonesia @ 6:57 pm
Tags:

Oleh: Novheliea

Gue rasa di Negara tempat kelahiran gue inilah paling sering masalah perbedaan “keyakinan” diangkat menjadi satu topik yang nggak ada habisnya.

Apalagi masalah hubungan antara dua insan yang berbeda “keyakinan” yang seringkali menjadi benturan berarti. Bisa saja hal tersebut muncul dari keluarga atau ketika sepasang perempuan dan lelaki terbentur UU no.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang masih berlaku sampai saat ini yang tidak mengatur dan “menyulitkan” kelanjutan hubungan ke arah yang lebih serius yang disebut perkawinan. Terkadang solusi yang dicari adalah melangsungkan perkawinan di luar negeri (tapi kan hanya orang “mampu” yang bisa ke luar negeri) atau terkadang satu diantara pasangan tersebut memudarkan apa yang dikatakan “keyakinan” (yang di KTP disebut sebagai agama) dengan berpindah mengikuti “keyakinan” pasangannya. Padahal, bukankah “keyakinan” adalah hal yang prinsipil, makanya pasangan beda agama sering “bubar” karena alasan “beda prinsip”.

Berbagi pengalaman, gue juga pernah berpacaran dengan cowok-cowok yang berbeda “keyakinan” (tentunya di waktu yang berbeda, karena gue bukan tipe cewe yang menghalalkan seligkuh atau mendua alias make some relationships in the same time).

Gue yang dari lahir dan kini sangat yakin untuk memeluk Kristen Protestan sebagai “keyakinan” yang tak terpatahkan di hidup gue nggak terlalu menemukan kendala ketika punya pacar seorang muslim. Wong dari lahir gue hidup di tengah-tengah masyarakat mayoritas yang beragam Islam. Jadi, sedikit banyak gue tahu kebiasaan, hari besar, setidaknya hal-hal umum tentang agama besar di Indonesia itu. Toleransi yang gue lakukan pun lebih mudah. Bahkan, gue yang tak jarang ikut puasa di bulan “Ramadhan” atau di luar bulan ramadhan (karena “keyakinan” yang gue anut juga mengenal istilah “doa puasa”) pernah berpuasa sebulan penuh.

Punya pacar seorang muslim, bikin gue lebih bisa menunjukan toleransi dan kepedulian yang tinggi padanya. Dari mengingatkan sholat lima waktu, sholat jum’at sampai menganjurkan untuk Tahajud. Padahal jangankan untuk seorang pacar yang nota bene spesial itu, untuk seorang teman pun gue melakukan hal yang sama. Apalagi dengan mempelajari Hukum Islam sebanyak dua kali di Fakultas Hukum (coz, I’ve failed at the first class), gue semakin lebih mengenal agama yang mengagungkan Nabi Muhammad itu.

Mungkin karena Kristen dan Islam merupakan dua agama mayoritas sehingga antara keduanya lebih sering muncul “konflik” yang sebenarnya bukan berasal dari TUHANnya tetapi dari umatnya yang nggak faham karena seringkali konflik yang muncul karena “membela” TUHANnya padahal TUHANnya nggak butuh pengacara di dunia ini. Toh semuanya kembali kepada masing-masing individu mengenai apa yang diyakininya (dalam kata lain siapa TUHAN yang diyakininya), makanya agama seringkali diistilahkan sebagai “keyakinan” (religion). Hanya saja di Indonesia mungkin istilah agama itu muncul sebagai “keyakinan” yang diakui di Indonesia (kalo nggak salah, sekarang ada enam agama yang diakui karena zaman gue di bangku sekolahan cuma diakui lima agama), sedangkan agama yang “belum diakui” disebut “kepercayaan” atau sering juga disebut sebagai “aliran kepercayaan”, pemisahannya cukup kongkrit berikut ini –> di pasal 29 UUD 1945 ayat (2) disebutkan “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agama dan beribadah sesuai dengan agamamya dan kepercayaannya itu.”

