IRIndonesia

Interfaith Relationship Indonesia

Wali Dua Iman February 6, 2011

Filed under: Esai — IRIndonesia @ 8:08 pm
Tags:

Oleh: Husein Muhammad

Sore di awal Januari itu, saya benar-benar gelisah dan berharap dengan cemas. Saya akan menjadi orang penting dalam sebuah peristiwa sakral bernama perkawinan. Ya, saya gelisah, karena ini berbeda dengan yang sering saya lakukan selama ini; mengawinkan pasangan laki-laki dan perempuan yang berbeda agama. Ini pengalaman pertama dalam sejarah hidup saya.

Saya menyetujui peran itu atas permintaan seorang teman baik. Ia menyampaikan persoalan sulit yang sedang dihadapi dua temannya. Keduanya sudah menjalin cinta entah sejak kapan. Mereka sudah “kebelet” ingin melangkah membina cinta itu dalam sebuah pernikahan. Tetapi repotnya, mereka beda agama. Sebagaimana banyak terjadi di masyarakat, perkawinan model ini selalu menghadapi banyak persoalan, terutama dari pihak orangtua dan keluarga serta soal hukum.

Masing-masing pihak keluarga merasa khawatir keyakinan agama anaknya akan berubah atau berganti alias murtad. Pada umumnya orangtua calon mempelai hanya mau mengizinkan atau merestui pernikahan anaknya dengan syarat calon menantunya menganut agama anaknya. Keadaan ini juga berlaku bagi orangtua dan keluarga dua teman saya itu. Saya diberitahu, kedua orangtua mereka juga menolak perkawinan itu. Seperti pada umumnya dua orang yang sudah saling mencinta, mereka tetap bertekad ingin melangsungkan pernikahan, meski tanpa restu orangtuanya. Hal yang kemudian terjadi adalah orangtua calon mempelai perempuan tetap ragu kalau anaknya tidak akan dipaksa pindah agama, meski telah diyakinkan anaknya bahwa itu tidak akan pernah terjadi, masing-masing akan tetap dalam keyakinan agamanya.

Dari teman yang menghubungi, saya juga diberitahu bahwa perkawinan itu antara laki-laki muslim dan perempuan Nasrani. Mengetahui ini saya menjawab dengan gaya pesantren: kalau begitu, Insya Allah deh!. Saya sudah lama tahu para ulama Islam membolehkan perkawinan laki-laki muslim dengan perempuan “ahli kitab” dan tidak sebaliknya. Ahli Kitab adalah orang yang menganut agama samawi (langit), yaitu Nasrani dan Yahudi.

Meski begitu saya segera membuka kembali kitab fikih untuk memperbarui ingatan saya. Saya membaca al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuhu karya Wahbah al-Zuhaili, al-Fiqh ‘ala Madzâhib al-Arba’ah, karangan al-Jaziri dan Tafsir Rawai’ al-Bayân, tulisan Ali al-Shabuni, untuk menyebut beberapa saja yang mudah saya cari. Wahbah menulis, “Ulama sepakat atas bolehnya perkawinan laki-laki muslim dengan perempuan ‘ahli kitab’. Dasarnya adalah surah Al-Maidah, ayat 5. Beberapa orang sahabat Nabi menikahi perempuan ahli kitab. Contohnya, Utsman bin Affan menikahi Nailah bint al Farafishah yang Nasrani. Khudzaifah mengawini perempuan Yahudi”.

Memang ada perdebatan kecil mengenai ini. Sebagian mensyaratkan bahwa kebolehan tersebut hanya berlaku bagi penganut Yahudi atau Nasrani sebelum adanya pemalsuan (tahrif) atas kitab suci mereka. Tetapi Wahbah mengatakan: “yang terkuat adalah pendapat mayoritas ulama yang membolehkannya tanpa syarat, karena teks Al-Quran itu begitu jelas tanpa syarat”. Dalam banyak perbincangan soal ini, selalu muncul perdebatan: bukankah orang Kristen adalah musyrik karena mempertuhankan Yesus?. Ini kan dilarang Al-Quran (QS,2: 221)?. Mengenai ini, al-Jaziri, sesudah mengemukakan ayat al-Maidah, 5, mengatakan: “Ayat ini menunjukkan halalnya laki-laki muslim menikahi perempuan ahli kitab berdasarkan ‘nash’ (teks explisit), meskipun perempuan tersebut mengatakan, ‘Al-Masih (Isa) adalah ‘ilah (tuhan)’ atau ‘tsalitsu tsalatsah’ (salah satu dari tiga oknum), padahal itu musyrik, Allah membolehkannya karena mereka (perempuan) menganut agama langit dan mempunyai kitab suci”.

