IRIndonesia

Interfaith Relationship Indonesia

Satu Rumah Dua Agama February 15, 2011

Filed under: Uncategorized — IRIndonesia @ 12:34 pm
Tags:

Ronald Setiawan, 32 tahun, merasa bimbang sebulan belakangan ini. Sang putri, Nanda Widyawati, yang baru berusia 3 tahun sudah mulai kritis bertanya ini-itu kepadanya. “Termasuk mengenai saya yang selalu pergi ke gereja tiap Minggu,” kata Ronald ketika dihubungi melalui telepon selulernya pekan lalu.

Tak mengherankan jika Nanda bertanya-tanya mengenai kebiasaan Ronald ini karena sang bunda, Santi Meliawati, 30 tahun, tak pernah menemani Ronald ke gereja. “Saya dan istri memang berbeda keyakinan,” kata Ronald. Nanda pun, kata Ronald, semakin heran ketika Santi, istri Ronald, melakukan kewajiban salat setiap hari.

Psikolog Efriyani Djuwita berpendapat biasanya pasangan suami-istri telah membuat kesepakatan mengenai keyakinan anaknya kelak jika suami dan istri berbeda agama. “Semua harus dipersiapkan, pasangan suami-istri yang berbeda agama mesti memiliki planning mengenai anaknya nanti,” kata Efriyani.

Ada beberapa pilihan yang dapat diambil oleh pasangan suami-istri berbeda keyakinan. Pilihan pertama adalah dengan menyepakati anak akan mengikuti agama salah satu orang tua, agama ayah atau agama ibu. Pilihan ini lebih sederhana, namun dapat berdampak anak akan merasa bersalah pada waktu mendatang karena tidak mendalami agama yang lain. Sebab, anak tidak diperkenalkan kepada salah satu agama yang dianut ayah atau ibunya.

Selain itu, ada pilihan lain, yaitu dengan mengajari anak soal kedua agama yang dianut orang tuanya. “Dan kelak setelah dewasa, anak itu akan menentukan sendiri,” kata Efriyani. Tuntutan lingkungan pada saatnya akan memaksa anak untuk memilih salah satu agama.

Seiring dengan bertambahnya usia, pemilihan agama oleh anak itu merupakan proses yang berjalan secara alami. “Anak akan memilih agama mana yang lebih nyaman untuknya,” kata dosen di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini.

Namun Efriyani menyarankan jalan tengah dari kedua pilihan, yaitu dengan mengajarkan konsep Tuhan secara umum dengan penjelasan sederhana. Orang tua, kata wanita berkacamata ini, dapat mengajari anak mengenai alam semesta dan Tuhan sebagai penciptanya. “Ceritakan kepada anak bahwa Tuhanlah yang menciptakan papa, mama, dan adik,” kata Efriyani. Ini bisa diajarkan sejak anak berusia 2 tahun.

Jika anak telah mengerti konsep Tuhan, tahap selanjutnya yang dapat diajarkan kepadanya adalah mengenai komunikasi dengan Tuhan. “Misalnya katakan kepada anak, ‘Kalau adik mau ngobrol sama Tuhan, adik bisa ngobrol lewat salat’,” kata Efriyani.

Jika ini juga telah dimengerti oleh anak, orang tua bisa mengajarkan ritual agama, seperti pergi ke masjid atau gereja, merayakan Lebaran dan Natal, serta berzakat, kepada anak. “Ritual beragama ini dapat diajarkan ketika anak berusia 3 tahun,” katanya.

Satu hal penting yang harus diperhatikan orang tua adalah tidak menjelek-jelekkan salah satu agama kepada anak. “Akan lebih baik kalau ayah dan ibu saling menghargai agama masing-masing,” kata Efriyani.

Menghargai masing-masing agama memang penting dilakukan agar anak tidak bingung. Misalnya ketika ayah yang beragama Kristen memakan daging babi, sementara ibu tidak mau memakannya. Dalam kasus seperti ini, Efriyani menyarankan agar ayah tidak memakan daging babi di depan anaknya. “Karena akan menimbulkan kebingungan pada anak,” katanya.

Namun, Efriyani melanjutkan, dibandingkan dengan anak yang mengikuti satu agama ayah dan ibunya, ada hal positif yang terjadi pada anak yang tumbuh dalam keluarga berbeda agama. “Anak akan menjadi lebih kritis dan toleran,” kata ibu dua anak ini. Tapi hal ini tak akan terjadi tanpa dukungan orang tua.

Sumber dari sini.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s