IRIndonesia

Interfaith Relationship Indonesia

Hidup Rukun di Lembah Dumoga January 21, 2011

Filed under: Hotspot — IRIndonesia @ 7:53 am
Tags: ,

Komunitas multiagama, Hindu, Islam, dan Kristen di pedalaman Sulawesi Utara, hidup bersama tanpa konflik. Mereka adalah para transmigran dari Jawa dan Bali. I Nyoman Marayasa masih ingat betul ketika Gunung Agung meletus pada 1963. Letusan gunung setinggi 3.000 meter di Karangasem, Bali, itu melahirkan awan panas dan menumpahkan lahar pada empat kecamatan. Tanaman dan ternak, tumpas. Lebih dari seribu orang tewas. ”Letusannya dahsyat, debunya sampai ke Yogyakarta,” ujar laki-laki yang akrab dipanggil Mare itu.

Bangunan sekolah dasar di Desa Griyana Langen, tempat dia bekerja sebagai guru, juga luluh lantak. Tapi, Mare pantang tenggelam dalam duka. Dia mengelola pasokan logistik dari pemerintah, mengurus tempat tinggal, dapur umum, hingga mengatur pembangunan jamban di tempat pengungsian. ”Sejak itu saya dipercaya sebagai koordinator warga,” ujar Mare.

Ketika itu, datanglah tamu dari jauh. Dialah Manuel Ikhdar, Bupati Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Manuel menawarkan lahan perawan yang terbentang luas di daerah asalnya. ”Tanah siap, kalian tinggal mengolah,” ujar Manuel saat itu. Mare separuh tak percaya. Mana mungkin ada tanah siap pakai di daerah yang baru dibuka. Mare diminta membujuk warga setempat untuk pindah. Pengungsi yang kehilangan harapan itu pun manut. ”Kalau bapak ikut, kami mau,” kata mereka.

Maka, dimulailah lembaran baru. Sekitar 531 kepala keluarga atau 1.352 jiwa bedhol desa ke daerah berjarak ribuan kilometer dari kampung mereka. Petani, nelayan, guru, dan tukang ukir pindah ke Lembah Dumoga, sekitar 200 kilometer dari Manado. Tepat seperti dugaan Mare, di sana tak ada tanah siap olah, melainkan hutan belantara. Ya, setengah tahun lebih mereka membabat alas itu. ”Satu pohon besar dipotong 28 orang,” Mare mengenang.

Tapi, kerja keras itu tak sia-sia. Bermodal kapak dan pil kina—wabah malaria sangat hebat waktu itu—penduduk Karangasem menyulap hutan lebat menjadi kampung Bali yang permai. ”Kami beri nama Werdhi Agung,” ujar Mare. Kini tanah Lembah Dumoga yang subur itu rimbun dengan tanaman kelapa, cengkeh, dan padi. Pura berukir batu dan kayu pun ikut tumbuh subur di sana.

***

Pada 1971, Darlan muda menunaikan salat Jumat bersama para pembuka lahan asal Jawa Timur (dari Madiun, Lamongan, dan Banyuwangi) di Mopuya, desa tetangga Werdhi Agung. Mopuya terletak di Kecamatan Dumoga Utara, yang berjarak sekitar 40 kilometer dari Kotamobagu, ibu kota Kabupaten Bolaang Mongondow.

Tak ada masjid di sana. Mopuya saat itu masih dikepung hutan belantara. Mereka salat di bilik beratap seng dan berdinding papan berserut, tak lebih luas dari lapangan bulu tangkis. ”Tempat itu masjid sekaligus gereja,” kata Darlan. Hari Jumat untuk salat, hari Sabtu dan Minggu untuk kebaktian umat kristiani.

Karena warga kian makmur, tempat ibadah pun dibangun terpisah di atas lahan yang sudah disiapkan pemerintah. Tiap tempat ibadah dapat jatah tanah 2.500 meter persegi.

Secara bersamaan berdirilah Masjid Al-Muhajirin, Gereja Masehi Injil Mopuya, dan satu pura yang lengkap dengan ukiran khas Bali. Di luar kompleks, ada juga gereja Protestan lain seperti Advent dan Pantekosta, serta gereja Katolik bagi warga dari etnis Tionghoa, yang belakangan ikut meramaikan Mopuya.

Jon Samidi, 70 tahun, sesepuh Masjid Al-Muhajirin, Mopuya, berkisah tentang saat-saat awal ketika masjid itu belum lagi seindah sekarang. ”Saya malu dengan gereja dan pura yang kelihatan lebih bagus,” katanya. Maka, lelaki kekar asal Madura itu bergerak mengumpulkan dana dari warga untuk memperindah masjid. Dia juga mengisi kegiatan masjid dengan tradisi Nahdlatul Ulama.

***

Mare dan warga Wedhi Agung adalah para pionir yang sukses. Sepuluh tahun setelah eksodus dari Pulau Dewata, kabar tentang Lembah Dumoga yang hijau itu menarik Bali dan Jawa. Werdhi Agung berkembang menjadi kampung Bali, bersama dengan Desa Mupogat dan Kembang Merta di dekatnya. Tapi, kawasan ter-besar yang berkembang adalah Mopuya.

