IRIndonesia

Interfaith Relationship Indonesia

Obrolan Cinta Lintas Agama January 24, 2011

Filed under: Esai — IRIndonesia @ 8:10 pm
Tags:

Oleh: Rizki Affiat

Setelah pergerumulan yang cukup panjang dan melelahkan, Rintis akhirnya terpaksa memilih diantara dua pilihan: konservatisme dan pengekangan orangtuanya, atau pilihan hatinya yang membebaskan jiwa. Kedua opsi itu rupanya tidak bisa bertemu di titik interseksi hingga Rintis memilih yang kedua. Ia memilih mencoba menjalani jalur kemandirian untuk mencintai: dengan kekasihnya yang berbeda agama. Dengan begitu konsekuensi yang ia ambil adalah ia hengkang dari rumah orangtuanya. Pilihannya itu tidak disetujui orangtuanya, tapi Rintis telah melalui hubungan yang gagal dengan beberapa pacar sebelumnya, yang semua satu agama dengannya. Kini, dengan pacarnya yang sekarang, meski berbeda agama, Rintis merasa telah menemukan apa yang ia cari – setidaknya untuk saat ini – dan sesuatu yang patut dicoba dan diperjuangkan.

Semua terasa cocok, kecuali bahwa mereka berbeda agama.

Sampai akhirnya kami sama-sama mendapat tempat duduk di Busway, saya menyimak kisahnya. Menyimak tentang reputasi dan latar belakang keluarga Rintis yang di daerahnya dianggap cukup ‘terpandang’ secara religius, dan apa yang membuat ia akhirnya membuat keputusan ‘hengkang’ itu.

“Kepergianmu dari rumah adalah sebuah pernyataan politik ya?” gumam saya di pertengahan obrolan. Rintis mengiyakan.

Menurut saya Rintis adalah seorang perempuan yang menarik. Ia memiliki pembawaan seorang Jawa halus yang santun, ayu, dan ’kenes’, namun memiliki semangat feminis yang cukup tangguh dan ‘keras’. Ia aktif di sebuah gerakan sosial berperspektif ‘kiri’, termasuk juga rajin berdemonstrasi. Selain itu, ia sedang menulis skripsi tentang gerakan ibu-ibu di Amerika Latin yang secara historis berdampak signifikan terhadap situasi dan kondisi politik di Brazil. Saya tak sering meluangkan waktu dengannya, seiring dengan kesibukan kami masing-masing yang terpisah jarak dan waktu, tapi sejak kami pertama kenal di kampus, Rintis selalu menunjukkan antusiasmenya yang ‘kalem’ untuk berdiskusi tentang banyak hal.

Malam itu untuk pertama kalinya kami berbincang berdua tentang persoalan pribadi. Kisah Rintis mengingatkan saya pada kisah sahabat saya yang lain juga, yang terpaksa harus memutuskan hubungan cinta mereka karena perbedaan agama. Pacar sahabat saya memiliki seorang ibu yang membenci sahabat saya hanya karena sahabat saya tidak satu agama dengannya. Pemberian hadiah dari sahabat saya kepada ibu sang pacar dianggap sebuah ‘pelet’, dan sahabat saya lebih dipandang sebagai nista ketimbang manusia yang mencintai anaknya dengan tulus.

Apakah ironis ketika segala sesuatu diantara dua orang manusia terlihat baik-baik saja dan serasi namun harus berakhir paksa karena satu hal: perbedaan agama?

Akhirnya itu membuat saya berpikir. Bukan berpikir tentang insignifikansi agama dalam urusan cinta, tapi bagaimana derajat dan konteks term ‘tauhid’ atau ‘keimanan’ itu harus kita tarik sejadi-jadinya dengan persoalan mencintai manusia.

Rintis akhirnya melakukan konsultasi dan diskusi dengan seorang cendikiawan Islam moderat yang memberinya perspektif ‘menyejukkan’ tentang problematikanya. Rintis juga mengangkat isu tentang bagaimana dalam Quran diijinkan seorang pria Muslim untuk menikahi perempuan non-Muslim tapi tidak sebaliknya: perempuan Muslim dilarang untuk menikahi pria non-Muslim. Saya merespon dengan pertanyaan dan pernyataan balik: itu kontekstual, menurut saya, tapi banyak pula yang menginterpretasikannya secara tekstual. Kontekstual dalam artian, pria Muslim dianggap boleh menikahi perempuan non-Muslim karena privilise sosial pria sebagai ‘kepala keluarga’ sehingga diharapkan (atau diasumsikan) bisa mengarahkan si istri. Perempuan Muslim dianggap tidak boleh menikahi pria non-Muslim karena dianggap nanti akan terbawa oleh si suami. Bahkan paham aliran yang lebih ‘keras’ juga melarang pria Muslim menikahi perempuan non-Muslim – mereka juga menggunakan konteks dalil dan perspektif mereka sendiri.

