IRIndonesia

Interfaith Relationship Indonesia

Cerpen: Di Bawah Senja Legundi December 24, 2010

Filed under: Uncategorized — IRIndonesia @ 12:27 am
Tags: ,

Oleh: Mardian Sagiant

“Justru karena cinta perbedaan itu dapat menyatu.”
“Tapi, perbedaan kita ini beda,…”

Fajar akan merekah. Jendela siang terbuka. Kelopak senja mekar. Lalu selimut malam menghampar. Apa yang tertarik dari sebuah waktu? Hanya sebuah fase. Sebuah siklus. Sebuah daur rasa. Bukankah hidup itu untuk merasa? Rasa yang berputar-putar hingga laju dan melaju. Suka. Sedih. Manis. Pahit. Asam. Asin. Hambar. Itulah pasangan waktu pasangan hidup pasangan Dewa.

Dan Dewa, cukup perasa untuk mencecap daur itu dari alur-alur yang mengulur, menguji imannya agar tidak mengendur. Hanya Tuhan sanggup menyentuh rasa-rasa itu hingga menjadi sinar di kalbunya.

Di sebuah kontrakan di tepian Bakauheni Dewa selalu menatap langit biru tanpa awan dengan burung-burung hitam yang menodai jernihnya mega serta ia dapat melihat kokoh sayap elang yang melenggang sendiri menubruk atmosfir siang menyengat dan membakar dan akan ada hingar nyanyian pipit di dahan nyiur di sepanjang dermaga yang airnya tenang dan angin utara akan meniup permukaan laut itu hingga terlahir riak-riak menawan dari rahim penguasa laut sementara perahu kayu yang melintas seperti perahu kertas yang di dorong oleh hembusan-hembusan gaib yang serta merta menampar wajah-wajah dengan lembut dan membelai kulit dengan paksa hingga membuat menggigil dan jiwa terpanggil. Seperti Dewa, jiwanya terpanggil untuk mengingat Dewi.

“Aku mencintaimu, Dewi.”

Dewa seorang perasa. Perasa suka yang ditindas luka. Perasa luka yang diserahkan suka. Ada manis yang berdebu dalam kenangannya. Namun pahit yang bergelanyut manja dalam bantal dan sandar tidurnya. Semua itu membuatnya lemah seperti remah-remah tak berguna. Betapa kuat ia bertahan. Ia mencari di mana hidungnya mencium. Dia melihat di mana matanya terbuka. Dia bersuara di mana mulutnya sudah merasa sengal karena keluh yang mengental. Dan di saat itu, ia percaya Injil untuk dilantunkan untuk sebuah tuntunan.

Sementara manusia-manusia sibuk dengan dunianya. Dunia kecil bernama Kalianda. Dunia yang diberkahi berjuta-juta cinta dan cita. Cara manusia-manusia memandang lalu merangsang. Melalui ekor mata yang penuh isyarat hingga hati terjerat. Dunia kecil bernama Kalianda, manusia-manusia itu terjelma dari seserpih pengharapan; karena cinta, untuk cinta.

“Siapa namamu?”

“Dewi Fatma Alhabsy. Namamu?”

“Dewa. Darius Dewangga Tarigas.”

“Dewa?”

“Ya. Aku. Namaku Dewa. Itu panggilanku. Lalu kenapa?”

“Tidak apa-apa. Aku sendiri seakan tak yakin bahwa aku adalah Dewi dan kamu Dewa. Bukankah dewa berpasangan dengan dewi.”

“Ah… Kamu mengada-ada.”

“Kamu seperti bulan Ulun Lampung. Kamu seperti orang asing.”

“Ya,.. Aku bukan Ulun Lampung. Aku pendatang dari Kalimantan, Pontianak. Aku Ulun Dayak.”

“Sudah lama kamu bekerja di Pasar Kalianda?”

“Tidak juga, aku kuli baru di toko kelontong. Sebelumnya menjadi ‘asisten’ nelayan di pesisir Bakauheni.”

“Orang tuamu?”

“………”

“Maaf jika kamu tidak mau menceritakan itu. Kamu tinggal sendiri?”

“Ya.”

“Dimana.”

“Rumah kontrakan di pesisir Bakauheni.”

“Mau ke mana kamu?”

