IRIndonesia

Interfaith Relationship Indonesia

Ni Gusti Ayu Sukma Dewi January 6, 2011

Filed under: Tokoh — IRIndonesia @ 7:02 pm
Tags: ,

I

Saat kecil, saya hidup di Bali dengan kultur Hindu, tapi hanya sampai usia 5 tahun. Kemudian Papi saya mendapat beasiswa dari Indiana University di Amerika Serikat. Setelah itu, kami kembali ke Jakarta. Dan di tahun 1965-1966, ketika pecah peristiwa G30S/PKI, berbagai macam cobaan menerpa kami. Ayah saya sendiri hampir juga dihabisi.

Oleh sebab itu, untuk keamanan, saya dibawa ke Jogjakarta. Nah, di Jogja itu, kebetulan keluarga dari ibu saya kebanyakan pengikut Muhammadiyah. Jadi pagi-pagi sekali saya biasanya sudah bangun tidur, kemudian ikut juga ke langgar untuk belajar alif-ba-ta’. Belajar agama bagi seorang muslim di masa itu, memang sangat berbeda dengan sekarang. Saat itu, saya melihatnya sangat alamiah dan merupakan bagian kebutuhan seorang anak manusia untuk mengetahui lebih dalam nilai-nilai keagamaannya.

Sejak kecil saya sudah dikenalkan dengan agama-agama lain selain Hindu terutama dari pihak Eyang. Karena dia dari keturunan Hamengkubuono II yang memang sangat intens dengan Islam dan juga ajaran kejawennya. Jadi kira-kira, sangat menekankan harmoni. Nah, sampai usia kira-kira 12 tahun, saya sudah dapat menyaksikan alangkah indahnya panorama yang warna-warni seperti itu. Sebab ayah saya seorang Hindu, ibu saya seorang muslim, dan saya kebetulan punya banyak teman dari kalangan Kristen.

Dari situlah saya ingin—tidak mengombinasikan—tapi melihat kelebihan-kelebihan dari nilai-nilai agama tersebut. Ternyata memang nilainya itu sangat personal atau tergantung individu masing-masing. Bagaimana kita berdiskusi dengan Tuhan, medianya ternyata diri kita sendiri. Oleh sebab itu, saya bahkan mencoba aktif di Paguyuban Estu Tunggal. Kelompok ini semacam kelompok kerohanian yang sangat menekankan budi pekerti. Di situ kita berkumpul bersama komunitas orang-orang dari beragam agama, lintas agama. Setiap hari Rabu, kita melakukan introspeksi untuk menilai hal bermanfaat apa yang sudah kita lakukan buat orang banyak dalam seminggu perjalanan kita itu.

Nah, bergaul dan mengenal nilai-nilai agama secara personal tadi, memberikan ringkasan kepada saya bahwa seluruh agama itu pada hakikatnya baik, termasuk Hindu, Islam, Kristen, dan juga agama lain. Semua mengajarkan kebaikan. Pertanyaannya, kalau kemudian terjadi sesuatu yang menodai kebaikan ajaran dan nilai-nilai agama itu, siapa yang salah?

II

Orang tua saya sangat demokratis. Beliau sedari awal memang sudah menekankan kepada kami sekeluarga bahwa segala sesuatunya itu ada karma palanya. “Kalau kau tidak ingin disakiti, jangan menyakiti orang lain,” pesannya. Dan, hidup ini adalah mampir ngombe.

Lebih dari itu, konsep surga dan neraka di dalam Hindu itu berbeda dibandingkan dengan agama-agama lain. Pada karma itulah sebetulnya ada surga dan neraka. Ketika perbuatan baik segera kita lakukan, dalam kehidupan selanjutnya tentu kita akan memetik buahnya. Jadi surga tidak dipersonifikasikan sebagai sebuah tempat yang indah di alam lain kelak, tapi di dunia ini juga bisa kita buat surga dan neraka.

Berbekal pesan-pesan semacam itu, saya tetap menempatkan agama sebagai nilai-nilai yang sangat pribadi. Artinya, beragama itu adalah urusan yang vertikal antara saya dengan Tuhan, yang tidak bisa dicampuri oleh siapapun.

Bagi saya, agama itu merupakan karunia. Jadi ketika ia kemudian dipertentangkan antara satu dengan lainnya, tentu akan ada yang kecewa. Kalau saya ikut agama Papi, tentu keluarga mami kecewa. Sebab keluarga ibu saya dari awalnya memang sudah muslim. Tapi saya juga khawatir keluarga ayah saya akan merasa kecewa. Oleh sebab itu, pencarian saya akan kebenaran, tiba ketika saya sekolah di Santa Maria Fatima, Bukit Duri. Tapi pencarian saya terhadap kebenaran nilai-nilai agama itu berproses. Tapi waktu itu, saya berpikir sederhana saja; ketika saya berdoa, saya harus bisa mengungkapkannya dengan bahasa saya sendiri. Pada saat itu kan sangat sederhana sebetulnya.