Ali al-Shabuni, mengutip al-Alusi, seorang ahli tafsir, menulis, “Hammad, pernah tanya kepada Ibrahim tentang perkawinan muslim dengan perempuan Yahudi atau Nasrani. Ibrahim menjawab, ‘Lâ ba’sa (tidak apa-apa). Bukankah Allah menegaskan, ‘Wa lâ tankihu al-musyrikât’?” debat Hammad. “Itu kan perempuan-perempuan Majusi (penyembah api) dan Watsani (penyembah berhala),” jawab Ibrahim.

Itu argumen teks. Yang menarik adalah argumen logika. Menurut Wahbah perkawinan itu boleh karena ada sejumlah persamaan prinsip antara dua agama itu; pengakuan akan Tuhan, keimanan kepada para utusan Tuhan, dan kepercayaan ada hari akhir termasuk pertanggungjawaban amal. Beberapa prinsip ajaran ini menurutnya pada umumnya dapat menjamin “istiqomah” (stabilnya) kehidupan perkawinan mereka.

Tetapi yang lebih menarik lagi adalah soal mengapa perkawinan itu hanya sah jika calon suaminya muslim, dan tidak sebaliknya. “Kalau calon suaminya ahli kitab,” kata Wahbah, “tentu akan sangat mengkhawatirkan agama isterinya kelak. Dia bisa ditarik mengikuti agama suami karena biasanya perempuan sangat mudah terpengaruh dan patuh saja.” Jawaban Wahbah ini saya kira memperlihatkan kecenderungan umum bahwa perempuan adalah makhluk emosional, lemah dan wajib tunduk pada suaminya, termasuk dalam soal keyakinan agama, keadaan yang berbeda dengan laki-laki. Ini konstruksi pikiran patriarkhi, kata saya dalam hati.

Begitulah, meski teks-teks kitab fikih tersebut jelas membolehkan model perkawinan tersebut, tetapi saya juga mengetahui bahwa Hukum Perkawinan Indonesia tidak membolehkannya. Saya tidak tahu persis bagaimana argumen teologisnya. Dua orang calon mempelai sebenarnya sudah menghubungi KUA agar dinikahkan, tetapi kepala KUA menolak karena UU No. 1/1974 dan KHI tidak membolehkan perkawinan model demikian. Ini tentu saja menyibukkan pikiran saya. “Wah, ini bisa melanggar hukum negara,” pikir saya. Saya lalu mencoba mendiskusikan hal ini dengan teman-teman dan calon mempelai. Mereka menjawab bahwa sesudah perkawinan secara agama, keduanya akan nikah lagi di kantor catatan sipil.

Dalam diam pikiran saya terus berdiskusi. “Jika mereka tak ada yang mau mengawinkan, bagaimana hidup mereka berdua kelak? Bisa gawat.” “Bagaimana mungkin negara bisa menghalangi keinginan dua orang yang sudah ingin hidup bersama dalam perkawinan hanya karena beda keyakinan agama, padahal Islam membolehkannya, dan keyakinan agama ada dalam hati masing-masing orang tanpa seorangpun bisa memaksanya?” “Apa yang salah dari perkawinan ini?”. Pikiran saya terus mengalir. Disaksikan banyak orang pernikahan itu kemudian berlangsung lancar. Keduanya juga sudah kawin di catatan sipil. Selamat. Semoga bahagia.

Sumber dari Majalah Syir’ah Edisi Februari 2005

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s