IRIndonesia

Interfaith Relationship Indonesia

Sekelumit Tentang Mailing List Kawin Campur January 6, 2011

Filed under: Esai — IRIndonesia @ 7:00 pm
Tags: ,

Mailing list kawin campur terbentuk awalnya (2 Maret 2005) atas inisiatif Lia dan Adi, Nita, juga Arum dan pasangannya. Kemudian para insiator ini bertugas menjadi moderator milis yang kemudian ditambah Wahyu.

Pembentukan awal milis ini mendapat sambutan sangat hangat, terbukti dari jumlah individu yang mendaftar menjadi anggota. Ada lebih dari 100 orang. Saat ini tercatat 145 anggota. Angka yang sangat menggembirakan. Tujuan dari pembentukan milis ini pada dasarnya adalah sebagai wadah untuk pasangan beda agama yang akan menikah dan sedang menjalani rumah tangga. Kita menyadari betapa banyak kendala menghalang, maka dibutuhkan dukungan sesama yang mengalami kasus yang sama dan tentu saja untuk bisa saling sharing dan mencari jalan keluar untuk bisa tetap mempertahankan hubungan dan melanjutkan ke pernikahan secara legal.

Pernikahan beda agama di Indonesia tidak dipekerkanankan, dasar hukumnya adalah UU Perkawinan tahun 1974. Tapi kita tidak dapat menutup mata bahwa pernikahan beda agama tetap ada. Jumlah pasangan beda agama yang mendaftarkan penikahan mereka di Singapura dan Australi pun semakin marak. Kemudian muncullah beberapa lembaga yang simpati akan isu ini dan mencoba menolong para pasangan beda agama yang ingin melangsungkan pernikahan di Indonesia. ICRP, Wahid Institute, Paramadina dan Percik adalah sebagian nama lembaga yang bersedia membantu para pasangan beda agama, mulai dari konseling, mencarikan penghulu atau pendeta yang bersedia menikahkan, sampai mencatatkan pernikahan pada kantor catatan sipil.

Tapi tidak banyak pasangan beda agama yang tahu tentang informasi ini, sehingga tak sedikit mereka yang terpaksa mengganti data agama dalam kartu identitas mereka agar bisa menikah dengan pasangannya, atau malah terpaksa pindah agama. Sesungguhnya ini tidak perlu andai mereka tahu bahwa ada banyak pihak yang mau membantu, termasuk ahli agama dan petugas lembaga agama sekalipun.

Keinginan untuk menjembatani sharing dan diskusi dengan tema besar inilah dasar kuat tujuan milis kawin campur ini. Selama satu setengah tahun usia milis ini ada pasang surut alur diskusi. Banyak anggota yang memilih untuk pasif dan hanya bertanya jika mereka butuh informasi teknis, sesudah itu berhenti partisipasi. Tapi tidak mengapa, mungkin banyak yang masih sungkan.

Sudah lama ada keinginan untuk saling bertemu antar anggota milis supaya lebih kenal dan lebih akrab untuk bisa saling bicara. Akhirnya tgl 18 Oktober 2006 keinginan itu bisa terwujud. Memang hanya sedikit yang bisa hadir (13 orang), dan beberapa bahkan adalah simpatisan yang mendukung hak para pasangan beda agama.

Saya cantumkan di sini isi catatan pertemuan yang saya sampaikan melalui milis, siapa tahu juga bermanfaat buat yang lain. Dan siapa tahu malah makin banyak yang berminat untuk subscribe dan jadi anggota milis ini:) Kita berencana untuk mengadakan pertemuan rutin dengan berbagai tema kecil.

Saya pribadi tidak setuju negara ikut campur dalam urusan privat warga negara dalam urusan agamanya. Ini hak masing-masing pihak untuk memeluk agama apa atau bahkan memilih tidak beragama sekalipun. Dan adalah hak individu untuk memilih dengan siapa dia akan menikah, tak terbatas oleh suku, warganegara atau agama. Tugas negara melalui kantor catatan sipilnya hanyalah mencatat pernikahan tersebut, ini hak dari tiap warga negara.

Catatan hasil pertemuan 18 Oktober: 13 orang hadir dalam pertemuan ini menjadikan cerita dan sharing semarak dan menarik. Semua berbagi, semua mendapat banyak hal.
Kami ber-13 yang hadir adalah:
1. Dr. Martin Sinaga,
2-3. Alamsyah dan Fathuri (dari majalah Syir’ah yang memang menekankan isu pluralisme dalam rubrik2nya)
4. Wati (Muslim), datang sendiri krn pasangan (Protestan) sedang tugas ke luar kota.
5. Sutta (Buddha) menikah dengan penganut Hindu, juga datang sendiri.
6-7. Monica (Katolik) dan Salim (Muslim),
8-9. Putu Ayu Wulansari (Muslim, sebelumnya Hindu) dan Anggoro (Katolik),
10-11. Ayu (Muslim) dan Berthus (Katolik),
12-13. Stella (Protestan) dan Wahyu (Muslim).