Tapi dalam pencarian terhadap sebuah kebenaran nilai-nilai agama, saya juga berpendapat bahwa Tuhan itu memang tidak bisa disentuh, tidak bisa dipikirkan, dan mungkin tidak boleh dinilai. Dalam pemahaman saya, Tuhan itu Mahapengasih, Mahapenyayang. Dan yang namanya maha itu kan jelas melewati batas-batas manusia. Tapi pertanyaannya, apakah saya hanya mencari yang mudah saja dalam beragama? Saya melihat semua agama itu pada bagian intinya tidak ada yang berbeda.

Saya melihat hal-hal yang khas dari tiap agama, seperti cara beribadahnya itu lebih sebagai prosedur menyangkut bagaimana kita melakukan pengabdian kepada Tuhan dalam keimanan kita tadi. Tapi saya yakin betul bahwa yang namanya kebajikan atau kebaikan itu sebetulnya alami, atau fitrah manusia. Sejak kelahirannya manusia sudah memiliki fitrah itu. Tapi ia hanya sebagai ruh yang tidak akan mati.

Ritual tiap-tiap agama itu sebagai sarana menuju Tuhan. Karena jika kita mau berdoa dengan sejujurnya, baik di rumah atau di tempat kerja, katakanlah pada-Nya apa yang kamu rasakan, apa kesulitan kamu. Saya berharap, Tuhan mendengar saya di manapun saya berada. Saya tidak sedang bicara soal mencari Tuhan dengan jalan yang mudah atau tidak. Proses pencarian kebenaran itu, pada satu titik bersifat universal. Apakah itu rasional atau realistis, itu soal lain. Sebab dalam hidup ini, ada yang namanya logika, estetika, dan ada pula etika. Jadi ukuran-ukurannya sebetulnya sama bagi tiap-tiap manusia.

III

Menurut saya yang harus dibangun di tengah keragaman bangsa ini adalah bagimana masing-masing individu menghargai perbedaan yang ada. Karena budaya atau agama bukan untuk diperdebatkan. Ketika orang dipaksa untuk mengakui dan bicara dalam persepsi yang sama, saya yakin pasti kita akan gagal total. Karena memang, in a fact atau dalam kenyatannya, negara ini terdiri dari banyak propinsi, ratusan kabupaten, multi-bahasa, agama, budaya, dan etnis. Karena itu, kita perlu mengusahakan proses transenden atau bertuhan tadi membawa kita memasuki dunia yang sangat indah di tengah keragaman kita.

Nah, kita harus jujur dalam hidup di tengah keragaman itu. Pidato-pidato di gereja atau masjid harus jujur mengakui keragaman. Jangan memfitnah orang lain, jangan mengata-ngatai. Karena ketika ketegangan itu dilakukan head to head oleh pemimpin agama, rakyat di bawah juga akan berkonflik head to head.

IV

Di negeri ini ada banyak nilai; agama, politik, ekonomi. Ya kalau main politik, politik aja. Jangan pula diinfiltrasi oleh kekuatan-kekuatan agama. Karena saya takut akann terjadi konflik yang head to head. Dan ini menjadi preseden yang buruk bagi keragaman bangsa. Kita lihat bagaimana kondisi Poso, kemudian juga Ambon. Saya berharap itu segera selesai. Karena kalau itu dibawa ke kancah politik, ada pihak ketiga yang memang tahu persis bagaimaan memanfaatkan situasi yang kacau itu.

Oleh sebab itu, keimanan kita itu seyogianya dimaknai dalam konteks kebaikan. Kalau kita berteiak-teriak akan memperbaiki tingkat keimanan, tapi isinya menjelek-jelekkan orang lain, fitnah dan caci maki, saya pikir tidak ada gunanya. Contoh misalnya apa yang dilakukan MUI. Semestinya, ia menjadi milik semua umat Islam, entah itu Muhammadiyah, NU, dan Ahmadiyah. Nah, yang menjadi pertanyaan adalah ketika Ahmadiyah itu diposisikan seperti binatang yang tidak pantas didudukkan sama tinggi dan sama rendah, yang jadi pertanyaan adalah: apa yang dilakukan MUI? Seharusnya dia menjadi sarana untuk memberlakukan semua umat Islam secara adil.

Karena posisi beragama itu jelas dalam konstitusi kita. Di Pasal 29, negara menjamin dinyatakan kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu.

Sumber dari sini

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s