Pertanyaannya kemudian adalah, jika kita menggunakan kritisisme atas interpretasi patriarkis ini, maka apakah kita akan dianggap ‘mengkritik’ teks suci Quran ataukah ‘sekedar mengkritik’ konteks yang disematkan pandangan mainstream terhadap dalil Quran? Rintis menyahut bahwa itu persoalan kedua, yaitu kritisisme terhadap konteks, bukan terhadap teks suci itu sendiri. Saya sepakat. Tapi bukankah pandangan umum lebih melihat yang terutama dalam hubungan cinta (apalagi pernikahan) adalah satu agama?

Bahkan jika memang pertimbangan kesamaan agama menjadi unsur penting dalam sebuah hubungan cinta, bukankah tidak seharusnya itu melahirkan kebencian dan ketakutan bagi terhadap mereka yang menjalin cinta berbeda agama?

“Apakah kalian serius?” tanya saya.

Rintis mengatakan bahwa ia dan pacarnya menjalin hubungan serius dalam artian mereka mewacanakan pernikahan, tapi untuk saat ini mereka hanya ingin menjalankan sebagaimana adanya. Bahkan sang pacar berniat untuk pergi ke kota Rintis agar bisa menemui ibunya Rintis dan berbincang. Pacarnya Rintis bukan orang religius, cenderung lebih berat ke Marxisme dan lebih menyukai filsafat Hindu ketimbang sosiohistoris Islam. Bagi pacarnya Rintis, urusan perbedaan agama bukan soal yang substansial. Tapi juga untuk pindah mengikuti agamanya Rintis, urusannya sedikit problematis. Di sisi lain, Rintis merasa bahwa hubungan cinta mereka adalah hubungan yang membuatnya nyaman dan humanis. Hubungan yang kurang lebih – dengan segala ketidaksempurnaannya – tidak ia temukan ketika ia dulu berpacaran dengan pria-pria yang seagama, sewaktu kriterianya tentang pacar haruslah ‘memenuhi standar beragama’.

Memang tidak kita pungkiri bagi sebagian besar orang, agama adalah penentu segalanya. Tapi agama juga merupakan ruang kontestasi dimana tafsir dan teks mengundang perdebatan sesama manusia. Saya pikir dengan begitulah manusia selalu mendiskusikan dan merevitalisasi keimanannya. Bukankah dalam Quran Tuhan meminta manusia untuk menggunakan akalnya: berpikir dan merenungkan?

Persoalannya saya pikir bukan kita mencoba ‘mencari-cari pembenaran’ atau ‘memainkan’ teks suci, tapi menyadari bahwa kita harus menghormati aturan-aturan sekaligus juga terbuka pada beragam interpretasi dan menyadari konteks yang selalu ada dalam setiap sesuatu.

Apakah menjalin hubungan cinta dengan orang yang berbeda agama salah atau benar? Bukan posisi dan maksud saya untuk menarik penilaian itu ke dalam tulisan ini. Namun yang saya renungkan adalah kerumitan dari elemen-elemen yang saling berkelindan ’hanya’ karena kita mencintai orang berbeda agama.

Elemen-elemen ini antara lain hal-hal yang transenden (pahala, dosa, neraka, surga) maupun yang ’empiris’. Meski begitu, sejauh mana kita bisa memilih keputusan dalam hidup kita sendiri dan sejauh mana hal-hal transenden yang tidak bisa kita ketahui secara utuh itu harus kita korbankan atau perjuangkan?

Ketika saya berpikir bahwa manusia bebas menjalin cinta dengan siapapun secara humanis dan harmonis, bukankah ironis jika hal tersebut harus kandas karena hal transenden atas nama ’keimanan’? siapa yang berhak menilai ’keimanan’ kita? Dan jika kita katakan bahwa itu ’tertulis’ di aturan agama kita, maka apakah kita tidak bisa menelisik konteks dari aturan tersebut? Ataukah itu sesuatu yang tidak bisa ditawar lagi, sesuatu yang baku dan sakral dari langit sana?

Sumber dari sini

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s