“Pulang. Aku harus siap-siap, ada Misa nanti malam di gereja. Kamu sendiri mau ke mana?

“Pulang. Aku harus siap-siap, ada acara betamat teman-temanku di rumah guru ngaji nanti malam.”

***

Di pasar Kalianda, mereka bersua. Setiap detik, menit, jam, hari, bulan, mereka masih bersua.

“Kyai Usman Alhabsy pemilik pabrik gula itu bapakmu?”

“Ya. Kamu, apa kabar orangtuamu di sana?”

“………”

“Maaf jika kamu tidak mau menceritakan itu.”

“Tidak apa-apa. Mereka ingin aku menjadi pastor.”

“Jadi, karena itu kamu lari ke mari?”

“Ya. Pernahkah kamu mengunjungi Pulau Legundi? Aku ingin mengajakmu.”

“Belum.”

Bertemulah, Dewa dan Dewi tanpa sambutan Sigeh Penguten, tanpa iringan gambus, tanpa nyanyian kasih, kecuali atas nama satu kekuatan, keagungan, kebesaran, kebijaksanaan, cinta. Mereka sering bertemu dan bertemu dan bertemu lagi, dan lagi.

Siapa yang dapat menolak? Ketika mereka harus menahan kisahnya menjadi kisah-kisah suci tanpa noda, tanpa drama, tanpa senggama. Mereka mencintai dari hati, dan dari hatilah mereka mencecap noda, bermain drama, dan mengikat senggama dalam gelap mata. Keduanya seperti sepasang merpati yang melintas laut Selat Sunda dan singgah di puncak Krakatau untuk berdua.

Mereka berjanji akan menikah. Bersama. Berdua hidup. Berdua mati.
Senja melukis langit menjadi merah jingga kuning seperti tangga-tangga khayangan di ufuk barat tanpa ujung tanpa batas memantulkan sisik-sisik emas pada permukaan air meriak pelan seperti hamparan sutera perak yang dibentangkan Tangan Tuhan bersama angin senja yang damai namun menggulung debu-debu daratan Bakauheni hingga menyatu dengan uap yang menguap karena lemahnya panas yang membuat sayap-sayap burung hitam putih mengumpul dan menari dengan iringan dawai semilir yang tercium dari segala mata angin dan membawa aroma garam lalu hamparan sutera perak itu begitu cepat berubah menjadi sebuah bingkai cermin yang memantulkan gadrasi merah jingga kuning seperti tangga-tangga galaksi dan peri-peri dengan sayap emas seperti terjelma dengan kasat mata oleh dua pasang mata insani yang memadu kasih dalam sebuah perahu dalam hamparan laut yang merah lalu semakin merah dan matahari senja itu seperti pigura setengah bundar yang bergelimangan cahaya surga.

“Apa yang ingin kamu katakan Dewa?” tanya Dewi. Tubuhnya yang putih menjadi merah. Wajahnya merah. Alam di sekelilingnya merah karena takluk oleh raja. Raja senja.
“Coba kamu terka sendiri, untuk apa aku membawamu jauh dari kota, pasar, ataupun dermaga. Jauh dari kehingaran. Jauh dari kekuasaan. Jauh dari segalanya?” Dewa justru sebaliknya bertanya. Dadanya yang kekar merah. Tubuhnya merah. Wajahnya merah.

Lalu Dewi menatap di sekelilingnya dengan seksama. Tatapannya memeriksa. Ia menelan ludah. Nafasnya memburu, bersaing bersama derau angin yang bertalu. Senja itu telah meraibkan warna alam yang kaya menjadi sendu. Kini semuanya terlihat merah nan syahdu. Tak jauh dari berdirinya yang terombang-ambing, tiba-tiba matanya takjub, jiwanya hendak melagu.

“Aku masih belum paham.” Dewi seperti patung. Ia seakan histeris dengan pandangannya kali ini.

“Karena aku ingin membagi keindahan ini kepadamu, Dewi. Hanya kepadamu. Aku takjub pada keindahan tempat ini. Takjub dengan keindahannya, keheningannya! Di sini tiada siapa-siapa selain kita.” Dewa berdiri di samping Dewi. Kini Dewa seperti patung yang sama bersama Dewi. Keduanya menatap sebuah pulau kecil yang dibentengi nyiur-nyiur. Namun, semuanya terlihat merah. Nyiur merah, pasir merah, air merah. Pulau itu terlihat megah.

