IRIndonesia

Interfaith Relationship Indonesia

Memoar Cintaku December 8, 2010

Filed under: Buku — IRIndonesia @ 2:23 pm
Tags: ,

Penulis: Ahmad Nurcholish
Penerbit: LKiS
Tebal: xlviii + 356 halaman
Harga: Rp 34,500,-

Dalam Alquran, nikah beda agama dibolehkan sekaligus dilarang. Menikahi perempuan Ahl al-Kitab dihalalkan oleh ayat 5 surat Al-Maidah. Sementara menikahi perempuan musyrikah dan menikahkan laki-laki musyrik dengan perempuan mukminah dilarang oleh ayat 221 surat Al-Baqarah. Bagi mereka yang meyakini bahwa ayat surat Al-Baqarah turun untuk menganulir (menaskh) ayat surat Al-Maidah, menikah dengan non-muslim tidak dibolehkan oleh Islam. Sementara mereka yang meyakini sebaliknya, berpendapat bahwa Islam membolehkan laki-laki muslim menikahi perempuan Ahl al-Kitab, meskipun kemudian mereka berselisih tentang batasan Ahl al-Kitab.

Dalam kenyataannya, hanya sedikit di antara mereka yang meyakini pendapat kedua yang benar-benar mempraktekkannya. Sebabnya sederhana: sesuatu yang dibolehkan berbeda dengan sesuatu yang dianjurkan. Bisa jadi Islam memang membolehkan laki-laki muslim menikahi perempuan non-muslimah. Tapi untuk mengatakan bahwa Islam menganjurkan itu, tentu perlu diskusi lebih lanjut.

Nah, di antara yang meyakini dibolehkannya menikahi perempuan non-muslimah dan benar-benar mempraktekkannya adalah santri-aktivis bernama Ahmad Nurcholish. Pemuda yang lahir 7 November 1974 di Purwodadi Jawa Tengah ini, 8 Juni 2003 lalu menikahi Ang Mei Yong, gadis keturunan Tionghoa yang beragama Konghucu. Tidak tanggung-tanggung, Nurcholish bahkan menceritakan eksperimentasinya ini dalam sebuah buku yang berjudul Memoar Cintaku (Pengalaman Empiris Nikah Beda Agama).

Di Indonesia, Nurcholish dan Mei-mei (panggilan akrab Mei Yong) memang bukanlah pasangan pertama yang melakukan pernikahan lintas agama. Pernikahan kontroversial ini telah lama dilakukan orang. Dari kalangan selebritis sebut saja misalnya Jamal Mirdad (muslim) dan Lidya Kandaw (Kristen), Mayong Laksono (Kristen) dan Nurul Arifin (muslimah), Ari Sigit (muslim) dan Rica Callebut (Kristen), Jeremy Thomas (Kristen) dan Ina Indrayati (muslimah), Frans Lingua (Kristen) dan Amara (muslimah), Henry Siahaan (Kristen) dan Yuni Sara (muslimah), serta yang teranyar Ari Sihasale (Kristen) dan Nia Zulkarnain (muslimah). Dari kalangan masyarakat umum, bisa jadi jumlahnya lebih banyak lagi. Sampai awal Mei 2004 saja, Pusat Studi Islam Paramadina telah menikahkan 21 pasangan. Tapi, dari sekian pasangan beda agama yang menjalani hidup bersama ini, barangkali hanya Nurcholish yang menceritakan pengalaman empirisnya dalam bentuk buku.

Buku ini ditujukan oleh penulis terutama kepada pasangan-pasangan yang ingin menjalin hubungan suami istri dengan tetap mempertahankan agamanya masing-masing. Dari sisi pertama ini, buku ini dapat dianggap sebagai satu bentuk promosi untuk melakukan pernikahan beda agama. Dari sisi kedua, buku ini adalah satu bentuk pembelaan diri yang dilakukan oleh penulis terhadap pilihan hidupnya, sekaligus dukungan praktis terhadap para agamawan yang membolehkan nikah beda agama. Dan dari sisi ketiga, buku ini adalah satu bentuk protes terhadap para agamawan yang mengharamkan nikah lintas agama, dan pemerintah dalam hal ini Kantor Urusan Agama (KUA) dan Kantor Catatan Sipil (KCS) yang enggan memfasilitasi pasangan beda agama. Penulis sendiri sampai saat ini belum dapat mencatatkan pernikahannya dengan Mei-mei di salah satu kantor tersebut.