Selain itu, walaupun hanya dalam waktu singkat, gue juga pernah menjalin hubungan dengan cowok Bali yang mengikuti nenek moyangnya beragama Hindu. Sedikitnya, pengetahuan gue bertambah mengenai suku yang masih mengenal kasta tersebut. “Om swastiastu” sapaan yang seringkali diucapkan seperti juga “Assalawamualaikum” oleh kaum muslim, pernah sangat akrab di telinga, gue malah suka banget kalo ketemu orang Bali biar bisa menyapanya hangat “Om swastiastu”. Gue juga jadi tahu tentang upacara potong gigi (cuma gue lupa apakah ini acara sakral orang Bali atau agama Hindu J.

Sedangkan toleransi yang ditunjukan para “mantan” gue tersebut pada gue as a Christian, nggak jauh beda dengan teman-teman beda agama lainnya. Dari pertanyaan rutin seminggu sekali “Sudah ke gereja belum?” atau sekedar ucapan Selamat di hari besar seperti Paskah dan Natal.

Tapi yang pasti, perbedaan antar kami nggak pernah menjadi bahan “konflik” atau sesuatu yang diributkan. Mungkin juga karena saat menjalin hubungan kami nggak berfikir ke arah yang terlalu “serius” atau seperti kalimat yang nggak jarang kita dengar, “jalanin aja dulu.”

Gambaran-gambaran di atas cuma contoh dari pengalaman gue saja. Mungkin karena gue bukan tipe orang yang dipusingkan dengan masalah perbedaan baik suku atau agama (dua hal ini yang paling dominan).

Banyak pasangan beda “keyakinan” yang awet alias rukun-rukun saja, kalo mau contoh gampang ya selebriti, misalnya Jamal Mirdad dan Lidya Kandau. Tapi ada juga contoh pasangan yang nggak direstui karena alasan yang sama, kalo mau pakai contoh selebriti lagi, Frans Mohede dan Amara.

Menurut gue sih, yang ditakuti ketika punya pasangan beda “keyakinan” kalaupun mentok harus pindah agama atau kawin beda agama bukan isi substansi dari agama yang diyakininya itu tetapi lebih pada orang tua yang biasanya menjadikan agama adalah bagian dari faktor keturunan alias agama turun temurun.

Menurut gue lagi, kalau agama adalah “keyakinan” pastinya nggak bakal luntur karena pasangan punya beda “keyakinan”. Kan yang namanya “keyakinan” kembali kepada yang meyakininya bukan kepada “keyakinan” orang di sekitar kita sekalipun itu orang tua atau kekasih.

Gue sendiri selain punya dua Alkitab dalam bahasa Indonesia milik gue pribadi, ada juga sebuah Al Qur’an yang tak jarang gue buka dan baca secara acak itu. Selain itu, adalah suatu hal yang mengasyikan buat gue ketika bangun pagi di kala sahur menemani pembantu di rumah yang beragama Islam untuk isi perut sebelum Imsak.

Gue juga bersyukur pernah bersekolah di Sekolah Negeri. Pendidikan Dasar (TK dan SD) di Sekolah Kristen dan Lingkungan keluarga Kristen cukup membuat gue yakin untuk menganut “keyakinan” tersebut dengan Pendidikan Agama Kristen yang gue terima. Dan saat mulai memasuki Sekolah Negeri (SMP dan SMU), gue nggak pernah keluar kelas saat pelajaran PAI (Pendidikan Agama Islam). Gue suka mendengar guru PAI selain menambah pengetahuan, tentu saja sebagai guru agama yang nggak jauh beda (mirip) guru PMP (Pendidikan Moral Pancasila) menanamkan nilai-nilai moral dan nasehat-nasehat kepada para muridnya. Bukankah substansi agama itu kan mengajarkan kebaikan dan kebajikan bagi pemeluknya?

