IRIndonesia

Interfaith Relationship Indonesia

Beda Agama, So…?! February 3, 2011

Filed under: Esai — IRIndonesia @ 4:21 pm
Tags:

Oleh: Syaldi Sahude (@syaldisahude)

Masalah perbedaan dalam sebuah hubungan selalu menjadi satu masalah yang kerap muncul. Terlebih lagi, jika hubungan tersebut merupakan relasi kasih sayang dengan perbedaan latar belakang agama ataupun suku. Perbedaan tersebut menjadi masalah yang seakan tidak pernah terselesaikan di masyarakat.

Saat ini, aku sedang menjalin hubungan kasih sayang dengan seorang perempuan. Hubungan ini telah berjalan selama hampir 6 tahun dengan berbagai dinamika. Kami berdua memiliki perbedaan prinsip, aku beragama Islam dan dia beragama Katolik. Kami juga berasal dari suku yang berbeda, aku campuran antara Cina, Melayu, Enrekang dan sifat Makassar yang sangat kental. Pacarku, berasal dari suku Jawa, tepatnya Jogja. Latar belakang kami yang berbeda sering kali dipermasalahkan oleh banyak orang, khususnya keluarga kami.

Aneh memang, kenapa ini harus dipermasalahkan oleh banyak orang? Mengapa perbedaan ini menjadi hambatan sesorang untuk menjalin hubungan kasih sayang? Apa peranan masyarakat dan budaya kita? Ada sekian banyak yang muncul di kepalaku jika berpikir keras tentang masalah perbedaan ini. Masalahnya adalah, aku bukanlah satu-satunya yang mengalami masalah ini. Ada banyak pasangan yang aku temui menghadapi masalah yang sama. Kalau memang hanya aku sendiri, maka aku bisa dikatakan sebagai satu anomali, akan tetapi permasalahan ini sudah menjadi fenomena.

Saat aku berkenalan atau membangun hubungan dengan seseorang, baik itu perempuan maupun laki-laki, jarang sekali aku bertanya tentang agamanya maupun sukunya. Sungguh konyol menurutku, apabila aku hanya mau berkenalan dengan “sesama”. Dunia ini penuh warna… jangan dibuat menjadi hitam putih saja.

Sungguh janggal apabila aku ingin mencintai seseorang maka harus bertanya tentang agama dan sukunya. Begitu juga saat aku berkenalan dan menjajaki hubungan kasih sayang dengan kekasihku. Tidak satupun pertanyaan tentang agama yang aku munculkan. Yang jelas, rasa cinta yang ada dalam diriku merupakan karunia Allah SWT yang diberikan kepada manusia untuk mencintai manusia lainnya mendorongku untuk menjalin hubungan tersebut.

Aku harus jujur bahwa dalam perjalanan, berbagai perbedaan muncul. Mulai dari masalah yang sepele hingga yang sifat prinsip tidak pernah lepas dalam hubungan kami. Anehnya, permasalahan yang sering muncul adalah masalah yang jauh dari prinsip. Masalah-masalah sepele seperti kurangnya perhatian, kesibukan dengan aktivitas masing-masing, kelalaian mengingat satu hal dan intensitas komunikasi dan pertemuan yang sering mengemuka. Permasalahan yang sifatnya prinsipil seperti agama dan suku justru jauh dari sumber masalah. Kedua permasalahan ini justru menjadi topik hangat untuk dibicarakan diantara kami. Maklum, kami berdua bukan orang yang memiliki pengetahuan serta kecakapan di keyakinan kami sehingga menjadi bahan diskusi yang menarik.

Pertanyaannya seperti konsep jihad yang mengemuka, poligami, serta pandangan Islam tentang perdamaian adalah pertanyaan yang sering kami diskusikan. Begitu juga sebaliknya, aku sering mempertanyakaan berbagai hal yang terkait dengan keyakinannya. Terlepas dari penguasaan kami terhadap permasalahan tersebut, perbincangan menjadi sangat menarik. Terlebih lagi saat membicarakan masalah poligami terkait dengan budaya patriaki di mayoritas umat Islam, aku menjadi bulan-bulanan pasanganku. Sungguh, terkadang aku kewalahan menjelaskan namun bisa diselesaikan.

Saat hubungan kami memasuki tahap yang lebih serius, tantangan dari pihak terdekat kami mulai muncul. Tidak sedikit teman yang mempertanyakan perbedaan prinsip tersebut; ada yang melarang, ada yang mencibir namun ada juga yang memberikan kami semangat. Maklum, lingkungan pergaulan kami berdua cukup heterogen.

Tentangan tentunya muncul juga dari pihak keluarga, bahkan lebih keras. Justru ini adalah permasalahan yang kerap kali menjadi kendalaku. Awalnya, mereka memang tidak terlalu ambil peduli saat aku menyatakan bahwa pasanganku berasal dari keyakinan yang berbeda. Mungkin, mereka berpikir aku hanya “playing around” dan kelak akan mendapatkan pasangan yang seiman.

Orang tuaku, khususnya bapak dengan jelas menentang rencana hubunganku dengan perempuan yang berbeda agama. Maklum, beliau dibesarkan di keluarga yang konservatif dan muslim yang sangat kental. Mama’ku sebenarnya juga menentang, namun memberikan keputusan itu di tanganku. Begitu juga dengan orang tua pasanganku, penolakan itu sangat jelas! Pikirku, pastilah semua orang tua, bahkan aku kelak akan melakukan hal yang sama saat menghadapi situasi ini.

Jelas, situasi dan kondisi seperti ini mempengaruhi hubungan kami, terlebih lagi saat aku dan pasanganku sepakat untuk memasuki tahapan yang lebih jauh dalam hubungan kami, menikah! Gejolak muncul! Perdebatan muncul! Argumen beradu! Perasaan bermain! Amarah beradu! Doktrin agama ikut bermain! Dan sudah pasti kelelahan muncul. Untungnya, sampai saat ini aku mampu menghadapinya dan menyelesaikannya! Membangun pemahaman bersama merupakan pondasi kami dalam menghadapi masalah ini. Apa yang aku yakini adalah benar, behitu juga apa yang dia yakini adalah benar. Tidak ada satu kebenaran absolut selain dari kenyataan bahwa kami saling menyayangi.

Perlahan tapi pasti, kami berdua berhasil meyakinkan kedua orang tua kami. Tidak mudah memang, namun bukan juga hal yang sulit. Yang mereka butuhkan adalah penjelasan serta kesabaran untuk mendengarkan alasan kami berdua. Walaupun mereka masih keberatan, namun mereka telah meluluskan niat kami.

Aku meyakini bahwa perbedaan diciptakan untuk membuat dunia ini lebih cerah. Allah SWT menciptakan segalanya berbeda pasti dengan tujuan tertentu. Yang bisa aku lakukan adalah membuat perbedaan ini menjadi harmoni dalam membangun dunia yang lebih baik.

Jika anda seorang berpikiran sempit dan malas mengolah otak anda, aku tidak menyarankan mencari pasangan yang berbeda keyakinan. Tapi cobalah belajar sedikit dari tulisan ini.

Sumber dari sini.

 

One Response to “Beda Agama, So…?!”

  1. andre Says:

    Agama ibarat kita menemukan aksesoris idaman di pasar taman hiburan, tentunya kita sangat menyukainya, begitu pula dengan pribadi lainnya, adapun; kita boleh dan bebas memilih aksesoris agar nampak indah dipandang orang lain, sedangkan kita adalah sama, manusia yang sama, kesamaan tak ingin disakiti.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s