IRIndonesia

Interfaith Relationship Indonesia

Butet Kertaradjasa December 4, 2010

Filed under: Tokoh — IRIndonesia @ 5:32 pm
Tags: , , , ,

I

Begitu lahir, saya tahu-tahu sudah Kristen. Semasa kecil, ruang tamu rumah saya sering digunakan sebagai tempat kebaktian kampung. Jadi ada ibadah gitu. Tapi karena saya tinggal di kampung, saya kadang juga ikut lebaran. Kalau Idul Fitri, teman-teman main saya selalu pakai baju baru. Karena itu, saya juga merasa berhak untuk mendapat baju baru. Ada juga tradisi sungkeman. Tapi memang, saya tidak pernah ikut salat, sekalipun untuk makan-makan dan baju baru, saya ikutan.

Saya sekolah di lembaga Katolik, dan tiba-tiba saya tahu ternyata ada agama dalam hidup ini. Jadi agama itu sesuatu yang terberi dalam hidup saya, tidak melalui proses sosialisasi yang ketat. Di KTP saya sudah ada kolom isian agamanya, dan di situ sudah ada isinya. Dan memang, saya nggak pernah alias jarang datang ke gereja. Lha wong saya merasa punya agama saja waktu bapak dan ibu saya meninggal, kok! Terakhir saya ke gereja ketika masih di SMP. Tapi, kalau pas natalan, saya selalu dikirimi pesan-pesan pendek (SMS). Seingat saya, saya juga pernah ke gereja. Tapi, umatnya heran semua. Aku jadi malu.

Ceritanya begini. Suatu kali, saya stress karena ada masalah pribadi. Terus saya berpikir, kalau datang ke gereja, mungkin bisa menyembuhkan persoalan. Bayanganku begitu. Nah, ketika sudah mahasiswa dan berkeluarga, saya datang lagi ke gereja. Tapi, orang segereja nontonin saya dengan wajah penuh heran. Makhluk asing mana yang datang ini, mungkin begitu pikir mereka. Pendetanya juga heran. Setelah itu, saya tak pernah datang lagi. Saya merasa menjadi makhluk asing yang merebut perhatian banyak orang yang membuat pribadi saya risih.

Kalau cuma rajin ke gereja, tapi tindak, perilaku, tabiat, dan pikirannya tidak agamis, apa gunanya?! Kalau saya, orangnya lebih suka pada tindakan. Saya cuma mencoba untuk mewujudkan harmoni dan hidup yang baik dalam tindakan dan karya-karya saya. Kalau yang ritual-ritual dan serimonial seperti itu, saya memang nggak terbiasa. Atau boleh dikata, saya pemalas.

Tapi saya tetap berdoa kalau mau tidur, dan orang tidak pernah tahu itu. Masak saya harus mengumum-umumkan yang begituan?! Makanya, saya cenderung berpendapat, perkara privat seperti itu tidak usah diomong-omongkan dan tidak perlu dipamer-pamerkan.

Saya beragama karena ada kolom yang mempertanyakan agama saya apa. Malah menurut saya, di kolom-kolom formal urusan negara itu, tidak usahlah ngurusi yang gitu-gituan. Mau bertuhan, mau beragama, itu urusan pribadi orang per orang. Itu kan bukan perkara publik. Jadi, sebenarnya tidak perlu soal kolom agama itu ada untuk urusan yang di ranah publik. Hanya untuk bangga-banggaan soal minoritas-mayoritas?!

II

Lalu kalau mau nikah, kita juga harus beragama. Dan kebetulan, saya menikah secara Islam. Istri saya seorang muslimah, dan alhamdulillah sudah jadi hajjah.

Sejauh ini, tidak ada masalah. Aman-aman saja. Waktu saya kawin tahun 1981, lembaga cacatan sipil masih mengizinkan (nikah beda agama). Kakak saya juga menikah beda agama di catatan sipil. Cuma persoalannya, saya ini menantu seorang haji. Jadi, mertua saya itu tidak menghendaki (nikah beda agama) itu. Dia pingin saya nikah secara Islam; dengan ijab-kabul. Ya… karena itu permintaannya, saya penuhi. Untuk saya, apa susahnya kalau KTP diganti sebentar. Terus, saya ganti KTP dan saya sudah sunat.