Pertemuan berlangsung santai tapi sarat dengan cerita dan masukan. Diawali dengan kisah dan pergumulan masing-masing yang hadir. Ternyata dari cerita yang bergulir muncul kesimpulan bahwa pasangan berbeda agama mengalami kendala dalam tiga lapisan:

1. Orang tua dan keluarga.

Hampir tiap yang hadir merasakan kesulitan dalam menghadapi orang tua dan keluarga, terutama yang sangat aktif di komunitas agama. Salim mengalami kesulitan menyampaikan niatnya untuk menikah dengan pasangan beda agama karna sang ibu adalah salah satu pendiri Muhammadiyah di Jogjakarta. Akhirnya pendekatan pelan-pelan dilakukan lewat Bude (kakak tertua dari ayah) tapi tetap sikap ibu belum melunak.

Profesi orang tua sebagai salah satu anggota majelis gereja juga membuat proses pendekatan ke keluarga dan rencana membincangkan niat menikah dalam dua prosesi agama mengalami kendala. Ini dirasakan oleh Wati dan pasangannya.

Aktifnya seluruh anggota keluarga dalam aktivitas di gereja juga membuat proses pendekatan ke orang tua tersendat. Anggoro mengalami ini. Penyakit yang diderita ibu, juga sikap ibu yang tidak menenggang perbedaan terutama dalam pernikahan anaknya, membuat saya lambat sekali melakukan persiapan proses pernikahan.

Namun, masukan dari teman-teman menunjukkan bahwa orang tua dan keluarga tetap bisa didekati dan banyak cara yang bisa dilakukan. Berthus dan Ayu, misalnya, mengumpulkan banyak buku sebagai referensi dalam berdiskusi dan meyakinkan orang tua. Mereka juga mencoba mencari dari keluarga (yang menikah beda agama) dan bisa menjadi contoh yang baik sebagai acuan. Alhasil meskipun orang tua Ayu sudah naik haji berkali-kali tetap mereka bisa menerima pernikahan anaknya.

2. Agama.

Masih banyak lembaga agama yang tidak mau menikahkan pasangan beda agama. Atau ada juga beberapa lembaga yang bersedia menikahkan beda agama tapi dengan beberapa syarat. Bahkan tokoh agama banyak yang menganggap pernikahan beda agama adalah haram.

Berthus dan Ayu sudah menikah secara islam, tapi belum melaksanakan pernikahan secara katolik karna masih dalam proses mencari pastur yang bersedia membantu prosesi pernikahan. Anggoro pun yakin pastur di parokinya sangat konservatif dan tidak akan bersedia menikahi pasangan beda agama. Saya dan Wahyu pernah berniat menikah di salah satu GKI. Mereka sangat bersedia membantu. Tapi yang mengurungkan niat kami adalah adanya surat yang harus ditandatangani yaitu perjanjian bahwa jika ada anak-anak dari kami kelak harus menganut agama protestan.

Meskipun demikian tetap ada lembaga yang bersedia membantu. Ada ICRP (Indonesian Conference on Religion and Peace, http://www.icrp-online.org, email: konseling_nba@yahoo.com), Wahid Institute (www.wahidinstitute.org) dan Paramadina. Juga ada beberapa gereja yang bersedia menikahkan beda agama tanpa meminta syarat, misalnya GKJ di Salatiga (tempat Adi dan Lia menikah), dan beberapa gereja lain (mungkin teman-teman lain bisa menambahkan informasi tentang ini).

Wati mencoba belajar dan lebih mendalami sudut pandang agama Islam tentang pernikahan beda agama melalui Ibu Musda Mulia. Melalui ibu Musda banyak pemahaman lebih mendalam didapatkan oleh Wati tentang ini.

3. Negara/Institusi.

Sesungguhnya adalah kewajiban negara untuk mencatat pernikahan warga negaranya. Pernikahan pada dasarnya adalah pilihan hak pribadi dan adalah tugas negara untuk mewadahinya. Halangan mencatatkan pernikahan di catatan sipil membuat pasangan berbeda agama sering menempuh cara dengan melangsungkan pernikahan dengan satu prosesi saja dan mengganti identitas agama dari salah satu pasangan.