Dewa menarik perahunya ke sebuah daratan berpasir halus. Air dingin menjilat kakinya yang telanjang. Dan Dewi dengan kaki putihnya yang menjulang, telah menapaki pasir-pasir yang perawan. Seperti dirinya, daratan berpasir indah itu seakan hamparan awan yang tak terjamah roh-roh yang tertawan. Ia menatap sekelilingnya dengan gores temaram yang membuat damainya bersemayam. Ia menatap Dewa bertanya-tanya seperti bocah awam.

Dewa menatap rona lembayung wajah Dewi. Riak ombak adalah latar yang hendak membungkus tubuh kurus yang menggairahkan itu. Nyanyian nyiur adalah nada instrumental yang mengalun bersama gesekan semilir. “Ini Pulau Legundi. Pulau yang selalu aku kunjungi saat aku mencari kedamaian. Dan di saat senja, aku mendapatkan seratus kali kedamaian dari tenggelamnya matahari di ujung barat. Tuhan begitu adil. Ia menciptakan segalanya dari apa yang tidak aku inginkan hingga apa yang aku dapatkan.”

Dewi memperhatikan Dewa yang seakan berbicara dengan matahari. Lalu ia mendekat, memeluk lengan Dewa dan menyandarkan kepalanya di bahu. “Kamu percaya Tuhan?”

“Aku percaya Tuhan. Dan aku tak akan pernah berpaling dari-Nya.” Dewa mendesah. Ia menggenggam tangan Dewi dan mengecupnya. “Aku tidak hanya berdoa setiap minggu. Aku juga tidak hanya beribadah di gereja. Bagiku, kapan dan di manapun, aku patut mengingat-Nya. Apalagi, ketika aku mendapatkanmu.” Dewa berhadapan dengan Dewi. Matahari mengintip di antara celah tubuh mereka. “Yesus, terima kasih telah menurunkan berkah terindah ini.” tangan Dewa bergerak membentuk tanda salib di wajah dan tubuhnya. Ia memeluk Dewi yang tubuhnya berguncang-guncang. Ya Allah, lestarikan cinta ini, batin Dewi berdoa.

Keduanya menyusuri bibir pantai. Jejak-jejak kaki mereka tersapu riak. Dan mereka terus melangkah menjejali pasir-pasir sehalus satin dengan tubuh yang seperti dua pasang siluet lukisan alam.

“Apa hubungannya denganku?” Dewi bertanya seketika.

“Untuk itulah aku membawamu ke sini. Dan untuk itulah aku ingin berkata.”

“Katakanlah Dewa,”

“Aku mencintaimu seperti kemegahan Legundi ini, seperti heningnya yang tak pernah dibagikan kepada camar-camar sekalipun.”

Dewa Diam. Dewi menoleh. Bibirnya menyeringai. Sebuah senyuman.

“Cuma itu?”

“Aku hanya ingin mencintai kamu apa adanya.” kata Dewa kagum.

Mereka berpelukan. Erat. Membara, mengalahkan membaranya merah mega dan debur ombak yang mulai mengembara. Di atas perahu itu, sosok Dewa Dewi seperti lukisan senja di pelantaran samudera.

“Menikahlah denganku?” pinta Dewa.

“Kepada siapa lagi aku harus meminta?” Dewi sumringah tanpa memikirkan apa-apa selain cinta, cinta, dan cinta!

***

“Aku akan menikah.”

“Menikah?”

“Ayahku telah menjodohkan aku dengan Kyai Hamdani dari Sukadana.”

Dewa diam. Mulutnya seperti di tempel lem terkuat di dunia. Cukup lama ia menerawang, menjelajahi seluk beluk pikirannya tanpa diketahui ke mana ia akan menghentikan penjelajahan itu. Lalu mulailah ia bermain dengan rasa. Baru beberapa waktu yang lalu, rasa-rasa yang dicecap inderanya adalah warna-warna mencolok yang manis dan cerah. Sontak, kali ini mendung beserta hujan beserta halilintar menghujam rasanya.

“Apakah kamu setuju?” tanya Dewa datar.

