IRIndonesia

Interfaith Relationship Indonesia

Pernikahan: Cinta Atau Agama? February 15, 2011

Filed under: Esai — IRIndonesia @ 12:44 pm
Tags:

Oleh: Fransisca Claire

Saya pernah mendengar bahwa UU Perkawinan di negara kita mengharuskan agar kita menikah dengan pasangan yang memiliki agama yang sama. Saya tidak tahu apakah yang saya dengar ini benar atau tidak, apakah UU tersebut benar-benar ada dan masih berlaku atau tidak. Yang saya tahu, pernikahan beda agama biasanya ditentang oleh berbagai pihak, terutama oleh pihak-pihak yang merasa dirinya ‘religius’.

Izinkan saya mendongeng… Ada seorang teman yang menyukai band-band Jepang sama seperti saya. Karena terlalu terobsesi, dia bahkan berniat menikah dengan vokalis dari salah satu band. Sejauh yang saya tahu, agama anggota band di Jepang tidak pernah dipublikasikan. Lagipula untuk apa? Berhubung teman saya ini adalah seorang yang ‘taat beragama’, iseng-iseng saya bertanya, “Bagaimana kalau ternyata sang vokalis tidak seagama denganmu?” “Saya akan mengajaknya untuk masuk ke agama saya,” jawabnya. Seketika itu dalam benak saya muncul lagi pertanyaan lain, “Bagaimana kalau sang vokalis tidak mau pindah agama? Apakah kamu akan memaksanya? Bagaimana kalau dia tidak mau pindah walaupun sudah dipaksa?”, tetapi tidak saya tanyakan. Ingin tertawa rasanya saat saya mendengar jawabannya. Lucu, sekaligus menyedihkan. Teman saya adalah anak yang pandai, jauh lebih pandai daripada saya. Saya heran, bagaimana mungkin anak sepandai dia bisa berpikiran sepicik itu? Siapa yang menanamkan paham seperti itu di kepalanya?

Kita belum mencintai seseorang jika kita tidak mampu menerima orang itu apa adanya. Sebaiknya jangan menyatakan cinta jika Anda masih ingin memaksa orang yang Anda ‘cintai’ untuk berubah. ‘Cinta’ Anda belum layak disebut cinta. Anda masih memilih-milih. Anda menyukai hal tertentu dari dirinya dan ingin mengubah hal lain darinya yang tidak Anda sukai. Jika hal yang tampak di mata Anda saja masih belum bisa Anda terima, bagaimana mungkin Anda dapat menerima sisi-sisi lain dari pasangan Anda yang belum Anda ketahui (dan mungkin tidak akan Anda ketahui)? Bagaimana mungkin dengan PD-nya Anda menyatakan bahwa Anda mencintainya? Well, ini cuma pendapat saya, terserah apakah Anda mau setuju atau tidak.

Berhubung teman saya masih anak-anak, saya memakluminya. Saya justru menyalahkan orang-orang di sekitarnya yang membuat dia berpikir seperti itu; orang tuanya, gurunya, teman-temannya, terlebih lagi orang yang mengajarkan agama kepadanya. Maafkan saya yang hanya bisa asal menebak dan bicara sembarangan, tetapi menurut saya agama zaman sekarang lebih mirip partai politik yang berebut suara rakyat untuk memperoleh kursi di Senayan. Para pemuka agama sibuk tarik menarik umat, entah untuk apa. Umat agama lain diajak berpindah ke agamanya, dan umatnya sendiri dilarang pindah ke agama lain. Agama sendiri dianggap paling benar, agama lain diberi label ’sesat’. Yang lebih hebat lagi, kadang-kadang para pemuka malah mengerahkan umatnya untuk memperoleh lebih banyak lagi umat, seperti simpatisan partai politik saja. Bukannya mempersatukan bangsa, agama malah memecah belah dan mempersempit pandangan kita. Coba lihat, begitu banyak kerusuhan dan perkelahian yang terjadi atas nama agama. Lihatlah, wahai para pemuka agama yang merasa terkemuka, kalian telah membuat bangsa ini terkotak-kotak dalam sekat-sekat buatan kalian! What have you done? Tidak dapat kesempatan berpolitik di pemerintahan, lalu menjadikan agama sebagai kedok untuk berpolitik?

Pernahkah Anda jatuh cinta pada seseorang yang berbeda agama dengan Anda? Atau pernahkah Anda jatuh cinta pada seseorang yang disebut atheist atau agnostic? Akan jatuh ke mana pilihan Anda, cinta atau agama? Apa yang lebih penting bagi Anda, orang yang Anda cintai atau agamanya? Lihatlah, bukankah karena peraturan untuk menikah dengan orang yang seagama, banyak rakyat kita yang memutuskan untuk menikah di luar negeri? Hal itu bisa dilakukan kalau memiliki uang, tetapi bagaimana kalau tidak? Mengapa kita malah menghalangi dan menyusahkan hubungan cinta sepasang anak manusia dengan peraturan yang menurut saya ‘aneh bin ajaib’? Adakah Anda bertanya terlebih dahulu sebelum mencintai seseorang, “Agamamu apa?”

