IRIndonesia

Interfaith Relationship Indonesia

Saras Dewi December 28, 2010

Filed under: Tokoh — IRIndonesia @ 3:06 pm
Tags:

I

Situasi keluarga saya itu agak unik sebenarnya. Agak berbeda tapi justru menyenangkan buat saya. Kebetulan ibu saya muslim. Sudah hampir dua puluh enam tahun saya dibesarkan oleh ibu saya yang muslim. Ayah saya Hindu. Yang menarik setiap Nyepi, ibu saya juga ikut melakukan Nyepi. Justru yang paling kuat melakukan ritual Nyepi itu ibu saya. Ibu saya tahan berpuasa dua puluh empat jam. Saya sendiri justru tidak tahan. Sebaliknya kalau Ramadhan selama satu bulan saya tidak pernah bolong. Jadi ibu saya selalu mengatakan bahwa Nyepi itu maknanya universal. Ibu saya merasa bahwa memang kita semua butuh satu hari khusus untuk memikirkan atau mengevaluasi apa saja selama tahun ini yang sudah kita perbuat, apa resolusi yang ingin kita lakukan di masa depan. Jadi di situ letak universalitas ritual Nyepi menurut ibu saya.

Saya masih ingat juga pada hari raya Nyepi, siang hari sebelum malam, kami bertiga selalu baca Kitab Mahabarata.

II

Lazimnya di masyarakat memang kalau orang tuanya muslim, anaknya juga muslim dan seterusnya. Tapi orang tua saya itu selalu mengajarkan pada saya bahwa agama itu tidak ada yang bersifat hereditary, turun-temurun. Dan ayah saya juga mendidik saya bahwa definisi Hindu sendiri di dalam kitab suci Weda itu dibuat oleh komunitas, dibuat secara kolektif oleh satu kelompok, bukan oleh satu orang. Meskipun kalau secara an sich di dalam kitab suci, Hindu dikatakan sebagai agama Om, agama yang memuja Brahman.

Saya sendiri tumbuh dalam keluarga dengan suasana keagamaan yang sinkretis. Ibu saya Islam-Kejawen, jadi memang agak dekat dengan Hindu. Beberapa pandangan falsafah hidupnya memang bersinggungan dengan Hindu. Karena itu saya merasa tidak ada clash dalam keluarga saya. Karena kebetulan agama Islam yang diajarkan oleh ibu saya adalah Islam yang sangat toleran. Ibu saya menganggap bahwa hidup itu tidak akan pernah bisa murni, tidak bercampur dengan adat, kebiasaan, habituasi orang lain. Kita di Indonesia ini kan cita rasanya macam-macam. Jadi ketika di luar rumah saya melihat fenomena benturan antar agama, saya suka bingung sendiri. Karena ketika di dalam rumah saya diajarkan bahwa agama itu pesannya adalah selalu damai, selalu kebaikan, selalu kohesif, selalu harmonis.

Saya sadar memang lingkungan di luar itu menganggap bahwa agama adalah identitas beku yang harus kita bawa sampai mati. Saya sendiri memang merasa diri saya Hindu. Kesadaran itu muncul setelah saya sudah mulai kontemplasi. Mulai mengerti agama itu apa, necessity-nya apa, keharusannya apa, maknanya apa. Sebelumnya saya Hindu ya lebih sebagai habituasi, kebiasaan saja. Dan itu terjadi setelah saya sudah beranjak dewasa setelah sekian lama tinggal di Jakarta.

Dan menurut saya pandangan Hindu sendiri itu pun tidak pernah bertabrakan dengan pandangan agama-agama yang lain. Jadi meskipun saya Hindu, saya adalah seorang Hindu yang juga membaca Alkitab, membaca Alquran, membaca Tripitaka, membaca Jainisme. Saya tidak merasa bahwa ketika saya bilang diri saya Hindu -bukan dalam pengertian di KTP saya Hindu- maka itu berarti tertutup untuk mempelajari kepercayaan yang lain. Tidak. Saya merasa spiritualitas itu tidak ada boundaries di dalamnya, tidak memakai batas-batas penyekat.