Setelah bagian pertama yang berisi pendahuluan, pada bagian kedua dan ketiga penulis memaparkan perjalanan hidupnya, sejak masih kecil di kampung sampai menjadi aktivis di Jakarta. Tampaknya penulis ingin menunjukkan latar belakangnya sebagai santri, dan pergeseran pemikirannya dari konservatif menuju inklusif-pluralis. Ini barangkali penting untuk membuktikan bahwa pilihan hidup yang diambilnya saat ini adalah hasil dari pergulatan intelektual dan spiritual yang amat panjang. Dua bagian ini menjadikan buku ini mirip dengan biografi.

Bagian keempat, kelima dan keenam adalah inti dari buku ini. Pada bagian keempat, penulis menceritakan kisah cintanya dengan Mei-mei, sejak pertama kali kenal sampai pacaran. Ini dilanjutkan dengan kisah tentang proses menuju pernikahan, pernikahan itu sendiri, dan beberapa hal yang dialami oleh penulis pasca pernikahan, dalam bagian kelima. Sementara bagian keenam berisi catatan selama satu tahun pertama menikah.

Bagian ketujuh memuat pendapat lima agamawan tentang nikah beda agama. Mereka adalah Dr. Zainun Kamal, Dr. Siti Musdah Mulia, Drs. Nuryamin Aini, MA., dan M. Hilaly Basya, mewakili Islam. Sedangkan wakil dari Konghucu adalah Ir. Budi Santoso Tanuwibowo. Pendapat mereka disampaikan dalam bentuk makalah, kecuali Drs. Nuryamin Aini, MA. dalam bentuk wawancara. Dan bagian terakhir berisi lampiran tentang kontroversi pernikahan penulis dan Mei-mei yang mewarnai media massa. Dua bagian ini memakan tempat terbanyak dalam buku ini, yaitu 214 halaman. Sementara tulisan penulis sendiri hanya 136 halaman, atau sekitar sepertiga dari keseluruhan isi buku.

Di antara yang menarik untuk dicatat, dalam buku ini penulis menceritakan tentang konflik dan pertengkaran yang kadang dialaminya dengan sang istri. Tapi pemicu semua itu bukanlah faktor agama, melainkan permasalahan-permasalahan yang biasa menerpa pasangan suami istri, siapa pun mereka. Ini artinya konflik agama tidak menjadi pangkal perselisihan di antara kami. Perbedaan agama juga tidak menjadi penghalang untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, papar penulis (hal. 117).

Hal lain yang juga menarik adalah tentang agama yang akan dianut oleh anak-anak mereka. (Saat ini anak pertama mereka telah lahir). Penulis menyadari bahwa ini bukanlah permasalan sepele. Oleh karena itu, dia telah menyiapkan langkah-langkah yang harus dilakukan. Intinya, biar mereka (anak-anak) yang memilih, tulisnya (lihat: hal. 122-125).

Walhasil, penulis memang telah berhasil membangun rumah tangga bersama pilihan hatinya yang berbeda agama dengannya. Tapi, masih terlalu dini untuk mengatakan bahwa pasangan ini telah berhasil mengarungi samudera kehidupan, sementara pernikahan mereka seperti dikatakan sendiri oleh penulis baru seumur jagung (hal. 9). Sebagai sesama muslim, sudah semestinya kita merestui dan mendukung pilihan hidup penulis ini, meskipun kita tidak harus memilih jalan yang sama dengan yang telah dititinya. [Mj, Silah V]

Sumber dari sini
Intip sekelumit isinya di sini

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s