Gue juga nggak jarang nonton acara televisi berbau Islami, yang bahkan teman gue sendiri yang muslim nggak tertarik buat nonton, kaya “Hidayah” dan “Kusebut NamaMu” karena yang gue ambil intisarinya (walaupun kadang-kadang ceritanya hiperbola). Pada pokoknya, gue tekankan lagi semua agama kan mengajarkan kebaikan dan kebajikan.

Coba perhatikan deh menjelang dan selama bulan puasa pasti banyak stasiun televisi yang menghadirkan sinetron Islami yang dikemas modern (yang biasanya ditayangkan tiap sore), yang menarik banyak jumlah pemirsa baik muslim atau pun non muslim. Soal ini, gue jadi bertanya lagi, sebenarnya yang membuat “penonton setia” serial bersambung bulan Ramadhan tersebut nilai-nilai keagamaan yang berusaha disampaikan sang penulis skenario atau kisah percintaan atau perebutan kekuasaan yang menjadi “bumbu” alur cerita dan klimaks tayangan tersebut?

Sedangkan untuk acara keagamaan Kristen sendiri gue jarang nonton, karena yang disajikan stasiun TV lokal kebanyakan versi kotbah baik siaran tunda atau live. Ada juga sih yang menyiarkan kesaksian yang dikemas dalam bentuk drama singkat yang alurnya “sangat pendek” tapi itu pun ditayangkan tengah malam (berapa persen manusia yang masih terjaga pada waktu penayangan membuat acara tersebut malah nggak maksimal menyampaikan pesan). Acara favorit gue sendiri (walopun tetap sering terlewat) “Hillsongs” dari Australia yang adanya di Family channel yang bisa didapat kalau kita berlangganan TV cable. Ya mungkin popularitas “agama” gue baru go public on TV pas menjelang natal doang, dimana sampai iklanpun pakai backsound “Jinggle Bells” .

Gue yang dibabtis di Gereja Kristen Indonesia (menurut gue ini hanya penamaan tempat saja, karena seringkali dedominasi gereja juga dijadikan perbedaan padahal apakah itu GKI, GBI atau HKBP dan sebagainya nggak beda dengan penamaan Mesjid At’tin dan Mesjid Istiqlal, hanya identitas saja karena semua orang bisa beribadah di sana), beribadah (mengikuti kebaktian) di mana saja yang dinamakan gereja (dari segi gedung), gue juga seringkali berdoa di gua Maria di kampus (yang fungsinya bagi umat Katolik nggak jauh beda” dengan Mushola buat umat Islam). Gue juga nggak keberatan ikut Misa agama Katolik. Gue juga waktu kecil bermain di lingkungan mesjid, karena posisi rumah gue sangat dekat mesjid. Bahkan waktu SMU sering juga menemani teman sholat ke Mushola Sekolah atau di tempat Bimbingan Belajar ngumpet bareng teman di Mushola untuk menghindari guru matematika, masuk Klenteng umat Kong Hu Cu pun gue pernah (ikut perayaan entah hari besar apa yang pasti waktu itu gue cuma ikut tetangga ke sana, namanya juga anak-anak). As we know, Pura sendiri di Bali bisa didatangi oleh semua turis beragama apa saja. Dan betapa senangnya ketika gue bisa masuk Cathedral dan Istiqlal, dua tempat ibadah besar di Jakarta, yang letaknya bertetangga itu.

Intinya, gue bersyukur karena di agama gue nggak ada larangan untuk masuk ke rumah ibadah agama apa pun (dan tidak melarang siapapun untuk masuk rumah ibadahnya yang in English dikenal as Church). Toh, di “Sekolah Minggu” (sebutan untuk ibadah bagi anak-anak yang Protestan, kalo umumnya sih disebut kebaktian) ada sebuah lagu yang populer, sepenggal syairnya berbunyi “gereja bukanlah gedungnya…”, karena sebenarnya gereja adalah umat Kristen itu sendiri.