“Setuju?” kening Dewi berkerut. “Aku hanya cinta kamu, Dewa.”

Dewa seakan memperoleh pencerahan dari jawaban Dewi. Mendung, hujan, halilintar dalam rasanya itu kini berganti dengan segores warna pelangi yang membuat segalanya indah. Dewa batal menyerah. Ia sadar betapa malunya untuk menjadi lemah. Ia dihadapkan pada pilihan yang salah. Ia tetap tak ingin berserah. Baginya terlambat untuk menjadi pasrah. Ia sudah menggenggam gelora yang diatasnamakan cinta dari Sang Kuasa. Ia akan memelihara dengan perkasa. Dan tetap, sebagai manusia ia bersulam sejuta rasa. Waktu yang dapat menguji sebuah kisah yang bergulir suka dan siksa. Bersama Tuhan, ia sepakat untuk tidak memaksa.

Dewi menggenggam tangan Dewa. Kali ini ia merasakan kekuatan yang terpatri dari bertemunya kehangatan darah-darah yang melaju di bawah kulit mereka yang bersentuhan. Dewi memeluk Dewa dan dengan demikian ia cukup merasakan sentakan hebat yang menambal keretakan jiwanya. Ya, dia benar-benar retak. Suaranya serak. Telinganya pekak. Kali ini bersama Dewa, ia seperti terlahir kembali dari rahim cinta yang terus tumbuh dan bergerak.

“Aku ingin selamanya bersamamu. Aku tidak ingin pulang. Aku ingin tinggal bersamamu,” pinta Dewi.

Dewa tersenyum. “Kembalilah besok.”

“Besok?”

“Katakan kepada orangtuamu, kita akan menikah.”

“Menikah? Kita?”

“Iya!”

“Mereka tidak akan menyetujui, apalagi merestui. Kamu tahu Dewa, kita ini berbeda.”

Dewa menggenggam tangan Dewi. Diselaminya kedua mata Dewi yang menyendu, tersedu.
Dewa berkata dengan lembut, “Apakah semua itu karena perbedaan. Apakah karena aku seorang Katolik. Apakah karena aku bukan seorang Muslim yang sama denganmu? Apakah karena kamu Ulun Lampung dan aku ulun asing? Lantas, aku tidak bisa mencintaimu atas dasar rasa seorang manusia. Aku maupun kamu sama-sama manusia yang diciptakan sama oleh Tuhan. Justru karena cinta perbedaan itu dapat menyatu.”

“Tapi, perbedaan kita ini beda, Dewa.” Dewi meragu. Matanya berkaca. Ada embun yang menggantung di balik kaca itu. Lalu diingatnya sosok Kyai Usman Alhabsy, bapaknya yang sangat tegas dengan hukum Cempala Khua Belas kepada putri-putrinya mengenai aturan ‘gadis, muhrim, dan Islam’ membuat Dewi merinding. “Ah, Dewa, aku tidak berani berkata apa-apa kepada orang tuaku.” keraguan dan kengerian menjalari perasaannya.

“Aku tahu mereka akan murka, tapi setidaknya kamu telah menyampaikan bahwa kamu telah memiliki pilihan.”

Dewi senyap. Mencerna sertiap kata-kata Dewa. Otaknya bekerja. Sekali ia menelan ludah dan menarik nafas panjang. “Baiklah. Tunggu aku besok. Jika aku tidak datang. Jangan pernah cari aku lagi.” Dewi menunduk. Kata terakhir itu adalah misteri sendiri baginya.

“Karena aku yakin kamu akan datang.” Dewa meyakinkan.

Mereka berpisah. Saling menatap dalam kejauhan lama sekali.

***

Perahu-perahu seakan murka pada laut yang ganas menghempas tubuhnya hingga olang-aling hingga nyaris tenggelam namun tetap bertahan seakan tampak roh menyerah dari perahu-perahu nelayan Bakauheni itu dari pada melawan takdir Tuhan yang mengirim angin sebagai pasukan-pasukan penyadar iman dengan menyapu rongga-rongga dunia hingga menjadi helai-helai daun yang melayang rapuh sementara tidak ada hingar pipit nyanyian camar apalagi kepakan kokoh elang yang semuanya itu bersembunyi di lubang alam yang kemudian di tetes-tetes air umpama wahyu yang diturunkan di tengah Sahara menciprat lubang alam itu bertanda doa-doa makhluk yang terkabul. Hujan membasahi tepian Bakauheni.

