IRIndonesia

Interfaith Relationship Indonesia

Pernikahan Beda Agama: Sebuah Pilihan January 6, 2011

Filed under: Esai — IRIndonesia @ 6:58 pm
Tags:

Oleh: Silly

Membaca tulisan HFM, tentang sesusah itukah hubungan beda agama itu, saya jadi tergelitik untuk menulis ini.

Well, if you ask me, I will say, “NO!”, kalau yang anda tanyakan konteksnya adalah pacaran beda agama.

Karena buat saya, Yang namanya jatuh cinta itu gak ada yang salah, asal dengan catatan, dua-duanya masih single loh ya!!! Pacaran itu adalah moment untuk SALING mengenal, SALING mencari kecocokan, apakah kita bisa “klik” satu sama lain atau tidak. Jatuh Cinta lalu pacaran menurut saya merupakan moment yang paling indah, yang dihadirkan dalam hidup seseorang. JADI NIKMATI SAJA MOMENT INDAH ITU.

Merasakan betapa nikmatnya mencintai dan dicintai, kangen-kangenan dsb merupakan moment yang paling manis.

BUT…

When It comes to MARRIAGE, I will absolutely say, “YES!!! It’s gonna be a very very very very very very complicated life”

*Lohhh, kok gitu sih mbak Sil?

Lah iya dong. Coba anda bayangkan, menikah seiman aja rumitnya minta ampun, gimana pulak kalo harus menikah beda agama? Biar bagaimanapun tidak mungkin ada dua nahkoda dalam satu bahtera yang kita sebut Rumah Tangga.

*Trus kalo dah terlanjur menikah beda agama gimana dong mbak? Susah gak?

Well, saya pribadi juga ngalamin kok, dan rasanya saya perlu berbagi untuk anda, siapa tahu bisa jadi pelajaran berharga untuk anda semua. Saya gak ingin menggurui anda, jadi sebaiknya saya cerita saja pengalaman saya sendiri.

Ada yang pernah nanya sama saya, “Berat gak sih mbak, ngejalanin pernikahan campur itu?”

To be honest, BERAT BANGET!!!!

Jujur, sangat melelahkan malah, terutama jika kita harus terus menerus korban perasaan demi menjaga perasaan orang lain, atau demi menjaga perasaan keluarga pasangan kita.

Beberapakali saya mengalami hal ini.

Komitmen kami diawal, kami tidak akan memaksakan agama kami masing2 kepada pasangan, karena agama itu bukan hubungan horisontal, antara kita dan pasangan, melainkan hubungan vertikal, antara saya dan Tuhan saya.

And no body has the right to disturb that relationship!!!.

*saya pikir saya perlu headline paragraf ini, untuk menjawab pertanyaan teman2, apakah sebelumnya tidak dibicarakan dulu mengenai bagaimana menjalani ini kedepannya?. Dan yang kami bicarakan hanya yang manis2nya saja, lupa membicarakan kemungkinan yang pahit2nya, yang justru lebih banyak terjadi ketimbang mimpi indah kami dulu. But again, ini bukan keluhan. This is just a share about marriage life.😀

Dalam perjalanannya, semua tidak semudah yang saya bayangkan. Semua tidak seindah yang saya impikan semula. Butuh kematangan hati dan kepribadian untuk benar2 bisa menjalani pernikahan beda agama ini… kalau tidak siap dengan konsekwensi dibalik ini semua, mending urungkan niat anda untuk menikah beda agama (tidak semua pernikahan beda agama itu tidak brhasil, namun hampir semua mengalami guncangan hebat dalam rumah tangga mereka).

Demi ketenangan batin keluarga pasangan saya, dan tentu saja pasangan saya sendiri, akhirnya saya memilih untuk mengalah, dengan tidak kegereja, dan tidak melakukan kegiatan keagamaan saya sama sekali. Meskipun jujur saja, saya suka ngumpet-ngumpet dengerin lagu2 rohani, dan terpaksa tidak menunjukkan secara terang-terangan segala aktivitas keimanan saya…

Ini membuat saya sangat tidak sejahtera… SIAPA SIH YANG TIDAK RINDU TUHANNYA??? Batin saya kering dan tertekan, Jiwa saya haus akan Tuhan, bagai ladang kering yang menanti setetes embun dipagi hari.

