IRIndonesia

Interfaith Relationship Indonesia

Fiqih Lintas Agama: Membangun Masyarakat Inklusif-Pluralis May 5, 2011

Filed under: Buku — IRIndonesia @ 5:20 pm
Tags: , ,

Penulis: Tim Penulis Paramadina
Penerbit: Yayasan Wakaf Paramadina bekerjasama dengan The Asia Foundation
Tebal: 273
Harga:

Setelah teologi inklusif, pluralis ramai diperbincangan di belantika Nusantara ini, kini, fiqih mendapat giliran. Beberapa intelektual di PARAMADINA mulai menyuguhkan sebuah formulasi fiqih yang berprespektif pluralisme-inklusivisme terhadap agama-agama. Memang harus diakui bahwa teologi inklusif-pluralis sangatlah tidak memadai tanpa menghadirkan fiqih yang inklusif-pluralis pula. Sebab, fiqih dijadikan sandaran dalam berperilaku dalam kehidupan sehari-hari, dan sangat menyentuh realitas sosial. Apalagi, mengingat bangsa Indonesia masih cenderung fiqih oriented.

Buku yang bertajuk Fiqih Lintas Agama; Membangun Masyarakat Inklusif-Pluralis ini merupakan hasil pertemuan dan diskusi-diskusi untuk memikirkan ulang keberadaan fiqih di tengah perkembangan yang senantiasa meminta etika dan paradigma baru. Dan sebelum meluncur kehadapan pembaca, masing-masing bab dari buku ini sudah dipresentasikan di Hotel Kemang Jakarta dihadapan para akademisi, intelektual muda dari pelbagai disiplin ilmu yang berbeda-beda mulai dari hukum islam, sosiologi, filsafat, tasawuf, teologi, sejarah, gender, dan ushul fiqih. Tak kurang dari 20 akademisi telah mengapresiasi secara kritis. Pelbagai kritik tajampun menghunjam mulai dari metodologi sampai pada pilihan tema.

Secara umum, buku ini hendak menegaskan dua hal. Pertama, pluralisme, hubungan antar agama bukan semata-mata persoalan teologis, tetapi juga problem fiqih. Istilah teologi inklusif, teologi pluralis dan sejenisnya sudah tidak asing lagi ditelinga kita, namun ketika mendengar istilah fiqih lintas agama, suasana batin menjadi terhenyak dan bertanya-tanya. Bagaimana mungkin sebuah fiqih yang hanya dimiliki oleh islam bisa berlaku bagi semua agama-agama yang secara teologis jauh berbeda ?. Begitulah pemahaman sementara ketika melihat judul buku tersebut. Namun, saat lembaran-lembarannya dibuka, ternyata fiqih lintas agama adalah sebuah fiqih yang berbicara tentang hubungan antar agama, khususnya islam dengan agama lain.

Kedua, dengan pendekatan fiqih, wacana pluralisme tidak lagi mengawang diatas “langit-langit” teologi, tetapi lebih kearah praksis. Karena itulah, buku ini bisa menjadi salah satu jawaban atas kegelisahan banyak orang tentang melangitnya nilai-nilai inklusivisme dalam islam. Tentu saja, fiqih inklusif mengandaikan adanya teologi inklusif pula. Sebab, hanya pada teologi inklusiflah sebuha fiqih inklusif bisa dirumuskan.

Karena itulah, buku ini menjadi sangat penting sebagai landasan awal untuk merumuskan dan berbincang lebih jauh perihal fiqih lintas agama. Sudah saatnya fiqih peduli dan menghargai adanya pluralitas agama ini agar bisa tetap survive disepanjang masa.

Namun demikian, buku ini cenderung tidak gentle ketika menghadapi ayat-ayat al-Qur’an yang secara eksplisit menolak adanya pluralisme. Penulis-penulis buku cenderung mencomot sebagian ayat a-Qur’an dan menolak sebagian yang lainnya. Disinilah, sebenarnya yang harus jadi perhatian dan catatan kecil bagi pembaca juga kepada penulis buku ini. Wallahu ‘A’lam [Hatim Gazali]

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.