IRIndonesia

Interfaith Relationship Indonesia

Agustinus Ama Poli dan Muchofifah January 4, 2011

Filed under: Tokoh — IRIndonesia @ 8:42 pm
Tags:

Bertepatan, dengan detik-detik menjelang final diala dunia 2010, saya melangsungkan perkawinan secara Islam. “Saya terima nikahnya Muchofifah binti Bakir (alm) dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang senilai Rp 210.117,- dibayar tunai.” dengan lantang saya ucapkan, menandai disahkannya perkawinan saya. Mengapa saya mengambil jalan ini? Padahal saya adalah seorang Katolik yang telah dibaptis sejak bayi? Tentunya Anda sekalian bertanya dalam hati, kok bisa ya.

Bermula dari perkenalan saya dengan Ifa, panggilan istri saya, Muchofifah, melalui dunia maya dan dilanjutkan dengan jumpa darat, istilah yang dilontarkan oleh Dewa Made, koordinator liputan Jubileum saat menghadiri pesta perkawinan saya. Saya pun mulai melakukan pendekatan secara lebih intensif; padahal kala itu saya masih berstatus pacaran dengan cewek lain yang notabene beragama Protestan. Namun, ternyata Yesus menunjukkan bahwa cewek terebut bukan pasangan yang tepat buat saya, melainkan Ifa.

Dalam proses pacaran dengan Ifa, kamipun terus berdebat, mengapa tidak boleh ada perkawinan beda agama di negara kita. Bahkan menurut Romo Beny Susetyo, Pr, sekeretaris eksekutif Komisi HAK KWI, tidak mungkin terjadi perkawinan beda agama di Indonesia. “Dengan melihat realitas yang ada, cukup sulit hal tersebut diwujudkan di bumi nusantara”, balas Romo Beny saat face bookan dengan saya.

Ketika saya melihat ada berita, kalau di Magelang telah terjadi perkawinan beda agama yang sah meskipun harus melaui pengadilan, hati saya pun sedikit senang. Namun setelah melalui proses permenungan yang sangat panjang, haruskah saya memaksakan terjadinya perkawinan beda agama.

Alhasil terjadilah diskusi dengan teman muslim saya, Ibrahim bin Said, anak seorang kyai yang tinggal di kompleks pesantren Sidoresmo Dalem Surabaya, daerah cikal bakal perkembangan agama Islam di kota Surabaya. Menurut dia, dalam proses perkawinan harus juga dipertimbangkan persoalan anak yang natinya harus memilih harus ikut agama Bapak atau Ibu. Namun secara biblis, dalam Islam memperbolehkan perkawinan beda agama asalkan yang Islam adalah mempelai laki-laki. “Kalau yang Islam mempelai perempuan, haram hukumya” ungkap Iib, sapaan akrab Ibrahim bin Said dengan santun.

Dalam hati saya, saya pun bertanya-tanya dan terus merenungkannya serta minta pertolongan sahabatku Yesus, sahabat sejatiku. Alhasil, Yesus pun mulai menujukkan, jalan mana yang harus saya ambil. Petunjuk itu saya dapatkan setelah saya ikut misa bersama Bapa Uskup Surabaya di Tuban. Saya memilih untuk memakai baju Islam yang Isais. Artinya, saya berjuang sebagai laskar Kristus dengan memakai perlengkapan yang ada dalam Islam.

Kawin Beda Agama Siapa Takut

Nah, sekarang menjadi tantangan tersendiri bagi setiap muda-mudi Katolik yang ada di wilyah keuskupan Surabaya. Dengan hidup di lingkungan yang multikultural, tidak dapat dihindari terjadinya perkawinan beda agama. Bukan persoalan murtad atau tidak, melainkan bagaimana muda-mudi Katolik mau meminta petunjuk kepada Sang Guru Sejati, Yesus Kristus, ketika mau menentukan langkahnya membentuk keluarga kudus Nazareth yang sakinah, mawadah, dan warohmah.

Bukankah di saat hari terangkatnya Yesus ke surge, Dia sudah berpesan kepada murid-muridnya, “Aku akan menyertai kamu sampai akhir zaman.” Mau tetap sebagai Katolik atau berpindah agama, itu adalah sebuah pilihan. Yang terpenting, bagaimana muda-mudi Katolik yang menjadi tulang-punggung Gereja Masa Depan, mau peka dan peduli terhadap persoalan-persoalan yang ada dalam lingkungan gereja maupun masyarakat. Sudah saatnya, muda-mudi Katolik turun ke pasar, bukan asyik di sekitar altar saja.

Dengan demikian, 25 tahun lagi, Gereja Katolik sungguh-sungguh menjadi Gereja Yesus Kristus yang hidup. Menjadi Gereja yang mampu mengajak setiap insan manusia berbondong-bondong pergi ke rumah Allah di surga. Tidak harus dengan perlengkapan Katolik, melainkan bisa juga dengan perlengkapan lain yang sungguh-sungguh sejalan dengan hukum kasih, hukum utama dan pertama yang diajarkan Sang Guru, Yesus Kristus. Bagaimana rekan-rekan sekalian? Hanya dengan hati yang bersih dan pertolongan Tuhan Yesus, Anda sekalina mampu menjawabya. Amin.

Halleluya, Assalamualaikum Wr. Wb.

Sumber dari sini

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s