IRIndonesia

Interfaith Relationship Indonesia

Nikah Beda Agama? Dan Tuhan Tetap Mencintai Kita December 24, 2010

Filed under: Esai — IRIndonesia @ 12:27 am
Tags:

Oleh: Rangga L. Tobing

Beberapa pertanyaan yang masuk ke e-mail (electronic mail-red) maupun ke inbox facebook penulis, beberapa bulan belakangan ini berisi mengenai keluh-kesah mengenai pernikahan beda agama. Sebagian dari mereka mengeluhkan sulitnya melakukan pernikahan tersebut. Penyebabnya beragam, mulai dari berlapisnya peraturan dari perundang-undangan hingga kepada masalah tekanan normatif agama yang datang justru dari orang-orang terdekat mereka.

Penulis berpikir, pernikahan beda agama di Indonesia adalah suatu yang sangat mungkin terjadi. Hal ini ditinjau dari segi sosio-relegi, masyarakat Indonesia sangat beragam. Terdapat enam agama yang diakui Negara sekarang ini – Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Kong Fu Cu – itu belum lagi ditambah dengan kepercayaan yang belum diakui, seperti Kejawen (kepercayaan asli masyarakat Jawa), Wiwitan (kepercayaan asli masyarakat Sunda), Parmalim (kepercayaan asli masyarakat Batak), Agnostik, dan Ateis yang harus kita akui keberadaan mereka.

Setiap masing-masing kepercayaan tersebut memiliki tata cara pernikahannya tersendiri, berbeda antara satu dengan yang lainnya

Pernikahan sebenarnya merupakan hak asasi setiap manusia. Hak untuk memilih dalam menentukan kepada siapa dia akan melanjutkan keturunannya. Hal ini telah diakui di dalam pasal 10 Undang-Undang Hak Asasi Manusia (HAM), yang berisi tentang Negara melindungi dan menjamin hak setiap orang untuk membentuk sebuah keluarga.

Namun, malangnya pengakuan hukum pernikahan dalam HAM ini tak lebih dari penglihatan sebuah fatamorgana di gurun padang pasir. Pernikahan yang sah tetap harus merujuk kepada ketentuan Undang-Undang Pernikahan No. 1 Tahun 1974. Dalam Pasal 2 ayat 1 berbunyi, “Pernikahan yang sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya.” Tentu saja agama yang dimaksud adalah agama yang legal dalam ketetapan Negara.

Khusus agama Islam, hampir tidak mungkin HAM kebebasan pernikahan antar agama ini diterapkan, sejak dikeluarkannya Kompelasi Hukum Islam di Indonesia melalui Instruksi Presiden Republik Indonesia No. 1 Tahun 1991, pada tanggal 10 Juni 1991. Ketentuan tersebut tidak membolehkan seorang yang beragama Islam (baik laki-laki maupun perempuan) menikah dengan orang tidak beragama Islam. Terlepas dari ketentuan itu juga sebenarnya bukan hanya Islam, melainkan agama-agama lain pun secara implisit maupun ekspilit tidak membolehkan umatnya untuk menikahi mereka yang berada di luar agamanya.

Biasanya, banyak alasan yang menyertai hal itu, mulai dari tata cara pernikahan hingga kepada ke mana sang anak nantinya akan dibawa. Tentu tak terlepas dari segala macam manuver politik ancaman neraka dan kompensasi atas surga.

Kalau kita menyadarinya segala macam pernak-pernik itu bukanlah suatu permasalahan yang berarti. Jika kita mengerti bahwa Tuhan lebih mencintai manusia, daripada agamanya. Mengapa demikian? Karena agama tidak mencipatakan manusia, Tuhan-lah yang menciptakan manusia.

Immanuel Kant, seorang filosof paling tersohor pernah mengatakan, “God is not a being outside me…only God in me, about me, and over me (Tuhan tidak ada di luar, tetapi ada di dalam diri kita).” Jadi kita wajib berbuat baik karena dorongan dari diri sendiri karena ada Tuhan pembuat hukum di dalam diri kita. Tuhan di dalam diri kita tidak dapat ditipu, dimanipulasi, atau dijual untuk kepentingan kita.

Pernikahan antaragama yang berbeda merupakan suatu keindahan. Ia menyatukan dua kutub perbedaan. Perbedaan yang dipengaruhi dari didikan agama tempat mereka di besarkan.

Jika seseorang menatap mata pasangannya dengan ketulusan cinta, maka dia dapat merasakan Tuhan juga berada pada mata indah itu. Ketika dia berdoa menurut kepercayaannya, ternyata Tuhan juga menyapanya dengan lembut. Kepada siapa pun kita menyandarkan kehidupan, Tuhan tetap mencintai kita, Tuhan tak pernah meninggalkan kita walau sedetik. Inilah ketulusan cinta kasih Tuhan kepada kita. Dia mencintai kita tanpa pamrih, bahkan saat kita baru dilahirkan, Tuhan sudah mencintai kita, kendati kita saat itu belum diberi pakaian agama oleh orang tua kita.

Ancaman neraka dan kompensasi surga yang diteriakan oleh para pemuka agama, tidak lain hanya merupakan manuver politik belaka. Sama seperti suku primitif pedalaman yang melarang masyarakat sukunya menikahi suku luar, lantaran mereka ingin melestarikan adat, bahasa, dan ras murni suku mereka. Padahal apabila keduanya melakukan pernikahan akan menghasilkan suatu warna unik yang lebih indah, seperti keindahan pelangi yang dapat menjadi obat setelah kebekuan hujan menyelimuti kita. Coba kita tanya kepada nurani kita, apakah kita menyembah Tuhan hanya untuk surganya semata (seperti dalam lagu Chrisye yang berjudul “Jika Surga Dan Neraka Tak Pernah Ada)? Atau karena cinta kita kepadaNya? Jangan-jangan kita selama ini hanya menyembah surga, bukan Tuhan?

Sumber dari sini

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s