Dewa menunggu Dewi. Cukup lama. Ia berdiri di ambang pintu kontrakannya. Matanya menerawang jauh ke arah jalan kayu di mana biasa tubuh Dewi muncul dan menghampirinya. Cukup lama. Dalam terawang itu, hatinya seakan kosong membiarkan roh imajinasinya selayak musafir yang mengembara ke gurun-gurun nikmat rekaannya. Ke masa lalu yang belum cukup lama berlalu. Ke dunia cinta yang telah di selaminya dalam tautan rasa. Cukup lama. Sebelum matahari berpijar sempurna dan hujan merebut tugasnya. Titik-titik air itu kian menirai hingga terlihat samar pandangannya. Dingin mulai menyergap. Tatapannya tetap merayap melewati ceruk rasa yang terasa pengap. Lalu semuanya terasa gelap. Diingatnya nama Tuhan tanpa gelagap. Yesus ada di sampingku. Yesus berkati aku.

Apakah karena hujan?

Badai?

Cinta tak mengenal itu!

Apalagi perbedaan!

Dan Dewa bergerak. Ia mengayuh sepedanya melawan deras. Melawan angin. Melawan kalut yang menyulut. Ia terus mengayuh. Sama sekali tak ada lelah. Justru semangatnya kian menyala. Dewi. Dewi. Dewi. Dewi…………………………….. Nama itu seperti penggerak darah. Setiap kata itu adalah api yang menyala dalam beku yang membuatnya mati rasa. Dewi. Dewi. Dewi. Dewi………………………….. Dewa terus mencari Dewi.

Lalu Dewa tidak menemukan Dewi di mana-mana. Tidak di nuwo kuno-nya yang berbentuk panggung dan beratap sirap di Kalianda. Tidak di Pasar Kaliandra tempat awal mereka bertemu. Tidak di mana-mana karena Dewi memang tidak di mana-mana. Ia sendiri tidak tahu Dewi di mana. Apakah ia di Sukadana untuk melakukan ngarak maju sebagai pengantin? Apakah ia sedang menikamati alunan rebana dan syair lail di rumah calon suaminya? Lalu kekuatan yang ada pada Dewa padam seketika sama dengan terik yang tiba-tiba mengilangkan jejak-jejak hujan.

Tapi Dewa bukan dewa yang raganya tidak terpatri dari tembaga. Hatinya bukan tercipta dari baja. Peluhnya apalagi, kulitnya apalagi, semuanya apalagi. Dia hanya seorang Dewa yang disusun dari nafas-nafas rapuh. Bertenun peluh. Wajahnya keruh. Seperti mendayung biru laut yang membuat kedua tangannya melepuh. Dewa mencoba menjadi dewa yang angkuh. Percuma, wajahnya meredup menahan keluh. Namun, cahaya Tuhan membuat gejolaknya bergemuruh.

Kini, di seberangnya terbentang daratan berpasir dengan nyiur-nyiur yang tampak murung. Dada Dewa membusung. Dia atur nafasnya yang di kupingnya seperti menggaung-gaung. Ia atur pula kecamuk-kecamuk yang di lubuk rasanya terasa menggantung. Sekejap saja ia berteriak dengan lantang. Bersama nama Tuhan ia mengerang.

“Di mana kamu Dewi!?”

Pulau Legundi itu tetap hening. Keheningan yang telah dicintai Dewa itu enggan membagi cerita. Pasirnya bagaikan butiran mutiara. Jernih airnya memantul-mantul sisik perak yang menawan. Nyiur-nyiur yang tipis itu menjulang seperti mercusuar alam. Semuanya tidak semerah dulu saat senja benar-benar menjadi raja. Di langit tanpa awan itu terdapat lengkungan pelangi bak tangga khanyangan.

Dewa tidak ingin mencari lagi di mana Dewi.

Rasa-rasa itu memiliki ruang sendiri di hati Dewa. Ia menyulam hari dengan benang-benang rasa, dengan warna-warna keyakinannya. Ia sudah lupa bagaimana waktu bisa mundur dan membuatnya sulit tertidur. Ia hanya percaya kepada satu kekuatan di balik sisa-sisa harapannya, bagaimana ia harus berdiri untuk tidak mundur. Ia percaya Tuhan telah menegur, mencegah keyakinannya tersungkur. Waktu terulur bersama tabuh beduk lima waktu membuatnya harus akur dan bersyukur.