Kembali, lembaga-lembaga seperti ICRP, Wahid Institute dan Paramadina dapat membantu pasangan beda agama agar pernikahannya dapat dicatatkan dan sah tanpa harus ada yang mengubah identitas agama.

Melalui wawancara hukumonline (www.hukumonline.com) dengan Ibu Lies Soegondo (Ketua Konsorsium Catatan Sipil dan anggota Komnas Ham) ditegaskan bahwa saat ini sudah ada RUU Catatan Sipil yang mengatur administrasi kependudukan untuk tiap warga negara untuk menghapus diskriminasi. Draft dari RUU Catpil sudah siap dan saat ini sedang dibahas dalam Depdagri untuk dijadikan bagian dari RUU Administrasi Kependudukan.

Dalam pertemuan, Alam dan Fathuri membagikan majalah Syir’ah terbitan Mei 2006 yang topik utamanya memaparkan pendidikan agama pasangan beda agama. Pendidikan agama anak pasangan beda agama memang menjadi isu tersendiri. Banyak orang tua yang sebenarnya ingin membiarkan anaknya memilih agamanya kelak saat ia dewasa, tapi peraturan negara meminta setiap warga negara sejak dilahirkan sudah mencantumkan agamanya di kartu keluarga. Sekolahpun meminta penjelasan tentang agama sang anak dengan alasan agar bisa mencantumkan di identitas anak dan bisa mengelompokkan untuk pelajaran agama. Ini yang dilematis karna pensyaratan pencatuman agama tetap diwajibkan untuk kartu identitas warga negara.

Melalui pertemuan ini kami menyepakati beberapa hal:

Membuat pertemuan rutin dengan tema yang berbeda bekerjasama dengan berbagai pihak, antara lain ICRP, Wahid, Syir’ah, Paramadina, dll. Pertemuan sangat penting agar bisa saling mendiskusikan berbagai topik dan juga membuat kelompok ini semakin kuat juga membantu jika ada pasangan yang membutuhkan bantuan berupa konseling dll. Hasil pertemuan diharapkan kelak bisa dipublikasikan sehingga semakin banyak orang yang memahami isu ini dari berbagai sudut pandang.

Mengaktifkan anggota milis ini agar mau urun rembuk dalam segala tema, tidak hanya seputar persoalan teknis dalam prosesi pernikahan tapi juga tema seputar persoalan hukum, pluralisme,dll yang masih berkaitan dengan pokok pernikahan beda agama.

Sutta berniat mengusulkan agar komunitas ini kelak bisa tampil dalam rubrik komunitas di Kompas Minggu agar lebih dikenal dan bisa mengundang semakin banyak anggota. Memperkuat kelompok ini agar bisa mengusulkan banyak perubahan dalam hal undang-undang perkawinan.
Mengubah persepsi sosial dan menegaskan bahwa pernikahan beda agama adalah sah dan legitimate. Mencoba melakukan polling survey mengenai sikap terhadap pernikahan beda agama, terhadap semua pihak tidak saja yang menikah beda agama. Membuat database pasangan menikah beda agama. Ada juga beberapa teman yg bahkan mengajak untuk bikin bisnis cafe bersama yang bisa mendatangkan untung dan cafe sekaligus bisa sebagai tempat untuk pertemuan, atau bahkan resepsi pernikahan teman2..boleh juga ide ini:)

Itulah sedikit rangkuman hasil pertemuan 13 kami yang hadir di plasa semanggi, 18 Oktober 2006. Sampai bertemu di rangkaian diskusi berikutnya. Jika ada teman-teman yang mau mengajukan tema untuk pertemuan selanjutnya, silahkan. Milis inipun siap menampung berbagai diskusi.

Ada satu persamaan mendasar dari tiap pasangan yang hadir dalam pertemuan tersebut, yaitu sifat yang keukeuh/ngotot. Memang, untuk memperjuangkan satu hal yang kita yakini benar haruslah keukeuh.

Sumber dari sini

 

5 Responses to “Sekelumit Tentang Mailing List Kawin Campur”

  1. anne Says:

    teman2….minta tolong informasinya…alamat, nama gereja, telp dan kontak person..gereja yang mau menikahkan pasangan beda agama…

    terima kasih

  2. nella Says:

    Mau join di milis na kawin campur gmna cara nya?? Krn saya ingin share masalah saya..

  3. harbainah Says:

    Gimana caranya menikah beda agama..? kasitau dong yg jelas biar saya ngerti…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s