Sudah cukup perpecahan yang kita timbulkan. Saya tidak setuju dengan anggapan pernikahan beda agama cenderung menimbulkan masalah. Tentu saja akan timbul masalah, karena kita menganggap agama kita yang paling benar. Tentu saja akan timbul masalah, karena tindakan Anda berdasarkan atas pemahaman Anda yang salah dan sudah tertanam di dalam benak sejak dahulu kala. Kalau kita mau membuka mata, sesungguhnya pernikahan beda agama pun ada yang bisa berjalan dengan baik. Sebaliknya, tidak jarang sepasang suami istri dengan agama yang sama malah dengan mudahnya memutuskan untuk bercerai.

Izinkan saya menutup celotehan saya ini dengan sebuah cerita. Saya mendengarnya dari seorang teman:

A: “Apa kriteria utama agar seseorang bisa menjadi istrimu?”

B: “Dia harus seiman dengan saya. Bagaimana denganmu?”

A: “Kalau saya sih simple saja. Dia haruslah seorang perempuan.”

Sumber dari sini.

 

5 Responses to “Pernikahan: Cinta Atau Agama?”

  1. nadia Says:

    love it , setuju banget !

  2. pembaca Says:

    Saya tidak suka dengan pernyataan yang menghakimi orang yang memutuskan untuk taat terhadap agamanya (dengan memilih pasangan seagama) sebagai orang yang picik. Agama yang saya anut memang mempersyaratkan calon pasangan seagama, karena institusi pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan merupakan bagian dari ibadah langsung kepada Tuhan. Jika si penulis ini tidak beragama atau agamanya tidak strict mengatur pernikahan, that’s fine, that’s her choice, tetapi tidak perlu menghakimi bahwa orang yang mau menjalankan agamanya dengan benar sebagai picik, apalagi atas nama CINTA (CINTA yang disebut di sini juga cuma ke manusia lagi, bukan Tuhan). Memangnya CINTA saja cukup untuk mendapat nilai ibadah dari Tuhan? Di agama saya sih jelas tidak. Cinta kepada Tuhan itu nomor satu, setelah itu baru kepada sesama manusia.

    Sebagai penganut suatu agama, fanatik kepada agama sendiri itu harus (kalau tidak begitu buat apa memeluk agama yang sekarang dianut). Tetapi ketika bergaul dengan orang yang berbeda agama, toleransi harus dikedepankan tanpa mengorbankan prinsip fundamental dari agama yang dianut. Yang lebih lucu lagi si penulis menyayangkan bahwa temannya memutuskan untuk taat pada agamanya padahal dia pintar. Memangnya orang pintar gak boleh taat pada agama? Pintar dan taat beragama bisa sejalan dan bukan dua hal yang saling bertentangan loh (at least di agama saya sangat dimungkinkan hal seperti itu).

    Jadi di cerita ini siapa yang intoleran? Penulis atau temannya?

  3. Epiphaneia Says:

    Kalau ditanya, pernikahan: cinta atau agama, orang bisa muncul dengan jawaban yang berbeda-beda, tergantung dari prinsip hidupnya masing-masing… bagaimana ia memaknai pernikahan, tujuan pernikahan, dan agama itu sendiri. Kalau saya sih, mementingkan keduanya: cinta dan agama🙂 Masalah pemaksaan agama saya setuju dengan Anda. Kita harus saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Ketika pun seseorang terjebak di dalam hubungan yang mengharuskan ia untuk memilih antara cinta atau agama, penyelesaiannya dikembalikan lagi kepada dirinya dan pasangannya; setiap pasangan dapat memiliki solusi yang berbeda-beda. Menurut saya, yang penting keduanya jujur mengemukakan jika agama memang menjadi masalah bagi salah satu pihak atau justru keduanya, daripada justru menimbulkan masalah yang lebih besar di kemudian hari setelah menikah (walaupun apakah permasalahan itu belum tentu terjadi, tergantung dari tiap-tiap pasangan dalam menjalankan kehidupan pernikahannya). Masalah apakah pernikahan berbeda agama dan seagama itu tetap bertahan atau tidak, banyak faktor yang bermain di dalamnya. Bisa jadi yang membuatnya goyah adalah masalah perbedaan agama, atau bisa juga hal lain (kebiasaan/habit dan sifat yang tidak disukai dari pasangan yang tidak ada hubungannya dengan agama, misalnya: pemarah, cerewet, tukang ngorok, jorok, tukang perintah, dsb).

    Apakah agama menjadi hambatan atau tidak di dalam suatu hubungan, kembali lagi pada masing-masing individu yang menjalaninya. Hanya saja, yang namanya perbedaan tetap harus diakui: perbedaan sifat, perbedaan latar belakang keluarga, perbedaan suku, dan juga perbedaan agama. Bagaimana pun juga, kita harus tetap mengakui dan menghargai bahwa sebagian orang masih menempatkan satu atau lebih dari hal-hal tersebut sebagai sesuatu yang bernilai, sehingga mereka mengharapkan pasangan hidupnya memiliki kualitas-kualitas yang sama. Namanya pernikahan, (jika maknanya tidak berkurang terlebih karena maraknya perceraian di dalam maupun luar negeri) adalah suatu langkah besar dalam kehidupan seseorang; seharusnya setiap orang menginginkan orang terbaik yang dapat ia temukan untuk menjadi pendampingnya seumur hidup.

  4. pinklover Says:

    Saya jg tidak sependapat dengan penulis, sah-sah saja seseorang memilih pasangan hidupnya yang seagama.
    Menikah dengan yang seagama saja banyak perbedaan dr latar belakang, sifat dll.
    Tulisan absurb!!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s