Kadang-kadang saya berpikir bahwa rasa kekhawatiran kita terhadap perbedaan orang, rasa takut terhadap perbedaan itulah yang menimbulkan kecurigaan. Dalam hati nurani saya, saya sungguh meyakini bahwa perbedaan itu niscaya. Kalau kata Ulil Abshar Abdalla, perbedaan itu rahmat, perbedaan itu anugrah. Waktu saya masuk jurusan filsafat, saya merasa lebih punya asupan teori filsafat, baik dari filsuf kontemporer sampai yang klasik, kaitannya dengan keniscayaan perbedaan. Jadi saya merasa semakin mantaplah dengan hidup dalam perbedaan

III

Saya tumbuh dari kecil dan besar di Bali, saya lebih condong dengan adat ayah saya. Baru ketika sepuluh tahun yang lalu saya pindah ke Jakarta waktu saya usia 13 tahun, saya bisa melihat lebih banyak segi, menjadi seorang muslim itu seperti apa? Karena di Jakarta mayoritas adalah Islam. Tetangga-tetangga saya Islam, di sekolah saya juga banyak orang Islam, mahasiswa saya juga beragama Islam. Jadi saya merasa lebih mengenali Islam ketika saya sudah mulai dewasa. Saya sendiri di rumah sering menemani ibu saya makan. Tapi doa yang kami baca, allahumma bariklana fima razaqtana wa qina ‘azabannar (Tuhan, berkatilah rizki yang Engkau berikan serta jauhkan kami dari api-Mu).

IV

Sewaktu saya meneliti fenomena begitu banyaknya fundamentalisme di India sana, saya rasa problemnya adalah adanya ratusan aliran kepercayaan di India dan masing-masing menganggap alirannya-lah yang paling benar. Sementara kalau kita merujuk pada teks-teks Upanishad, kita akan mendapatkan konsep achintya, berbeda-beda. Intinya Tuhan itu bukan ini, bukan itu. Brahman neti-neti, bukan ini bukan itu. Achintya, ada di dalam perbedaan. Jadi perbedaanya memang ada. Tetapi yang harus dipahami adalah semuanya bermuara pada satu kebenaran yang sama. Makanya kalau di dalam Hindu diajarkan pemahaman Ekam Sat, Vipra Bahudavadanti (Truth is one, sages describe it differently). Bagi orang bijak kebenaran itu satu, tapi dia mengatakannya dengan banyak nama. Jadi kebenaran itu sungguh-sungguh memang satu, tapi dimanifestasikan dalam partikularitas yang macam-macam. Nah, di India yang terjadi adalah mereka terjebak dalam partikularitas itu dan lupa kepada makna yang lebih besarnya.

Kalau saya sih optimistik bahwa agama itu duta perdamaian. Idealnya, agama itu seperti itu. Makanya salah seorang Maha Resi mengatakan, percuma anda ibadah dan melakukan korban kalau anda tidak mengerti esensi dari beragama, yaitu ahimsa. Ahimsa itu artinya tidak menyakiti. Jadi tidak menyakiti itulah akar dari agama Hindu. Itu kenapa seorang revolusioner bernama Mahatma Gandhi sungguh-sungguh meyakini bahwa sebenarnya kita lahir untuk saling menghormati, menghargai, menempatkan orang lain di tempat yang baik. Ahimsa inilah kunci bagi kita untuk bisa hidup saling berdampingan.

Mahatma Gandhi pernah disodorkan pertanyaan seperti ini ketika hampir terjadi separasi antara India dan Pakistan paska kemerdekaan. Mahatma Gandhi menjawab dengan sangat diplomatis. Dan saya rasa jawaban diplomatik Gandhi sangat jujur , bukan hanya ingin untuk menyenangkan dua belah pihak. Dia mengatakan, saya bukan Hindu, saya bukan Islam. Agama saya adalah Agama Cinta. Jadi saya merasa bahwa apa yang dilakukan oleh Gandhi adalah ingin menunjukkan bahwa yang seharusnya ditonjolkan dari agama adalah kebaikan, cinta kasih, belas kasih, rasa toleransi, rasa persaudaraan. Itu sebenarnya hakikat dari agama. Ejawantahnya mungkin bermacam-macam. Partikularitasnya secara eksoteris bisa bermacam-macam. Tapi hakikatnya adalah seperti yang disampaikan oleh Gandhi itu, yaitu rasa cinta terhadap persaudaraan. Saya rasa hanya itu yang bisa kita pegang sebagai kebenaran.

Sumber dari sini

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s