Saya buktikan itu dan saya bawa foto saya waktu sunat. Hanya saja, saya tidak bisa ibadah-ibadah. Waktu menjelang ijab-kabul, saya disuruh salat jamaah, tapi saya nggak bisa. Seperti apa dan bagaimana salat itu, saya tidak tahu. Yang saya tahu cuma wudlu yang basuh-basuh muka itu. Saya lalu masuk kamar mandi. Tapi, saya lama-lama di situ. Tiba-tiba, salat sudah selesai, dan saya keluar. Terus saya ijab-kabul dan langsung pulang ke Jogja. Setelah itu, saya ganti KTP lagi jadi Kristen.

Memang, di negeri ini banyak yang berpikir bahwa orang tua wajib mengawinkan anaknya seagama, supaya hidupnya tetap berbahagia. Pertanyaan saya: jaminannya apa? Saya melihat, orang yang kawin seagama juga tidak kurang yang terjebak dalam proses kawin-cerai. Malah, istrinya dipukuli terus-menerus. Itulah pengalaman saya waktu ngeyel sama mertua saya. Waktu itu, saya dibilang berbohong, karena sudah Islam di KTP, menikah secara Islam, lalu balik ke Kristen lagi. Saya dianggap munafik.

Lalu, saya katakan begini: “Kalau Mami menghendaki menantu yang dalam hidupnya hanya menipu, saya akan tetap menjadi Islam, karena saya pasti akan tetap menipu diri sepanjang waktu. Sebab, saya pernah berislam hanya untuk nyeneng-nyenegin Mami, karena Mami menginginkan ijab-kabul secara Islam. Tapi kalau Mami menghendaki menantu yang tidak menipu, maka izinkan saya tetap menjadi Kristen, meski telah menikah secara Islam. Sebab, kalau saya Kristen, saya tidak akan bohong dalam berdoa, karena hanya itu yang saya kenal. Kalau sekarang saya dipaksa menjadi Islam, itu sama saja saya menipu, berbohong. Sebab, hati saya memang tidak di situ.” Lalu, saya menambahkan, “Saya menjamin anak Mami pasti akan baik dengan saya.” Itu yang saya katakan.

Ya… sebenarnya dia keberatan. Tapi karena saya bandel dan ingin membuktikan sepanjang hidup bahwa saya akan memperlakukan dia sedemikian rupa menjadi bagian dari belahan jiwa saya, dia bisa terima.

Urusan agama saya anggap merupakan urusan privat orang per orang, bahkan terhadap istri atau anak saya sekalipun. Saya tidak mau ada urusan keluarga mau beragama apa. Ukuran saya, asalkan itu bisa membuat yang bersangkutan berbahagia, saya anggap itu sudah benar. Jadi, ketika istri saya menunaikan kewajiban agamanya, dan dia bisa intens di situ, khusuk dan bahagia, sebagai orang yang beragama beda dan teman terdekatnya, saya harus memberi dia yang terbaik. Saya ongkosin dia naik haji. Sebaliknya, misalkah saya mau naik haji ke Yerussalem, misalnya, dia juga harus mendukung saya. Bahkan, ketika anak saya diam-diam menjadi pengurus masjid, saya oke-oke saja.

Hanya ada satu masalah yang menurut saya sangat dramatis dalam hidup saya. Yaitu, ketika anak saya mau masuk sekolah dasar. Ini situasi yang agak membuat shock, karena ketika mendaftar ke institusi formal, negara kita masih mengurusi soal agama. Dalam formulir pendaftaran, ada pertanyaan tentang apa agamanya anak. Padahal, saya ini tidak jelas agamanya. Kalau dikatakan Kristen, saya juga tak pernah ke gereja. Tapi, dibilang Islam, jelas tidak.

Dari situ, saya bertanya ke anak saya: “Giras, sekarang kamu akan masuk sekolah. Janjinya dulu, ketika masuk sekolah, kamu akan memutuskan akan masuk agama apa.” Saya tanya begitu, eh… dia nangis. Bagi saya, peristiwa itu dramatis banget. Tak ada jawaban darinya waktu itu. Besoknya, ketika ditanya lagi, dia nangis lagi. Dia lalu berpikir begini: “Pa, kalau aku beragama Islam, nanti kalau Papa mati, yang mendoakan siapa? Dan kalau agamaku Kristen, nanti kalau Ibu mati, yang mendoakan siapa?”

