IRIndonesia

Interfaith Relationship Indonesia

Yohanes Fernandez dan Ambarwati January 14, 2011

Filed under: Tokoh — IRIndonesia @ 11:56 am
Tags:

Oleh: Lambertus Hurek

NAMANYA sebut saja Yohanes Fernandez, 27 tahun, asal Flores, tinggal di Surabaya. Pekerjaan cukup bagus, sejak kuliah sudah di tanah Jawa, dia berkenalan dengan Ambarwati. Pacaran, menjalin cinta, niat menikah.

“Saya dan dia banyak cocoknya. Ambar gak terlalu cantik, samalah dengan saya punya muka yang pas-pasan. Mana ada orang Flores ganteng? Hehehe,” ujar si John, sapaannya, kepada saya.

Tapi ada halangan besar. John beragama Katolik, aktivis gereja tulen, pernah aktif di beberapa organisasi gereja. Sebelum makan minum si John ini tak lupa membuat tanda salib. Saya sendiri buat tanda salib di dalam hati karena trauma pernah ditertawain orang. Hehehe…..

Ambar Islam tulen, bapa ibunya haji dan hajah. Salat wajib, salat sunah… tak pernah alpa. Bagaimana mau nikah? Hukum Indonesia menolak tegas nikah beda agama. Nikah ya sesama Islam, Katolik sama Katolik, Protestan sama Protestan, Hindu lawan Hindu, Buddha sama Buddha… dan seterusnya.

Mungkin, karena terlalu asyik pacaran, mereka lupa bahwa agama mereka berbeda. Bahkan, sejak awal pun John selalu ditolak orang tua Ambar tiap kali apel. “Pintu pagar selalu ditutup ayahnya. Saya dilihat dengan wajah angker, tak ada komunikasi,” cerita John.

Untung ada SMS. Mereka bisa bikin janji, pacaran di luar, lantas John mengantar Ambar ke rumahnya, di luar pagar. Mereka kucing-kucingan. Rencana nikah?

“Kami sudah bahas, tapi selalu buntu. Nggak ada solusi,” tegas John, yang cukup berwawasan itu.

Bagi keluarga Ambar, John ini manusia KUFUR alias KAFIR sehingga HARAM menikahi perempuan mukminah. Kalau Ambar nekat menikah juga, kendati tetap Islam, tidak pindah agama, maka dia tidak diakui lagi sebagai anak. Dan itu bukan perkara enteng.

“Mereka meminta saya mengalah, masuk Islam. Kan lebih enak jadi mayoritas, punya banyak teman, fasilitas ibadah buanyaak, tidak perlu repot urus izin bangun gereja, izin kebaktian, khawatir diteror dan sebagainya,” tutur John.

Bukankah itu enak? pancing saya.

“Tapi saya tolak. Saya minta jalan tengah: kita menikah tapi agama sendiri-sendiri, saling hormat. Toleransi lah.”

Bagaimana dengan anak? “Kami rencana dua anak. Anak pertama ikut ibunya, Islam; anak kedua Katolik, ikut ayahnya. Kalau Tuhan hanya kasih satu, ya, anaknya Islam saja.”

Ternyata, ‘proposal’ Yohanes ditolak mentah-mentah oleh keluarga Ambar. Lalu?

“Kami akhirnya putus baik-baik. Tetap saling menghormatis sebagai sahabat karib.

Mungkin Ambar bukan jodoh saya,” kata John yang sempat berpacaran dengan Ambar selama delapan bulan.

KASUS macam John Flores dan Ambar Jawa ini sudah sering terjadi di Indonesia, khususnya Pulau Jawa, khususnya lagi di kota-kota besar. Sama-sama pegang prinsip, tak mau mengalah… akhirnya putus. Tapi setahu saya, di gereja banyak terjadi pernikahan campur di mana suami dan istri sama-sama mempertahankan agamanya.

Pertama, disparitas cultus, yakni orang Katolik nikah sama jemaat kristen bukan dari Gereja Katolik. Kedua, mixta religio: orang Katolik nikah sama orang bukan kristiani (nasrani) seperti Islam, Buddha, Hindu, dst. Secara acak saya periksa di gereja-gereja Katolik, persentasenya cukup tinggi: 40-60 persen. Luar biasa!

Solusi ala Gereja Katolik ini tetap ditolak kaum muslim seperti keluarga Ambar di atas. Sebab, umat Islam yang baik seharusnya menikah sesuai dengan ketentuan syariat Islam. Nikah islami, ya, harus di penghulu, sama-sama muslim, ada saksi, wali nikah, mas kawin, dst. Islam tak mengenal nikah beda agama!!!

Memang, idealnya orang menikah dengan sesama agama sehingga tidak pusing kepala. Apalagi, diusir oleh keluarga wanita kayak Yohanes van Flores tadi.

Di kampung saya, Flores Timur, perbedaan agama tak pernah dianggap serius, apalagi masalah besar kayak di Jawa. Kakek nenek di kampung menganggap semua agama itu sama saja hakikatnya. Tujuannya: hidup baik, jujur, cinta kasih, adil… menuju Tuhan. Jalannya, caranya, tata ibadah saja yang beda. Lha, buat apa rame-rame? Buat apa saling bentrok?