***

Ia menghabiskan waktunya bersama Tuhan. Berdoa dan berdoa. Kekalahannya adalah ilham. Nyata baginya untuk hidup karena cinta Tuhan yang membangkitkannya dari kelam dan jeram. Di gereja ia memejamkan mata dengan tulus, meminta petunjuk kepada yang Kudus. Yesus ada di sampingku. Yesus berkati aku.

Dewa kembali ke kontrakannya dengan lapang dada. Sungguh, ia seperti terlahir dengan rasa-rasa yang baru. Ia merasa lega. Apalagi, Injil melekat dalam pelukan dadanya, membagi cahaya dalam detakan jantungnya. Ketika tiba di kontrakannya, ia terperanjat. Ia melihat Dewi di sana. Dewi yang berubah cantik dengan tapis tipis menutupi rambutnya. Bibir mungil dan hidung lancip itu masih sama seperti dulu. Menggairahkan.

Keduanya diam. Namun, ada kekuatan di balik pancaran mereka. Ada benteng tersendiri yang membuat mereka tegap dan mantap mempertahankan diri. Mulailah Dewi meminta maaf. Mengakui tanpa harus menyesali pilihannya. Sementara Dewa, ia tersenyum, ia juga tertawa, seakan ilham itu telah meneguhkan pendiriannya. Walau masa lalu mereka kelabu, mereka tidak mau menjadi sosok abu-abu yang malu karena pengecut. Mereka bercerita, lama sekali.

“Boleh aku mengajakmu ke Legundi? Sekali ini saja.” pinta Dewa akhirnya.

Dewi mengangguk seraya tersenyum.

Mereka jalan bersampingan, tampak menjaga jarak. Berbeda dengan pemandangan yang telah silam, mereka membuat raja senja cemburu. Membuat koral-koral tersipu malu. Itu dulu. Dulu, dahan nyiur yang bertaut itu tak ada apa-apanya dibanding tubuh mereka yang saling menyulut. Dulu, semuanya takluk dengan nafas cinta yang membuat mereka saling tunduk. Semuanya tampak jernih saat ini. Seperti bening riak yang berayun-ayun di bibir pantai Legundi. Koral-koral tampak menawan di rahim pasir, lalu dibantai ombak liar dan hamparan pasir itu seperti satin yang perawan.

“Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu, Dewi.” wajah Dewa tampak lega. Berseri. Pantulan perak laut bertaut di wajahnya.

“Aku siap mendengarkannya. Pastinya, itu yang membuat kamu tampak ceria.” Dewi menyeringai. Seringaian yang ditampakkan berbeda dari sebelum-sebelumnya.

“Aku akan pulang ke Pontianak besok. Aku rasa Tuhan telah memanggilku.” Dewa sumringah. Terpancar rasa sedih yang dihambarkan lewat sumringah itu.

Kening Dewi mengerut. Dibayangkannya kenangan-kenangan merah jambunya dulu. Ia memperoleh kesimpulan di situ. “Aku rasa kamu telah memperoleh jawabannya.”

Dewa menghela nafas dalam-dalam. Lalu ia duduk di sebuah batu besar di bibir pantai yang menghadap ke laut lepas. “Aku siap menjadi pastor.”

Jilbab Dewi berkibar-kibar. Ia duduk di batu yang berbeda dengan Dewa. “Allah telah menciptakan waktu seperti pasir dan ombak. Saat ombak telah menyeret pasir di Lagundi ini,” mereka menatap bibir pantai, saat itu juga ombak menghempas semaunya, “tak ada yang tersisa selain hamparan tanpa noda. Jejak-jejak keretakan itu hilang dengan sendirinya. Kau harus memulai seperti itu, Dewa.”

Lalu mereka tertawa, bersenda di atas batu besar di pantai Legundi yang hening. Awan senja mulai mengarak. Mega merah bergerak. Mereka tampak menjaga jarak.

Chapter 64, Pontianak, 11 Juni 2010

Sumber dari sini

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s