Jadi kedamaian dari perbedaan prinsip yang diistilahkan “keyakinan” atau lebih agamawi-nya disebut “iman” itu adalah toleransi dan keteguhan pada “keyakinan” tanpa harus mencampuri atau mempengaruhi apalagi menghakimi orang lain. Kalau ada yang bilang perbedaan itu indah, itu betul kok (tergantung cara kita menyikapinya).

Dalam satu agama saja sering ada konflik, karena yang menciptakan konflik itu kan manusianya sendiri.

Makanya gue nggak pernah masalah dengan “keyakinan” calon suami gue nanti. Gue yakin, TUHAN akan memberikan yang terbaik buat gue. Walaupun karena suatu kejadian di lingkungan keluarga, gue jadi tahu masalah perbedaan “keyakinan” itu bukan muncul saat perkawinan saja tapi juga saat kematian. Ini bisa terjadi jika keluarga nggak rela anggotanya berpindah “keyakinan”.

Di Alkitab (tau dong, ini kitab sucinya siapa?), disebutkan dalam Ibrani 11:1 “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat”. Yup, gue rasa benar tidak ada satu pun dari kita yang pernah melihat TUHAN yang kita yakini, tapi tentu kita yang dianugrahi mata untuk melihat dan bisa saksikan bukti dari kebesaran dan kuasa TUHAN yang kita yakini itu. Makanya, orang di Negara yang punya Departemen Agama ini, kita mengistilahkan GOD for every person sebagai TUHAN Yang Maha Esa (seperti tertulis di Sila Pertama dasar Negara kita).

Berbicara soal iman, gue juga pernah membaca dalam Surat Al Baqarah 257, tertulis (terjemahannya) “Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” Gue bukan ingin membahas ayat yang gue kutip dari Al Qur’an tersebut, namun gue cuma ingin menunjukkan kalau di sana dikatakan iman adalah cahaya. Maka, hendaknya keimanan seseorang yang diwujudkan dalam memilih keyakinan tertentu hendaknya dapat menerangi hati dan jalan kehidupannya seperti layaknya suatu cahaya (iman).

Seperti yang gue bilang di awal, kalau mau berbicara soal agama pasti nggak ada habisnya. Tunggu saja mungkin gue segera tulisan dari tema yang sama.

Last words, gue mau bilang perbedaan “keyakinan” bukan untuk dijadikan “perbedaan yang memisahkan” (negatif) tapi perbedaan yang indah alias “perbedaan yang mengharmoniskan” (positif). Setuju?

Sumber dari sini.

 

2 Responses to “Pasangan Beda Keyakinan”

  1. koko Says:

    bagus sekali..untuk agama dan moral itulah yang baik, bagaimana mengasihi siapapun tanpa memandang dia darimana dan saling bertoleransi..tapi mencampuradukkan keyakinan saya sangat tidak setuju..perkara percaya Tuhan adalah menerima Kristus ke dalam kita.karna di dalam Dia ada jalan dan hidup..(Yoh 14:6,Yoh 3:16).Hidup bukan masalah baik dan buruk,benar dan salah,hitam dan putih.tetapi menerima Tuhan Yesus sebagai hayat dan juruselamat kita.dan sebagai kebenaran kita.apakah yang memiliki keyakinan lain/diluar orang Kristen mau menerima Dia?dan yang paling penting Tuhan kita adalah pencemburu,karna Dia begitu mengasihi umatNya.Saran saya,perbanyak penghidupan doa dan membaca serta menikmati Firman Tuhan..logika dan perasaan tidak bisa diandalkan..biarlah logika dan perasaan berasal dari Tuhan Yesus..bukan dari kita sendiri..Jesus bless you

  2. deri Says:

    gila gw suka bngd ni posting berasa satu pemikiran coz gw jg org yang ngejalanin cinta beda agama.. setiap agama mengajarkan kebaikan itu yang gw yakini.. Support buat yang nulis🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s