Mendengar pertanyaan itu, aku shock juga. “Bajigur iki anakku!” gumamku. “Mendingan kamu Islam aja deh… Ibumu kan rajin sembahyang!” kataku. Akhirnya, dia berstatus Islam, walaupun sekolahnya di Katolik.

III

Budi pekerti itu yang lebih utama. Misalnya, pemahaman tentang nilai-nilai yang perlu kita anut dalam hubungan sosial. Menurut saya, itu lebih penting daripada yang lain. Saya selalu bilang, kalau mengaku telah mendidik anak saya secara agamis, saya itu bohong. Saya munafik, karena memang saya sendiri tidak agamis. Tapi, soal hukum dan perkara-perkara sosial, selalu kita diskusikan bareng anak-anak. Misalnya saya katakan, kalau melanggar hukum, akibatnya akan begini. Kalau menyakiti orang, akan begitu. Kalau kamu memukul orang, akibatnya akan begini dan begitu.

Jadi, nilai-nilai yang universal tetap diajarkan. Bahwa ternyata itu berhubungan dengan ajaran agama tertentu, barangkali iya. Tapi aku memang tidak ngerti soal agama. Untuk ukuran saya, andaikan dalam hidup ini dia bisa membangun keseimbangan yang adil, baik, dan tidak menyakiti orang, itu barangkali sudah benar.

Untuk saya, itu sudah cukup. Tapi kalau dia (anak saya itu) mau beragama, jangan melihat dari diri saya. Untuk agama, dia bisa cari dari sekolah atau masjid tempat beribadahnya. Sebab, saya pasti tak akan bisa menolong untuk hal-hal seperti itu, karena memang saya tidak ngerti. Atau, itu semua barangkali bisa dia dapat dari ibunya yang hajjah itu.

IV

Saya justru sering dibingungkan oleh perkara agama. Ini berkaitan dengan pengalaman pribadi saya. Di keluarga kami, ada bermacam-macam penganut agama. Ayah dan ibu saya Kristen. Menantunya yang seagama cuma ada dua orang. Yang lainnya campur-campur; ada yang Kristen, Katolik, dan ada juga Islam. Murid-murid bapak saya itu ada juga yang Hindu.

Nah, ketika Ibu meninggal, kita semua ingin sekali menghormatinya secara seremonial. Karena ibu Kristen, upacaranya dilakukan secara Kristen. Tapi, untuk sembahyang, kami memberi semua keluarga kesempatan yang sama. Karena menantunya ada yang Islam, dan anaknya juga ada yang Islam, mereka dibiarkan sembahyang secara Islam. Yang Katolik juga begitu; kita membikin upacara terpisah dengan mengundang seorang pastur.

Tapi saya heran, yang Islam kok nggak mau. Orang kampung melarang itu. Pokoknya, bagi mereka, yang Islam tidak boleh mengadakan upacara secara Islam untuk mayat ibu saya. Jadi, menantu dan anak-anaknya yang muslim itu tidak boleh menyembahyangkan ibu saya. Saya itu malah bingung.

Kok jadi repot, pikir saya. Padahal, ini kan perkara bagaimana orang meyakini sesuatu. Barangkali, kalau dalam Kristen versi saya, itu mungkin akan menolong perjalanan ibu saya ke surga—kalaupun surga itu ada. Terus yang Katolik juga berpikir begitu. Tapi, ini kok malah bingung. Dan akhirnya, daripada ribut semua, urusannya diserahkan pada yang melayat saja. Mana yang terbaik untuk yang ngelayat dan maunya bagaimana, terserah.

Kalau dalam perkara mati, saya mengikuti ajaran Om saya, bapak Hanung Gusti Aksono. Dia bilang begini: “Nak, kalau aku mati, terserah mereka yang hidup. Kalau istri dan anak saya Islam dan mau menyembahyangkan saya secara Islam, silahkan saja! Kalau kakak-kakak saya yang Kristen mau menyembahyangkan secara Kristen, silahkan! Kalau adik saya yang Katolik mau menyembahyangkan secara Katolik, silahkan juga! Itu urusan orang hidup. Saya kan orang mati. Bahkan ekstrimnya, andaikan saya ditaruh di jalan raya, lalu burung gagak dibiarkan mencucu’i tubuhku, saya juga ikhlas. Toh saya juga nggak ngerti. Itu perkaranya orang hidup, bukan perkaranya orang yang sudah mati”.

Karena saya pemuja harmoni, saya tak ingin keluarga saya menderita ketika saya mati. Pokoknya dia harus aman, tenang lahir dan batin.

