IRIndonesia

Interfaith Relationship Indonesia

Maarten Hekman dan Winda Handayani December 26, 2010

Filed under: Tokoh — IRIndonesia @ 4:20 pm
Tags:

Winda Handayani adalah seorang perempuan Indonesia yang beragama Islam dan Maarten Hekman adalah seorang lelaki Belanda yang beragama Kristen. Masing-masing tidak mau menangkalkan agamanya dan juga tidak mau saling memaksa pindah agama. Tapi mereka saling mencinta. Jalan keluarnya: mereka menikah menurut hukum negara.

Pertemuan melalui internet
Linda memperkenalkan dirinya lewat internet. Selain memasang foto Winda mencatumkan hobi-hobinya: olah raga, membaca buku dan mendengarkan musik. Banyak reaksi yang diterimanya antara lain dari Amerika, Swis, Jerman dan juga dari benua Afrika. Tapi dari Belanda dia menerima email dari seorang pria yang isinya sangat berbeda dari yang lain. “Di e-mail dia menceritakan tentang hubungan dia dengan pacarnya dia pada waktu itu bahwa hubungan dia seperti listrik di Indonesia hidup-mati hidup-mati, “cerita Winda. Mula-mula Winda menilai aneh emailnya Maarten itu. Soalnya, menurut perempuan berusia 34 tahun ini, ia bukan tempat konsultasi cinta.

Semula Tidak Tertarik Sama Bule
Karena Maarten tetap mengiriminya e-mail, akhirnya mereka pun saling email-email-an. Sekitar bulan September 2001 Maarten datang ke Indonesia untuk berkenalan dengan perempuan berdarah Jawa ini. Setelah pertemuan di Indonesia itu, Maarten mengajak Winda untuk berkunjung ke Belanda. Kunjungan ke Belanda itu ternyata menyenangkan mantan pemandu wisata yang sebenarnya tidak berniat mencari orang berkulit putih. “Mendingan dapat orang sendiri. Sama-sama susah, sama-sama makan. Sambal kan enak,” tegas lulusan sastra Jerman ini.

Menikah Menurut Hukum Negara
Beberapa anggota keluarga Winda ingin agar Winda menikah menurut Islam dengan Maarten. Namun pria Belanda berusia 50 tahun ini tidak bersedia masuk Islam. “Pada prinsipnya Islam itu tidak ada masalah tapi saya merasa sulit dengan segala macam aturan yang bisa dipaksakan kepada diri saya,” jelas penganut Kristen Protestan ini. Winda pun tidak setuju kalau Maarten masuk Islam hanya karena mau menikah dengan dia. “Kulit, agama berbeda. Kita dipertemukan hanya karena cinta. Kalau saya memaksa Maarten untuk masuk Islam hanya karena dia mau menikahi saya berarti saya memaksa dia”, ujar Winda. Sebaliknya Maarten juga tidak mengharapkan agar Winda masuk Kristen karena itu merupakan suatu hal yang Winda tidak mau. Akhirnya mereka menikah menurut hukum negara Belanda.

Mendidik Anak dan Peranan Keluarga
Karena belum mempunyai anak, Winda belum mempunyai gambaran bagaimana mendidik anak. Namun ia ingin agar anaknya nanti dididik secara Islam. Tapi Maarten berbeda pendapat. “Saya kurang setuju kalau anak-anak sudah dimasukkan ke suatu agama. Saya kira anak-anak harus diberi waktu untuk berpikir dan bisa memilih sendiri,” protes Maarten yang menilai agama itu adalah urusan hati.

Menurut Winda, ibarat kapal sebuah keluarga harus memiliki satu nahkoda. Di samping itu peranan komunikasi bagi Winda sangat penting dalam sebuah keluarga. Tapi yang sering berbelanja dan masak Winda juga. Sekali seminggu Maarten juga turut memasak di dapur. Maarten pintar bikin pizza, demikian ujar Winda bangga.

Menghabiskan Hari Tua
Winda menjelaskan hubungan dengan mertuanya sangat baik. “Mereka menerima saya dengan apa adanya,” ujar Winda. Sebenarnya tidaklah aneh kalau Maarten tertarik dengan Indonesia soalnya ayahnya Maarten lahir di negara kepulauan itu. Kalau pensiun nanti, sepertinya Winda tidak akan pulang ke Indonesia. Mungkin saja ia meninggalkan Belanda; tapi dia mau tinggal di suatu negara dengan sistem tunjangan hari tua yang terjamin.

Di lain pihak, Maarten tidak menutup kemungkinan untuk tinggal di Indonesia. Sedangkan masalah anak dan masa pensiun itu adalah urusan untuk masa mendatang. Untuk sementara mereka mau menikmati dulu rumah yang baru dibeli mereka di Alphen a/d Rijn bersama dua ekor kucing.

Sumber dari sini