Berkali2 saya harus jumpalitan ngumpetin semua benda2 yang berhubungan dengan aktivitas kerohanian saya, tiap kali mertua saya berkunjung kerumah. Dan satu ketika, disaat saya ketahuan, saya dipanggil dan disidang, disuruh memilih antara berpisah dengan suami saya, atau pindah agama benar-benar.

Jujur, ini membuat saya sangat tertekan. Tapi menceritakan perasaan saya pada pasangan hanya akan membuat kami saling menyerang, dan bertengkar dihadapan anak kami. Dan tentu saja ini akan sangat mengganggu pikirannya. Saya tidak ingin membuat dia pusing mikirin ini, lalu gak bisa mikir dan akhirnya pekerjaan kantornya terbengkalai. Saya memutuskan untuk memendam saja perasaan saya sendiri.

Tidak terhitung lagi berapa malam yang saya lalui dengan menangis sendiri didalam kamar. Jiwa saya kosong, saya benar-benar merindukan Tuhan saya.

Dulu, ditiap malam, ketika semua orang sudah terlelap, saya terbangun, dan ditemani suara jangkrik dan semilir angin malam yang mengalir melalui celah pintu balkon kamar saya, saya tersungkur dihadapan Tuhan dan menangis dalam doa,

“Tuhan, berapa lama lagi aku harus menjalani kehidupan seperti ini? Aku lelah Tuhan, aku butuh Engkau Tuhan. TanpaMu, aku tidak sanggup menjalani kehidupan ini”

Ah, saya tidak bermaksud menyatakan bahwa pernikahan beda agama itu tidak pernah bahagia. NO!!. Pernikahan yang saya jalani sama saja dengan yang lain,… ada kalanya saya juga diijinkan Tuhan untuk mengalami moment-moment yang paaaaling indah dalam hidup saya.

Hanya saja, kekosongan yang saya rasakan dalam hati saya selama bertahun-tahun, membuat saya benar-benar tertekan menjalani pernikahan saya. Saya tidak pernah menampakkan ini pada siapapun karena saya tidak ingin orang tahu perasaan saya, karena ini konsekwensi dari keputusan saya untuk memilih jalan ini.

Kalaupun kali ini saya ceritakan pada anda, karena saya ingin kalian semua, sahabat2 saya yang masih muda2 ini, dan sedang bimbang untuk memutuskan memilih mana yang terbaik, barangkali bisa berkaca pada pengalaman saya.

Mungkin apa yang akan anda alami tidak akan persis sama seperti yang saya alami, karena beda kepala, pasti juga beda cara berfikir dan cara pandangnya. But at least, ada masukan yang bisa dijadikan pelajaran supaya anda tidak mengalami seperti apa yang saya alami, tidak memaksakan kehendak kepada pasangan, dan tidak membiarkan pasangan anda harus berkorban perasaan untuk menyenangkan salah satu pihak, karena dengan demikian, ini akan jadi bom waktu yang siap meledak setiap saat.

Coba bayangkan bagaimana perasaan anda ketika hari raya keagamaan, dan anda tidak bisa merayakannya karena gak enak sama pasangan anda.

Fyi, Saya paling gak tahan jalan2 di mall, bulan desember, karena tiap kali mendengar lagu2 Natal mengalun merdu ditiap sudut, mata saya selalu berkaca-kaca, dan saya terkadang harus menggigit bibir kuat-kuat untuk menahan diri supaya tidak menangis, namun batin saya menjerit,

“Tuhannnnn, saya rindu rumahhh… Saya rindu rumah Tuhan… Rindu papa mama dan seluruh keluarga besar saya, berkumpul bersama didekat pohon natal, praying together, singing christmas song together, hugging each other, and feel the love all over the air. Kangen tuker tukeran kado… And most of all, Gosh… Saya rindu merayakan natal kecil-kecilan dalam keluarga kecil saya”

Dulu sebelum menikah, saya membayangkan betapa nanti bakal sangat menyenangkannya hidup saya… Lebaran2,… bakal ketemu2 dengan seluruh keluarga besar suami saya, salam2an, saling cerita dan bersenda gurau. Emang pasti melelahkan, tapi menyenangkan, karena moment2 seperti itu gak akan bisa sering2 terjadi.