Sumber dari sini

 

10 Responses to “Butet Kertaradjasa”

  1. Kadek Says:

    Salam kenal, Om Butet

    Sebagai wong Bali Hindu yang lahir dan besar di Jogja plus masih pegang tradisi Bali yang kuat, saya juga nemu cerita yang mirip ama Om Butet di saudara2 saya yang lahir dan besar di Bali trus merantau ke Jogja pas remaja dan sekarang sukses secara ekonomi di Jawa..mung bedane, mereka tidak nunjukkan sifat berani dan tanggung jawab..selalu munafik dan menghindar…salut nggo Om Butet, saya setuju budi pekerti itu terpenting..nuwun
    Kadek

  2. Sylvia Kangdra Says:

    wah
    apa yg dialami om butet hampir sama kayak saya
    walaupun tidak sama persis ya
    kejadiannya ketika ibu saya meninggal, ibu saya notabene budha, bahkan bsa dibilang sangat rajin beribadah menurut agamanya itu
    tante saya katolik
    ketika ibu saya meninggal, tante saya meminta tolong kepada teman teman ibadahnya untuk mendoakan ibu saya, abang saya tidak menolak, karna menurutnya apa salahnya mendoakan org meninggal
    pacar saya jg ada ketika itu , padahal pacar saya islam
    tpi yg sangat mengiris hati saya , teman saya (islam) tidak bisa hadir dikarnakan tidak diijinkan datang oleh keluarga nya
    alasannya sama persis kyk itu, kalo islam gk bole nyembayangin yg bukan seagama nya
    saya disitu amat sangat benci dgn alasan keluarganya, saya enek , bosan dgn perkara agama ini
    tapi seiring waktu saya belajar , gk ada gunanya saya membenci mereka, krn mereka hanya sebagian kecil dari orang yg berpikiran picik
    toh pacar saya yg islam aja tetap setia mendampingi saya kok sampai ibu saya dimakamkan🙂

  3. ito Says:

    kalo saya Muslim… tp saya pernah hidup di daerah Minoritas Muslimnya sekarang saya di Jawa.
    kalo pengalaman saya harus bisa menempatkan diri aja dan jangan suka memaksakan / mempengaruhi kehendak orang lain.

  4. Evan Yulia Says:

    Salam mas butet. Saya muslim, walaupun kenyataannya juga nyaris muslim KTP. Sepanjang pengetahuan saya, dalam islam ada dokrin yang melarang umat islam melakukan amalan yang berhubungan dengan ibadah agama lain. Tapi dalam islam juga diharuskan untuk menghormati ibadah agama lain. Jadi menurut saya yang penting adalah menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, apapun agamanya. Dan jangan pernah menjelek-jelekkan agama lain. Biarkan mereka dengan kepercayaannya masing-masing.

  5. doni Says:

    Kalau yang mati banyak ibadahnya nggak perlu di sembahyangkan..apalagi yang nyembahyangin banyak dosanya mana mungkin ( ini mungkin ) nggak di terima sama tuhan.Jadi yang penting waktu masih hidup ini jangan banyak-banyak bikin dosa.Orang senang kita senang itu namanya agama.Ngapain juga ganti-ganti ktp.Agama itu di hati bukan di ktp.
    Nggak mungkin agama yg sembahyangnya nugging-nunggig yang pake kiblat di suruh berbarengan sembahyang dengan orang yang pake nyanyian.Akh nggak nyambung..ntar ada yg baca alkuran dan yg 1 baca alkitab.
    Kalau ibu ane baik di masa hidup baik ibadahnya yakinlah dia pasti masuk surga.

  6. Rio Says:

    komunisme sedang berkembang di negeri kapital semi radikal bertabur rasional. ketika anda tau bukti mana keyakinan universal teruji histori dan bukti proporsional. Anda tidak akan seloroh yakin apa yang anda yakini. butet, brengsek atas ideologimu.

  7. majemuk itu indah kok, saya setuju bahwa iman itu tdk bisa diukur oleh orang lain. rajin ke tempat ibadah bukan satu2nya indikator orang ber iman. bagaimana polah kita di masyarakat yg jd indikator……sukses kang

  8. dead Says:

    Sama dengan kisahku… Mmmmm…

  9. Soy Jun Hae Says:

    saya atheis dan baik2 saja … hehehe…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s