Mopuya melejit menjadi lambang kemakmuran petani. Di desa ini, hasil panen dari desa-desa sekitarnya singgah sebelum diangkut ke kota. Meski hanya kampung, Mopuya berpe-ran seperti kota kecil, lengkap dengan pasar dan kantor kecamatan. Mopuya yang berpenduduk sekitar 6.000 jiwa adalah catatan emas program transmigrasi Orde Baru. ”Ini lumbung beras bagi Bolaang Mongondow,” ujar Welly Kaisenda, warga Kotamobagu.

Mopuya sebenarnya lebih dari sekadar lumbung beras, desa ini juga ”lumbung” keberagaman. Persis di tengah desa, berdiri masjid, gereja, dan pura secara berdampingan.

Simaklah Mopuya di suatu senja. Mulanya suara lantunan azan, kemudian dentang lonceng gereja. Pada lain kesempatan, bau dupa menyebar dari pekarangan pura. ”Mereka menjuluki kami Indonesia mini,” ujar Darlan, 54 tahun, yang menjabat sebagai wakil kepala desa.

Menurut Jon Samidi, tugas terpenting adalah menjaga kerukunan umat di sana. Di ranah Dumoga berdiri beribu gereja Minahasa. Meski minoritas, Islam dan Hindu tetap terpelihara. Masjid tetap mengumandangkan azan lima kali sehari. Pengajian dan tahlil berlangsung tanpa pengeras suara. ”Kalau kami sembrono, Islam bisa jatuh,” katanya.

Ritual Hindu pun berjalan khidmat. Jika ada umat Hindu meninggal, mereka melakukan Ngaben atau pembakaran jenazah seperti layaknya di Pulau Dewata, meski jauh lebih sederhana. Jika di Bali upacara dilakukan di pinggir pantai, di Dumoga upacara berlangsung di pinggir kali. Abu jenazah dimasukkan ke dalam buah kelapa kuning bersama sesajen dan orang-orangan, lalu dilarung di Sungai Ongkak. ”Muaranya toh ke laut juga,” kata Made Pastika, pemuka Hindu di Mopuya.

Umat Hindu setidaknya dua kali dalam sebulan bersembahyang bersa-ma di pura Mopuya, yaitu saat purnama (bulan terang) atau tilem (bulan mati). Upacara dilakukan sesaat setelah azan magrib dan berhenti sejenak saat azan isya berkumandang, lalu berlanjut hingga malam hari.

Pernah, beberapa tahun lalu, Idul Fitri datang bersamaan dengan Hari Raya Nyepi. Idul Fitri lazimnya meriah dengan gema takbir, sedangkan Nyepi wajib hening. Akhirnya jalan tengah diambil. ”Umat muslim tak melewati kampung Hindu saat mereka pawai takbir,” ujar Made.

Setelah bom meledak di gereja-gereja di beberapa wilayah Indonesia pada malam Natal 2000, Mopuya ikut waspada. Umat Kristen menjaga halaman masjid kala muslim beribadah, warga Nahdliyin mengawasi sekeliling saat misa berlangsung.

***

Ada kemakmuran, hidup berdampingan, ada juga perkawinan campur. Jika terjadi pernikahan di gereja, maka misa dihadiri umat Islam atau Hindu. ”Meski mereka menyimak misa, ucapan assalamu alaikum sering terdengar,” ujar pendeta J.K. Rumondor, pemimpin Gereja Masehi Injil di Mopuya, sambil tertawa.

”Biasanya sebelum nikah, pasangan menentukan untuk memilih ikut agama apa,” kata Camat Dumoga Utara, Ida Bagus Ngurah Manuaba. Ngurah membuktikannya sendiri. Pada 1974, ia menikah dengan wanita dari etnis Mongondow, penduduk lokal Dumoga, dan menjadi muslim.

Seperti dituturkan Made Pastika, sudah beberapa kali dia melepas kemenakannya menikah dengan warga Minahasa dan menjadi umat Nasrani. Tapi bukan sekali juga keluarga mereka menarik umat muslim pindah memuja Sang Hyang Widhi. ”Kami sudah terbiasa dengan percampuran ini,” ujar Made.

Namun, Mopuya bukan tak menyimpan bara persoalan. Terjepit di tengah-tengah wilayah penambangan emas liar di pebukitan Dumoga, kerap kali desa itu menjadi tempat bertarung para penambang. Juni lalu, lima orang penambang tewas saling bacok dalam konflik memperebutkan lahan tambang.

Warga Mopuya memang harus pandai-pandai merawat keberagaman agar gesekan seperti persoalan rebutan lahan tambang tak berdampak buruk. Ada amanah yang dibebankan pada Darlan dan penduduk lainnya: ”Kalau Mopuya su picah, torang ikut picah.” Jika Mopuya sudah pecah, desa yang lain akan pecah.

Sumber dari Tempo. 25/XXXV/14 – 20 Agustus 2006

 

One Response to “Hidup Rukun di Lembah Dumoga”

  1. cumakatakata Says:

    tak jauh dari lokasi ini rumah saya…..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s