Buat si anak, menyenangkan karena dapat baju baru, ketemu keluarga dari pihak ayahnya, dapat angpao yang banyak, dan bisa pamer mainan barunya ke sodara2nya😀

Dan ketika natalan tiba, lagi-lagi saya bisa senang2 sama keluarga saya, sahabat dan kerabat, merayakan natal dengan keluarga kecil saya, dan tentu saja anak saya pasti akan senenggg banget, karena bisa pake baju baru lagi, qiqiqiqiqiq… dapat angpao lagi. Ahhhh,… perayaan2 seperti ini selalu menyenangkan buat saya, apalagi anak kecil, pasti lebih senang lagi.

Namun balik lagi, REALITY BITES… karena kenyataan tidak pernah seindah mimpi, tidak pernah seindah yang kita bayangkan.

Perasaan tertekan yang saya rasakan, jelas bukan cuma saya yg merasakan. Saya yakin, pasangan saya pun juga merasakan hal yang sama tiap kali menjelang lebaran tiba. Siapa sih suami yang tidak kepengen Istrinya ikut sholat Ied bareng2 dengan dia, dan dengan bangga bisa diceritakannya pada keluarga dan handai taulannya ketika ditanya, “Tadi sholat dimana?”

Nahhhh, kalo sudah begini, dua orang yang tertekan hidup dalam satu rumah, apa jadinya?

Kebayang gak?, dua orang yang tertekan disatukan dalam satu atap,.. bercampur beragam problema kehidupan yang tidak kalah bikin mumetnya… Kebayang khan bagaimana rumitnya rumah tangga seperti itu?…

Pernikahan yang seiman, barangkali akan jauh lebih baik, karena meski ada masalah,… kita bisa sama-sama membahasnya dari sisi keimanan kita,… sesuai dengan yang kita yakini bersama.

Itu baru masalah yang melibatkan dua belah pihak.

BAGAIMANA JIKA ADA ANAK????

Wahhhh, lebih sulit lagi…. Berebut ngajarin anak bakal ikut siapa nantinya, tentu membuat anak juga jadi ikut tertekan dan bingung. Yang ada, dia malah hilang arah, padahal pendidikan dasar moral dan spiritualitas menurut saya justru harus ditanamkan sedini mungkin, sejak mereka masih kecil. Lahhh, bagaimana mendidik anak jika kedua orangtua masih tetap bersikeras untuk terus berseberangan???

Pengertian dan keikhlasan untuk anak dididik sesuai dengan agama yang dianut oleh si ayah atau si ibu, harus didapat dari kedua belah pihak. Sejatinya sih, si anak lebih baik dididik sesuai iman yang dianut si ibu, lalu ketika si anak sudah siap untuk memilih agamanya sendiri,… beri dia kebebasan untuk mengikuti kata hatinya, karena sekali lagi… Kepercayaan itu adalah hubungan antara kita dengan Tuhan kita, dan tidak satupun yang berhak untuk ikut campur dalam hubungan vertikal kita dengan Tuhan.

Komunikasi yang baik rasanya merupakan kunci yang paling ampuh jika sudah berada dalam kondisi yang seperti ini. Intinya cuma butuh kedewasaan dan TOLERANSI yang tinggi untuk bisa menjalani pernikahan campur yang adem ayem tentram dan tenang.

Semoga pengalaman saya bisa jadi pelajaran buat yang lain. Jangan takut, karena jika kita siap dengan segala konsekwensi, berwawasan terbuka, tidak fanatik berlebihan dan lebih menganggap agama sebagai HAK MUTLAK tiap manusia yang tidak mungkin bisa diganggu gugat, dan toleran terhadap seluruh aktifitas keagamaan pasangan kita… Rasanya sih hubungan anda akan baik2saja… meskipun tetap… PASTI AKAN SELALU ADA YANG HILANG.

Anda siap? Go Ahead… Gak Siap atau ragu? Mending mundur teratur deh!!!

Selamat menentukan jalan hidup anda,

Salam hangat,

Silly

*yang masih tetep berusaha, karena percaya, meskipun melelahkan, segalanya akan indah pada waktunya😀

Sumber dari sini

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s