Karena pandangan dasarnya seperti itu, ada ketentuan tidak tertulis (baca: adat) manakala menghadapi muda-mudi beda agama yang hendak melangsungkan pernikahan. Yakni, salah satunya HARUS ‘menyesuaikan’ agama alias pindah agama. Siapa yang harus pindah: laki-laki atau perempuan? Jawabannya jelas: PEREMPUAN.

Kenapa begitu?

Adat Flores Timur itu sangat patriarkis. Laki-laki itu dianggap lebih ‘tinggi’ status ketimbang wanita. Pria lah yang mewarisi hak-hak di suku (fam), bukan perempuan. Kepala keluarga itu pria, bukan wanita. Jadi, tidak peduli mana agama mayoritas atau minoritas, perempuan diminta ‘menyesuaikan’ agamanya dengan laki-laki.

Pada saat pemberkatan di gereja, keduanya sudah Katolik. Sebaliknya, saat akad nikah di penghulu, keduanya sudah sama-sama Islam. Tak ada yang merasa kalah atau menang, karena ketentuan adatnya memang sudah begitu.

Flores Timur memang kawasan Katolik, tapi bukan berarti si Katolik harus menang. Biarpun di kampung itu umat Islam hanya 10 keluarga, Katolik 200 keluarga, jika pemuda Islam hendak menikah dengan gadis beragama Katolik, maka gadis Katolik ini lebih dulu menjadi Islam.

Beberapa tahun lalu, putri seorang pejabat teras di Flores Timur pun harus masuk Islam karena akan menikah dengan pria beragama Islam. Itu biasa saja. Tak ada yang geger atau merasa ‘kalah’, hanya karena anak pejabat masuk Islam.

“Sejak dulu, ya, adatnya begitu. Perempuan itu mengikuti agama suami,” kata Om Benediktus, keluarga dekat saya.

ADAT Jawa tentu beda. Dalam pengamatan saya, yang sejak SMA sudah tinggal di Jawa Timur, adat Jawa sudah mengadopsi sebagian besar (bahkan, hampir semua) ketentuan hukum Islam. Ini karena proses islamisasi di Jawa sudah berjalan ratusan tahun sejak ambruknya Kerajaan Majapahit. Artinya, hukum adat Jawa itu ya sami mawon atau idem ditto dengan hukum Islam.

Nah, Ketentuannya jelas: calon pengantin yang bukan Islam (tak peduli pria atau wanita) HARUS masuk Islam lebih dulu agar bisa menikah secara sah dan diterima secara luas. Masyarakat akan geger manakala si Islam itu pindah agama mengikuti agama calon suami/istri. Bisa juga mereka akan dikucilkan dari masyarakat. Tak menutup kemungkinan, kelompok garis keras menangkap Yohanes (sebagai misal) karena dianggap membuat MURTAD anak orang.

Namanya juga adat, walaupun terkesan ‘menang sendiri’, ya harus kita hormati. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung! kata pepatah.

Saya pernah memberi wawasan ini kepada John. “Kalau anda bersedia dan ikhlas masuk Islam, maka semua persoalan beres. Orang tua Ambar akan menerima anda dengan senang hati, dikasih kopi kental manis hehe…. Selama pacaran mereka keberatan karena anda bukan muslim. Sebagai orang tua, tentu saja, mereka tak ingin punya mantu bukan Islam. Mereka khawatir anak gadisnya murtad dan kemudian masuk neraka. Wajar, bukan?” saya memberi kuliah gratis.

“Saya sudah tahu,” jawab John. “Tapi saya maunya agama masing-masing,” tambahnya.

“Ini Jawa, Bung, bukan Flores! Lain lubuk lain ikan, lain tanah lain adat,” saya langsung menukas.

Saya kasih usulan kompromi lagi–juga biasa saya usulkan kepada teman-teman Flores yang sudah lengket benar dengan gadis Jawa-Islam.

“Sekarang tergantung rencana masa depan. Anda mau berdomisili tetap di Jawa atau Flores. Kalau rencana buka usaha di kampung (Flores), punya anak cucu di Flores, sebaiknya calon istri mengalah, masuk Katolik. Tapi kalau anda akan tetap tinggal di Jawa, hanya sekali-sekali liburan di kampung, ya, anda saja yang masuk Islam. Itu win-win solution,” ujar saya.

John alias Yohanes menolak usulan kompromi ini. Ya, sudah. Kalau begitu, anda harus berkenalan, berpacaran… dengan gadis Katolik agar bisa menikah. Atau, kembali ke kampung, menikah sama gadis kampung, lalu bawa istri anda ke Jawa. Kalau anda tetap begini, ya, anda tidak pernah bisa menikah di tanah Jawa. Wong hukum adat dan hukum nasional (Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974) menganut ketentuan seperti itu.

“Hei, Bung, hukum itu dibuat untuk manusia atau manusia untuk hukum?” protes John, yang banyak makan buku itu.

Saya enggan menanggapi karena sudah capek membahas kasus kawin campur beda agama. Kasus pelik yang belum ada solusinya di Indonesia.

Sumber dari sini

 

One Response to “Yohanes Fernandez dan Ambarwati”

  1. Philipus Ramdhoe Weking Says:

    Memang betul kalaiu di Flores Timur perbedaan agama tidak benar” kental. Tapi kalau masuk tanah jawa memang hal itu akan sangat terasa. Tapi itulah relita hidup di tanah jawa yang saranya sellu ditonjolkan.. Hal seperti ini akhrnya berpulang pada generasi muda kita untuk menyikapinya dengan bijaksana.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s